Selamat Idul Fitri Buat Saudara-saudara Kekasihku.

Oleh: Maridup Hutauruk

 

Sudah lebih dari setahun ini aku tidak aktif mengelola beberapa blog yang selama ini aku sediakan waktu yang intens untuk itu. Demikian pula beberapa account-ku di Jejaring social sudah beberapa bulan ini tidak pernah aku kunjungi. Cukup banyak juga pesan-pesan yang aku terima berkaitan dengan ketidakmunculanku dalam berkomunikasi sosial itu, baik melalui pesan SMS, E-mail, bahkan hubungan telepon ke HP yang tidak aku layani, tetapi aku tetap saja tidak tergerak untuk membalas semuanya itu. 

Banyak alasan kuat mengapa aku seolah mengurung diri untuk tidak menyediakan waktu untuk semua itu. Tetapi hari ini, ada dorongan hati yang kuat untuk menuliskan sesuatu yang sangat berharga yang aku alami hari ini, yang bagi kaum mayoritas Indonesia adalah hari kemenangan besar bagi keimanan mereka, setelah menjalankan Ibadah Puasa selama sekitar satu bulan ini. 

Sore ini selepas magrib setelah banyak kaum beriman berbuka puasa terakhirnya di Bulan Suci ini, terdengar bell berbunyi bernyanyi-nyanyi. Aku tidak mendengar nyanyian bell itu karena kebetulan aku lagi sibuk-sibuk menyiram tanaman dibelakang rumah selepas aku baru selesai menyetrika cukup banyak pakaianku dan pakaian dua anak-anak muda yang ada dirumah. 

Sekilas aku melihat kedua anakku terlibat percakapan disebelah dapur lantai bawah, lalu sebentar kemudian salah satu anakku yang nomor dua ‘Ekel’ datang menghampiriku sambil menenteng seperangkat rantangan dan mengatakan setengah berbisik kepadaku: 

Ekel: “Pa! Ada kedatangan tamu, itu sudah menunggu di ruang tamu!”

Aku: “Siapa tamunya!”

Ekel: “Katanya dari Pak Ucup!”

Aku: “Yah, suruh masuk, ntar papa samperi!” demikian kataku kepada Ekel sambil mencoba mengingat-ingat siapa gerangan yang disebutnya Pak Ucup! 

Sambil melepaskan selang air yang aku sedang pegang dan memutar kran-air untuk mematikan aliran air. Kemudian aku mengibas bajuku yang sedikit basah, aku melangkahkan kaki menuju ruang-tamu untuk menyapa tamuku itu. Sesampai aku di ruang-tamu, terlihat olehku seorang ibu yang sedang menggendong bayinya sedang duduk dan menoleh kepadaku sambil tersenyum. 

Ibu Ucup: “Assalam mualaikum Pak Maridup!” demikian sapanya sambil bangkit berdiri dari duduknya.

Aku: “Walaikum salam, bu! Silahkan duduk!” Aku masih belum mampu mengingat siapa Ibu Ucup ini, tetapi aku mempersilahkannya duduk sambil menawarkan maunya minum apa.

Ibu Ucup: “Ngga usah repot pak! Aku hanya sebentar saja, karena kangen saja dan kebetulan tadi dipesankan sama bapaknya (suaminya) untuk mampir ke bapak (aku).” Lalu dia melanjutkan pembicaraannya: “Apa kabar Bu Nelly! Onco dan Ciko, sehat-sehat ya pak! Kok mereka ngga dibawa?”

Aku: “Ya, mereka sehat-sehat semua di Medan, saya yang sedikit kurang sehat, datang kesini ngurusin si Ekel mau kuliah!”

Ibu Ucup: “Bapak memang terlihat kurus sekali, memangnya sakit apa, bapak!”

Aku: “Saya hampir sebulan sakit di Medan, banyaklah sakitnya; asam lambung kumat, asam urat kumat, sampai-sampai diare lagi, dan sekarang ini suarapun serak parah!” demikian kataku menjelaskan. 

Aku jadi teringat dengan si-ibu ini, Ibu Ucup adalah istri dari karyawanku yang sudah sekitar dua tahun ini dirumahkan karena perusahaan yang aku kelola sudah tutup akibat kebijakan pemerintah yang kurang berpihak. Pak Ucup dulunya adalah seorang security di Perusahaan itu dan pada waktu itu walaupun Perusahaan sudah tutup dan semua karyawan sudah dirumahkan tetapi Pak Ucup masih tetap dipakai si-Nyonya (istri) untuk bekerja bantu-bantu kegiatannya di rumah sampai beberapa lama sebelum mereka (istriku dan dua anak-anakku) pindah ke Medan untuk urusan pengobatan anak-anak yang sakit kronis, termasuk kepindahan mereka untuk bersekolah di Medan. 

Ibu Ucup: “Alhamdulillah ya pak, Onco dan Ciko jadi sehat di Medan! Kalau ingat-ingat repotnya si Ibu ngurusin mereka, sakitnya!, sekolahnya!” demikian bu-Ucup menyambung pembicaraan.

Aku: “Ya, begitulah jalan terbaik. Tapi saya yang jadi repot sekarang ini, harus bulak balik Medan-Jakarta-Medan, paling tidak sebulan-duabulan harus bulak balik demi anak-anak!” kataku menjelaskan. “Waduh… bu-Ucup! Terima kasih ya sudah dibawakan makanan. Seharusnya ada balasnya yang harus saya beri untuk si-Kecil ini (bayinya), tapi maklum ya bu-Ucup, ngga bisa kasih apa-apa kali ini ya!”

Ibu-Ucup: “Ngga apa-apa pak! Doa-nya sudah cukup pak! Biar tambah rejeki si anak ini, bapaknya (suaminya) juga kerjanya baik-baik aja, salam dari si-bapaknya buat bapak!”

Aku: “Ini anak perempuan ya!” aku melihat anting tersemat ditelinga bayi barunya itu dan beberapa keeping gelang emas ada di tangan kiri si bayi.

Ibu Ucup: “Iya pak, dia lahir dioperasi cesar, alhamdulillan selamat dan sehat-sehat sekarang. Udah pak! Saya pamit dulu, salam dari bapaknya (Pak Ucup). Titip salam juga buat Bu Nelly dan anak-anak yang di Medan.” 

Ibu Ucup bangkit dari duduknya, kemudian mendekat kepadaku sambil menyodorkan tangannya untuk salaman sambil mencium tanganku tanda masih hormat kepada majikannya dulu. Aku mengarahkannya menuju gerbang depan sambil membukakan pintu. Aku melihat si ibu dan bayi itu melangkahkan kakinya menjauh dari rumah menyusuri jalan komplek dan menghilang dari pandangan. 

Hati sanubari tersentuh oleh kedatangan si-ibu ini. Tidak disangka-sangka kunjungan singkat seperti ini mengingatkan sebuah kenangan lama dimasa sukses dahulu, sementara banyak orang yang dikasihi terasa melupakan semuanya perjuangan yang dikelola bersama. Pikiran terngiang dan menerawang ke tiga tahun kebelakang mengingatkan semua peristiwa indah dan pahit di masa dahulu itu. Yahhh… itulah hidup! 

Aku berjalan menuju meja makan dimana penganan yang dibawa Ibu-Ucup tadi sudah terpampang. Terlihat beberapa potong Ayam-Semur Kecap, Tiga Buah Ketupat, dan Sambal Kentang-hati. Tergiur pula aku untuk mencicipinya, kebetulan perut sudah waktunya untuk diisi pada jam malam seperti ini. Aku menuju dapur untuk mengambil piring, sendok, garpu, dan pisau. Aku belah sebuah ketupat dan memotong-motongnya berbentuk kubus kecil-kecil, lalu aku siramkan kuah semur dan sepotong daging ayam dan diatasnya kutaburi dengan kentang-hati sambal itu, lalu menikmati makanan itu. Sedap rasanya. 

Sambil menikmati makanan itu, aku teringat akan keluargaku yang muslim. Keluarga Paman dan Bibiku serta semua keluarga Saudara-sepupuku tentu saja menikmati hari kemenangan seperti yang aku rasakan saat ini. Aku belum mengucapkan sesuatu kepada mereka yang nun jauh di sana di Sibolga. Teringat pula kepada mereka ketika beberapa bulan lalu bertemu dalam sebuah pesta pernikahan keluarga di Tarutung. Cukup banyak canda-tawa ketika itu, sambil senda-gurau cekikikan untuk sebuah topik pembicaraan yang lucu. Memang indah sebuah persaudaraan yang bermacam ragam. 

Perangkat piring aku kumpulkan karena hari ini aku telah dicukupkan dengan makanan pemberian yang nikmat dari saudara-jauh yang aku kasihi. Terasa makanan ini menadi pengobat yang menambah kesembuhan dari pemulihan kesehatanku. Aku tidak perlu khawatir dengan aturan makanan yang takut akan memicu Penyakit Asam-Lambung dan Penyakit Asam-Urat, tetapi nikmatnya makanan pemberian ini meyakinkanku untuk menuju gemuk dan tidak kurus lagi. 

Selamat Idul Fitri 1433-H untuk saudara-saudara yang aku kasihi. Minal aidin walfaidzin, As-Salāmu `alaykumu wa rahmatu l-lāhi wa barakātuh, Amin.

Polwan 63 Tahun

Oleh Maridup Hutauruk

Hari ini, Kamis 1 September 2011, Polwan (Polisi Wanita) memperingati Hari Jadinya yang ke-63 tahun. Hanya 2 tahun setelah resminya Polisi Republik Indonesia terbentuk, yaitu 1 Juli 1946, yaitu pada tahun 2011 ini sudah 65 tahun Polisi Indonesia menjadi perangkat Negara sebagai bagian dari pemerintah untuk ikut mengelola Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan fungsinya.

Apa yang sudah dicapai oleh Kepolisian Indonesia tentunya sudah banyak tercatat dalam sejarah perjalanannya sejak Indonesia merdeka dari penjajahan.  Pencatatan sejarah perjalanan panjang itu bukanlah lebih penting dibanding dengan pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat, dan tentunya masyarakatlah yang lebih adil untuk menilai bentuk-bentuk pelayanan yang diberikan oleh Polisi Indonesia. (more…)

Bolehkah Kasus Nazaruddin Menjadi Pemicu Berdirinya Negara Indonesia Baru Yang Bersih Menuju Adil dan Makmur? Sangat diyakini bahwa kebanyakan masyarakat bukan memihak kepada seorang Nazaruddin, karena dianya juga berada dalam lingkaran yang menjadi lingkungan yang penuh dengan kecurigaan sebagai matarantai pelaku-pelaku korupsi. Tetapi kasus-kasus yang dinyanyikan olehnya memang menjadi perhatian yang sudah lama tertanam dihati sanubari masyarakat Indonesia yang sedari dulu mencita-citakan kehidupannya yang adil dan makmur. (more…)

 

Mati aja… atau Merdeka..!

Sumber: Photobucket

Melihat Sumatera Dari Lintas Tengah

(Jakarta – Medan Menyetir Sendiri)

Oleh:  Maridup Hutauruk

 

Setir Sendiri 

Sudah sekitar dua tahun penulis tidak melintasi Jalur Lintas Sumatera dimana selama tiga tahun sebelumnya selalu dilintasi tiga atau empat kali per tahun baik Lintas Timur, Lintas Tengah, Lintas Barat. Banyak melihat menjadi banyak tau, mungkin menjadi salah satu motivasi sehingga penulis lebih menikmati perjalanan yang selalu dilakukan berulang kali bahkan sudah puluhan kali dilakukan.

 Kebetulan masa liburan sekolah maka kali ini penulis bersama istri dan dua anak terkecil berniat melintasi Lintas Tengah Pulau Sumatera. Cukup seorang diri saja yang menyetir dalam menempuh perjalanan hampir 2.500 Km itu. Tak ada yang perlu dikawatirkan, walau biasanya perjalanan seperti ini selalu didampingi oleh teman atau supir untuk bergantian melintasi Pulau Sumatera ini. Tak apalah, sebelumnya sudah pernah dua kali perjalanan hanya disupiri sendiri, mengapa pula kali ini tidak! Lagi pula perjalanan ini bersifat privasi bersama istri dan anak-anak.  (more…)

GANJA, PENJARA PENUH DAN KONTROVERSI EFEK NEGATIFNYA adalah judul sebuah artikel Oleh Maridup Hutauruk.

Artikel dalam format PDF, silahkan Klik >>>Ganja, Penjara Penuh dan Kontroversi Efek Negatifnya

Supatra Sasuphan

Pada awal Desember 2006, Mail Online dari dailymail.co.uk memberitakan seorang gadis kecil berusia 6 tahun bernama Supatra Sasuphan dengan nama panggilan Nat asal Thailand mengalami kondisi tubuh yang sangat langka yang disebut Ambras syndrome (Congenital Hypertrichosis) dimana sekujur tubuh terutama wajahnya ditumbuhi bulu (rambut) yang berlebihan sehingga orang-orang menggelarinya ‘Si Wajah Monyet’ (more…)