sby-photo-1707sKawan-kawan yang mungkin belum sempat membaca pidato Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bentuk konferensi pers yang dilakukan di halaman Istana Presiden yang dihadiri oleh berbagai media, baik cetak, radio dan televisi. Oleh karena itu perlulah direkam dalam artikel ini agar menjadi domain dan setiap saat diperlukan menjadi berguna bagi siapapun yang memerlukannya. 

Kalau media lain membuat judulnya bermacam-macam, maka pada artikel ini adalah satu macam diantaranya. Kok judulnya “Pidato Bom SBY” tentu agar gampang mengingatnya bahwa pidato ini disampaikan karena ada peristiwa bom yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2009 sekitar jam 07:45 WIB di dua tempat di Hotel JW Marriot dan Hotel The Ritz Carlton yang menelan banyak korban mati dan luka-luka. 

Truzz… mungkin yang baca akan Tanya pula; “Kok judulnya, sepertinya nggak sesuai dengan kaidah tatabahasa Indonesia?” Ya…, sebenarnya setiap kata pada judul sudah pasti memiliki arti. Pidato adalah kata benda (Noun), Bom juga kata benda (Noun), SBY adalah kata benda sebutan (Proper Name). Kalau disesuaikan dengan hokum DM (Diterangkan-Menerangkan) maka judul itu sudah sesuai dong…, Pidato yang diterangkan, Bom SBY yang menerangkan. Kalau kita pinjam contoh misalnya; Sepatu Batu Yenny, artinya Sepatu si-Yenny yang terbuat dari Batu. Kalau ada sepatu kaca tentu ada juga dong sepatu batu. 

Kira-kira jam 14:00 WIB tanggal 17 Juli 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidatonya, setelah tertunda pada pagi harinya karena mepet waktu dengan sholat Jumat setelah selesai mengadakan rapat dengan para petinggi keamanan Negara seperti dari BIN dan Polri. 

Kalau kita mendengar langsung melalui tayangan televise tentu akan lebih merasuk segala ucapan yang disampaikan oleh Bapak Presiden kita ini, karena mimik, raut muka, gerak tubuh akan lebih memaknai bahasa yang keluar dari ucapan, sehingga gampang memaknai arti dari pidato yang disampaikan. Khususnya untuk pidato kali ini dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menurut penulis adalah pidato yang paling menarik dan mengagumkan karena cara dan gaya penyampaiannya lantas bolehlah disetarakan sebagai pidato seorang bangsawan ketimbang seorang negarawan, terlepas dari isi pidato yang disampaikan. 

Berikut adalah pidatonya: 

“Hari ini adalah titik hitam dalam sejarah kita, terjadilagi serangan atau pengeboman yang dilakukan kaum teroris di Jakarta. Aksi terror ini diperkirakan dilakukan oleh kelompok teroris meskipun belum tentu jaringan terorisme yang kita kenal selama ini terjadi di bumi Indonesia,” yang menimbulkan derita dan kesulitan yang dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia.  Aksi yang tidak berperikemanusiaan ini juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka bagi mereka yang tidak berdosa. Karena itu, dalam kesempatan ini atas nama Negara dan pemerintahan dan selaku pribadi, bagi para keluarga yang ditinggalkan, saya mengucapkan turut berbelangsungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga saudara-saudara kita yang menjadi korban, hidup tenang disisi Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Aksi pengeboman yang keji dan tidak berperikemanusiaan ini, serta tidak bertanggung jawab ini terjadi ketika baru saja bangsa Indonesia melakukan pemungutan suara dalam rangka pemilihan presiden dan wakil presiden, dan ketika KPU sedang menghitung hasil pemungutan suara itu. Kejadian ini yang sangat merusak keamanan dan kedamaian di negeri ini, juga terjadi ketika rakyat sungguh menginginkan suasana yang tepat, aman, tenang, dan damai. Dan justru rakyat ingin agar selesainya Pemilu 2009 ini, kita semua segera bersatu, membangun kembali Negara kita untuk kepentingan rakyat Indonesia. 

“Terus terang juga, aksi pengeboman ini terjadi ketika rakyat merasa prihatin atas kegaduhan politik di tingkat elit disertai sebagaimana yang saya ikuti setiap hari, ucapan-ucapan yang bernada menghasut dan terus memelihara suhu yang panas dan penuh dengan permusuhan yang itu sesungguhnya bukan menjadi harapan rakyat setelah mereka semua melaksanakan kewajiban demokrasinya beberapa saat yang lalu.” 

Saya yakin, hampir semua diantara kita merasa prihatin, berduka, dan menangis dalam hati, seperti yang saya rasakan. “Memang ada segelintir orang di negri ini yang sekarang tertawa puas, bersorak dalam hati, disertai nafsu amarah dan keangkaramurkaan. Mereka segelintir orang itu tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tidak peduli dengan kehancuran Negara kita akibat aksi terror ini yang dampaknya luas bagi ekonomi kita, iklim usaha kita, kepariwisataan kita, citra kita dimata dunia, dan lain-lain lagi.” Saat ini disamping pemerintah manjalankan kegiatan tanggap darurat untuk merawat saudara-saudara kita yang menjadi korban dalam aksi pengeboman ini, investigasi juga telah dilakukan. Saya telah menerima laporan awal dari investigasi yang sedang berlangsung ini. Setelah saya menerima laporan awal, saya telah menginstruksikan kepada Polri, Badan Intelijen Negara, dan badan lembaga-lembaga lain terkait untuk melakukan investigasi secara cepat dan menyeluruh serta mengadili pelaku-pelakunya sesuai ketentuan hukum yang berlaku. “Saya yakin sebagaimana yang saya ungkapkan diwaktu yang lalu, para pelaku dan mereka yang menggerakkan aksi terorisme ini akan dapat kita tangkap dan kita adili secara hukum. Saya juga menginstruksikan kepada para penegak hukum untuk juga mengadili siapa saja yang terlibat aksi terorisme ini, siapapun dia, apapun status dan latar belakang politisnya.” 

“Pagi ini saya mendapat banyak sekali pertanyaan. Kalau aksi terror ini berkaitan dengan hasil pemilihan presiden sekarang ini, saya meresponnya sebagai berikut, kita tidak boleh main tuding dan main duga begitu saja.” Semua teori dan spekulasi harus bisa dibuktikan secara hukum. Negara kita adalah Negara hukum dan Negara demokrasi. Karena itu, norma hukum dan norma demokrasi harus betul-betul kita tegakkan. Bila seseorang bisa dibuktikan bersalah secara hukum baru kita bisa mengatakan yang bersangkutan bersalah. 

“Saya harus mengatakan untuk yang pertamakalinya kepada rakyat Indonesia bahwa dalam rangkaian Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden 2009 ini memang ada sejumlah intelijen yang dapat dikumpulkan oleh pihak yang berwenang. Sekali lagi, ini memang tidak pernah kita buka kepada umum, kepada publik, meskipun kita pantau dan kita ikuti. Intelijen yang saya  maksud adalah adanya kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya. Foto SBY dijadikan sasaran, dijadikan lintasan tembak.” 

Saya tunjukkan, ada rekaman videonya. Ini mereka yang melatih menembak (sambil menunjukkan foto-foto yang didapat dari Badan Intelijen). Dua orang menembak pistol. Ini sasarannya, dan ini foto saya dengan perkenaan tembakan di wilayah muka saya, dan banyak lagi. Ini intelijen, ada rekaman videonya, ada rekaman gambarnya, bukan fitnah bukan isu. Saya mendapat laporan ini beberapa saat yang lalu. “Masih berkaitan dengan intelijen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu. Adapula rencana untuk pendudukan paksa KPU saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. Ada pernyataan akan ada revolusi jika SBY menang. Ini intelijen, bukan rumourn bukan isu, bukan gossip. Ada pernyataan; kita bikin Indoneia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan; bagaimanapun SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu. Dan puluhan intelijen lain yang sekarang berada di pihak yang berwenang.” 

Tadi pagi, terus terang, sebagaimana kebiasaan saya, saya ingin langsung datang ke lokasi. Kapolri dan semua pihak menyarankan jangan dulu, karena memang belum steril, masih dibersihkan, masih disisir, dan ancaman setiap saat bisa dating, apalagi dengan contoh yang saya sampaikan tadi, ancaman fisik. Tetapi hidup dan mati ada di tangan Allah SWT, tidak boleh terhalang untuk menjalankan tugas saya, untuk rakyat, untuk negri ini. Dan, karena pengaman presiden itu berada di pundak TNI, saya yakin TNI telah mengambil langkah-langkah seperlunya. 

“Terhadap semua intelijen itu, apakah terkait aksi pengeboman hari ini atau tidak terkait, saya menginstruksikan kepada semua jajaran hukum untuk menjalankan tugasnya dengan benar, objektif, tegas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Andaikata tidak terkait ancaman-ancaman yang tadi itu, dengan aksi pengeboman hari ini, tetaplah harus dicegah, harus dihentikan, karena anarkhi, tindakan kekerasan, perusakan, tindakan melawan hukum, bukan karakter demokrasi, bukan karakter Negara hukum.” Sangat jelas, atas semuanya ini, saya selaku kepala Negara dan kepala pemerintahan, mengutuk keras aksi terror yang keji ini. Saya juga sangat prihatin dengan kejadian ini. “Barangkali atau biasanya dalam keadaan seperti ini, banyak diantara kita yang kurang berani menyampaikan kecaman dan kutukannya, barangkali karena karena pertimbangan politik. Saya dengan bahasa terang harus menyampaikan seperti itu, karena demikian amanah saya sebagai kepala Negara.”

Mengapa saya sangat prihatin? Pertama; lima tahun ini ekonomi kita tumbuh dengan baik, dunia usaha, kepariwisataan, swasembada pangan, investasi, perdagangan, sector riel, semua bergerak meskipun kita menghadapi krisis-krisis global yang dating silih berganti. Yang kedua; satu minggu terakhir ini saja, nilai saham kita menguat tajam, nilai tukar rupiah pun menguat. Dengan ekonomi yang terus tumbuh, kesejahteraan rakyat kita sesungguhnya secara bertahap terus juga meningkat, termasuk dapat dilaksanakannya program-program pengurangan pengangguran atau yang sering saya sebutkan dengan program prorakyat, semua itu terjadi tahun-tahun terakhir ini, nagara kita benar-benar aman dan damai sehingga disamping ekonomi tumbuh, rakyat diseluruh pelosok tanah air bisa bekerja, bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan tenang, bebas dari rasa ketakutan. Sementara itu, citra kita di mata dunia tahun-tahun terakhir ini juga makin meningkat, karena dunia menilai Negara kita makin aman, tertib, dan damai. Negara kita memiliki kehidupan demokrasi yang makin mekar, serta penghormatan kepada hak azasi manusia semakin baik, dan Negara yang berperan dalam percaturan global. “Bahkan, ini yang sangat memilukan, sebenarnya kalau tidak ada kejadian ini, klub sepak bola terkenal di dunia, Mancester United, berencana untuk bermain di Jakarta.” 

Dengan aksi-aksi terror yang keji dan tidak bertanggungjawab ini, apa yang kita bangun hampir lima tahun terakhir ini, lagi-lagi harus mengalami guncangan dan kemunduran. Lagi-lagi dampak buruknya harus dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia, minus mereka yang melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab itu. Karena itu, kebenaran dan keadilan, serta tegaknya hukum harus diwujudkan. “Saya bersumpah, demi rakyat Indonesia yang sangat saya cintai, Negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan yang tegas, tepat, dan benar, terhadap pelaku pengeboman ini berikut otak dan penggeraknya ataupun kejahatan-kejahatan lain yang mungkin atau dapat terjadi di negri kita sekarang ini.” 

Kepada Polri, TNI, BIN, termasuk para gubernur, bupati dan walikota, saya minta untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terus berusaha keras mencegah aksi-aksi terror. “Dan kemudian yang lebih penting lagi, para penegak hukum harus betul-betul mencari, menangkap, dan mengadili para pelaku, para penggerak, dan otak dibelakang kekerasan ini. Barangkali ada diantara kita, yang diwaktulalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang. Barangkali. Dan para pelaku itu barangkali masih lolos dari jeratan hukum. Kali ini Negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negri kita.” Saya tahu selama lima tahun ini pihak kepolisian telah berkali-kali mencegah dan menggagalkan aksi terorisme. Telah bisa menyita bahan peledak yang siap diledakkan, sudah bisa membongkar beberapa jaringan, meskipun lolos hari ini, terjadilah musibah yang sangat merobek keamanan dan nama baik bangsa dan Negara kita. 

Agar tugas untuk mencegah dan memberantas terorisme ini serta kejahatan-kejahatan yang lain, dapat dilaksanakan dengan baik. Intelijen harus benar-benar tajam. Pencegahan harus benar-benar efektif. Polri, BIN, TNI, harus benar-benar bersinergi, sikap lengah dan menganggap ringan sesuatu harus dibuang jauh-jauh. Ini amanah kita kepada rakyat, kepada Negara. 

Kepada rakyat Indonesia seraya juga meningkatkan kewaspadaan, tetaplah menjalankan profesi dan kehidupan saudara secara normal. Jika ada keganjilan, segera beritahu Polri. Jangan biarkan kaum teroris beserta otaknya berkeliaran disekeliling saudara. Saudarapun bisa menjadi korban setiap saat manakala kaum teroris itu dibiarkan merancang lagi aksi-aksi terornya di negeri kita ini. Selanjutnya kedepan, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, seluruh komponen bangsa, untuk marilah kita lebih bersatu dan menjaga keamanan dan perdamaian di negri ini. 

“Bangsa manapun, agama apapun, kita semua tidak membenarkan terorisme, apapun motif dan alasannya. Jangan ragu-ragu, jangan setengah hati, dan jangan takut untuk mencegah dan memberantas terorisme.” Sementara itu, aksi terror yang terjadi hari ini, jangan pula menghalangi semangat dan upaya kitauntuk membangun dan memajukan Negara kita ini. Kita terus berjuang dan membikin lebih baik, demokrasi dan penghormatan HAM lebih baik, penegakan hukum, pembangunan daerah, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan sebagainya. 

Memang ada kerusakan akibat aksi terorisme hari ini. Mari bersama-sama kita perbaiki dan kemudian mari kita terus bangkit dan maju kembali. Kita bangsa, Negara, rakyat, tidak boleh kalah dan menyerah kepada terorisme. Tidak boleh membiarkan kekerasan ekstrimitas, dan kejahatan-kejahatan lain terus tumbuh di negri ini. Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT akan melindungi kehidupan bangsa Indonesia. Dan dengan mohon ridha Allah SWT, saya sampaikan kepada rakyat Indonesia, saya akan terus berada di depan untuk menghadapi ancaman dan tantangan ini, serta untuk mengemban tugas yang berat namun mulia ini.

Itulah pidato yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Selamat menikmati.

Back home again to see more>>>