Artikel ini adalah sebuah otokritik yang pasti pernah dialami oleh penulis, baik yang dilakukan sendiri sehingga orang lain mengalami seperti apa yang dipaparkan atau yang pernah dilakukan oleh orang lain sehingga sipenulis mengalami juga seperti yang dipaparkan. Kerinduannya adalah agar penulis dan orang lain tidak perlu mengalaminya lagi.

 

 

Aku seorang binatang

Aku seorang binatang

Menurut Charles Darwin dengan teori evolusinya bahwa sebelum menjadi manusia aku adalah binatang. Saudara terdekatku adalah Orang Utan, Simpanse, atau bonobo. Maka sekarang menjadilah aku seorang binatang. Bagaimana berani mengatakan aku seorang binatang? Beginilah ceritanya:

 

 

 

1. Aku sedang berjalan kaki dikeramaian lalu lintas jalan raya. Walaupun ada jalur pejalan kaki tetapi aku lebih senang mengambil bagian jalan beraspal yang sebenarnya dikususkan untuk kendaraan. Oleh karena sudah aku ambil hak lalu lintas kendaraan, maka kendaraan-kendaraanpun menjadi terhambat dan menjadi macet. Aku merasa enak berjalan walau orang lain menjadi kesusahan tak perlu aku pusingkan karena AKU SEORANG BINATANG.

2. Aku berjalan kaki bergandengan dengan seorang anakku di jalan beraspal yang sebenarnya dikhususkan untuk dijalani kendaraan. Pada saat berjalan, aku menggandeng anakku disebelahku arah ketengah jalan sementara aku disebelah pinggir karena aku berpikir bahwa kalaupun harus terjadi ada yang menabrak maka anakku yang lebih mungkin tertabrak daripada aku dan aku merasa lebih berhak untuk selamat daripada anakku karena AKU SEORANG BINATANG.

3. Aku berjalan kaki bergerombol dengan teman-temanku dijalan aspal yang sebenarnya dikhususkan untuk dijalani kendaraan. Tetapi karena aku lebih asik berjalan berbarenagan sambil cekikikan dengan teman-temanku maka aku tak perdulikan kendaraan yang lintas mendapat kesulitan dan bahkan menjadi macet. Walaupun ada yang membunyikan klakson aku tak perlu pikirkan yang penting aku dapat berjalan sesukaku tanpa ada gangguan karena AKU SEORANG BINATANG.

4. Aku mengendarai sepeda motorku di jalan raya dan meliuk-liuk sesukaku sehingga pemakai jalan raya lainnya terganggu bahkan panik karena takut kalau-kalau terjadi kecelakaan. Aku tidak perduli malah merasa bangga berani unjuk jago di jalan raya dan malah merasa senang bila orang lain terganggu karena memang AKU SEORANG BINATANG.

5. Aku mengendarai sepeda motorku beriringan dengan sebuah mobil disebelah kananku. Sesaat aku berniat untuk berputar arah ke jalan disebelah maka dengan tiba-tiba aku mendahului dan langsung berbelok arang sehingga kendaraan yang disebelah kananku terkaget dan mengerem tiba-tiba untuk menghindari menabrak aku. Aku tak ambil pusing apakah dia menjadi kaget yang penting bagiku dapat berputar arah sesuai kemauanku karena memang AKU SEORANG BINATANG.

6. Aku mengendarai mobil dijalan raya dan mengambil posisi di jalur kanan dengan kecepatan rendah walaupun didepanku kosong kendaraan sehingga kendaraan lain yang seharusnya lebih cepat tidak boleh melaju dan memaksa dia menyalip dari sebelah kiriku. Aku merasa berhak menjalakan kendaraanku  dengan lambat sesuka hati karena aku toh membayar pajak juga dan aku tak perlu ambil pusing untuk itu karena AKU SEORANG BINATANG.

7. Aku mengendarai mobilku dijalan raya dua jalur. Aku mengendarai nya ditengah-tengah persis mengangkangi garis putih ditengah jalan. Kendaraan yang ada dibelakangku di dua jalur di sebelah kiri dan disebelah kanan tidak dapat mendahuluiku karena memang tidak cukup ruang bagi mereka untuk lewat baik dari kiriku maupun dari kananku. Karena demikian maka didepanku kosong kendaraan sementara dibelakangku menumpuk karena tak boleh lewat mendahului. Aku tak perlu pikiri karena memang AKU SEORANG BINATANG.

8. Aku sedang mengendarai kendaraanku dijalan raya yang berada dijalur tengah. Aku ingin berbelok ke kiri di persimpangan dan tanpa memberi aba-aba dengan lampu signal maka langsung kubelokkan kekiri. Kendaraan yang ada dijalir kiri yang telah mempersiapkan dari jau untuk berbelok tiba-tiba harus mengerem kaget karena tidak menyangka aku akan membelok. Aku tak perlu pikiri karena AKU SEORANG BINATANG.

9. Aku mengendarai kendaraan yang berhenti persis pada posisi paling depan di lampu stopan yang sedang merah. Kendaraan2 bergerak silih berganti pada jalurnya sesuai dengan urutan pengaturan lampu pemberhentian. Karena aku merasa sudah lama menunggu giliran maka kesabaranku hilang, lalu menganggap kesempatan urutanku sudah tiba walau lampu masih merah, maka aku menggerakkan kendaraanku yang menyebabkan kendaraan yang mengambil kesempatan lewat pada saat lampu masih kelap-kelip kuning berhenti berpalang dengan kendaraanku. Kemacetan terjadi karena ulahku dan aku tak perdulikan itu karena AKU SEORANG BINATANG.

10. Aku berhenti dibelakang sebuah kendaraan yang ada didepanku sedang berhenti karena lampu sedang merah. Karena aku menganggap lampu akan segera berganti hijau, walaupun masih merah maka aku membunyikan klakson berulang-ulang memaksa kendaraan didepanku segera berjalan walaupun lampu stopan masih bertanda merah. Kebisingan klaksonku untuk memaksa tak perlu kupikiri karena AKU SEORANG BINATANG. 

11. Aku mengendarai kendaraanku tetap melaju sesaat setelah lampu stopan berubah menjadi merah karena aku menganggap masih punya kesempatan melewati persimpangan. Karena aku memaksakan kehendakku maka semua kendaraan yang sudah gilirannya bergerak sewaktu tanda lampu sudah berubah hijau terpaksa harus berhenti mengerem tiba-tiba agar tidak menabrak aku. Akibat perbuatanku maka kendaraan-kendaraan yang sudah punya hak untuk berjalan terpaksa harus berhenti. Kejadian itu tak perlu kusesalkan karena memang AKU SEORANG BINATANG

12. Kendaraan2 didepanku sudah memperlambat laju kendaraan mereka karena menuju lampu pemberhentian di persimpangan tiga. Karena jalan hanya berjalur dua, dan satu jalur kanan untuk menunggu giliran lampu sementara jalur kiri untuk kendaraan yang bebas bergerak membelok kekiri. Karena aku tidak ingin menunggu giliran di bagian belakang, maka aku mengambil jalur di kiri dan berhenti untuk menunggu giliran lampu sehingga kendaraan yang seharusnya bebas berbelok kekiri tidak boleh lewat dan terpaksa harus berhenti karena aku dan mengakibatkan kemacetan. Walaupun aku sadar bahwa klakson yang berbunyi-bunyi dibelakangku adalah meminta jalan karena memang hak mereka, namun aku pura-pura tidak mau tau karena memang AKU SEORANG BINATANG

13. Aku sedang berhenti disebuah persimpangan lampu stopan menunggu giliran hijau, tetapi aku menghentikan kendaraanku menutupi Zebra Cross sehingga pejalan kaki yang berhak untuk lewati di Zebra Cross tidak dapat melintas karena ulahku. Emang gua pikirin… karena AKU SEORANG BINATANG.

14. Aku mengendarai mobilku oleh karena macet dan berderet-deret mobil lainnya didepanku untuk berharap macet cepat mencair. Aku memencet klakson berulang-ulang memaksakan kehendakku agar mobil didepanku menjalankan kendaraannya yang sudah tak mungkin karena memang macet. Bunyi klaksonku membuat bising tapi aku tak perduli karena AKU SEORANG BINATANG.

15. Aku mengendarai kendaraanku di jalan dua jalur yang sempit. Karena aku ingin  agar aku selalu di depan kendaraan lainnya maka aku memaksakan untuk mendahului kendaraan didepanku dengan mengambil jalur berlawanan disebelah kananku. Sewaktu akan mendahului maka kendaraan berlawanan terpaksa harus berhenti tak dapat lewat karena aku memaksa melawan jalurnya sehingga terjadi macet. Emang gua pikirin kataku karena AKU SEORANG BINATANG.

16. Aku sedang mengendarai mobilku di jalan tol dan tertera batas kecepatan 60 km/jam dan max 100 km/jam. Aku melihat petunjuk bawa jalur kiri untuk kendaraan lambat, jalur tengah untuk kendaraan lebih cepat, dan jalur paling kanan hanya untuk kendaraan yang mendahului. Karena aku merasa membayar jalan tol maka kendaraanku kujalankan tenang-tenang dengan kecepatan 60 km/jam di jalur paling kanan sehingga kendaraan yang lebih cepat kupaksa berjalan dari kiri. Aku merasa sudah memiliki jalan tol itu dan orang lain tak kuperdulikan karena AKU SEORANG BINATANG.

Artikel ini dipetik dari Maridup’s Site http://maridup.multiply.com

Masih Bersambung……..