Bomb Marriott & Ritz Carlton

Bomb Marriott & Ritz Carlton

Masih banyak yang menganggap bahwa angka 13 merupakan angka mistis. Apa benar angka 13 adalah angka mistis? Angka 13 disebut juga sebagai bilangan primer (primary number) yang artinya sebuah bilangan angka yang hanya dapat dibagi dengan angka 1 dan angka dirinya sendiri untuk hasil bilangan bulat (bukan pecahan) yaitu angka 13 sendiri. 13 dibagi dengan 1 menghasilkan 13, sedangkan 13 dibagi dengan 13 menghasilkan 1. Bagaimana pula bila angka yang ada pada angka 13? Kita boleh coba menjumlahkan angka 1 dan angka 3 akan dihasilkan angka 4. Angka 4 secara visual dapat menggambarkan sebuah bidang. Bidang dapat diartikan sebagai bentuk bangunan atau gedung dua dimensi. Bila kita membuat pengurangan angka-angka yang terdapat pada angka 13 maka kita dapatkan angka 3 dikurangi angka 1 menghasilkan angka 2. Kalau angka 2 bolehlah kita sebut sebagai angka yang memulai pembilangan misalnya dimulai dari 1, 2, … Anda boleh menguak kemisteriusan angka 13 menurut versi anda. Silahkan…. 

Barusaja kita digemparkan oleh ledakan bom yang menghancurkan 2 gedung secara berurutan dimulai dengan ledakan bom di Hotel JW Marriott dan disusul ledakan bom berikutnya di hotel The Ritz Carlton. Banyak yang tewas dan luka-luka. Kejadian tersebut terjadi pada sekitar jam 07:45 WIB tanggal 17 Juli 2009 kebetulan hari Jumat. Anda coba cari sendiri hubungan Jumat 17 dengan Friday The Thirteen ! 

Selepas kejadian pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton maka seluruh rakyat Indonesia terpana bahwa terorisme masih saja merajalela di Indonesia tercinta. Seolah Indonesia sudah ditakdirkan menjadi negara yang paling sering mengalami terror bom untuk sebuah negara yang tidak dalam keadaan perang. Hal ini tercatat ada tak kurang dari 100 kali peledakan bom sejak pertama sekali terjadi pada upaya pembunuhan Presiden Indonesia Pertama Soekarno di tahun 1962 sampaikejadian terakhir ini pada Jumat 17 Juli 2009. 

Apa yang dialami oleh Bangsa Indonesia tentu tergambar pada Pidato resmi yang disampaikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Konferensi Pers dihadapan para wartawan dari berbagai media. Ada pokok-pokok yang penting yang perlu kita cermati dari pidato bapak presiden, yang menggambarkan suasana sebenarnya dari Negara Republi Indonesia ini. Kita coba petik kalimat-kalimat penting dari pidato resmi tersebut, antara lain: 

1. “Hari ini adalah titik hitam dalam sejarah kita, terjadilagi serangan atau pengeboman yang dilakukan kaum teroris di Jakarta. Aksi terror ini diperkirakan dilakukan oleh kelompok teroris meskipun belum tentu jaringan terorisme yang kita kenal selama ini terjadi di bumi Indonesia,” 

>>> Mungkin semua rakyat Indonesia sudah kenyang diberitakan tentang kegiatan teroris yang sebelumnya marak terjadi di Indonesia yang juga menggemparkan dunia. Sudah secara resmi terungkap bahwa JI dan jaringannya masih sebagai kelompok teroris yang telah terbukti secara hukum sebagai pelaku terror atas serangkaian kejadian di Indonesia. Namun Bapak Presiden masih tidak secara tegas menjatuhkan tuduhan kapada jaringan teroris tersebut padahal gembongnya masih jelas berkeliaran belum tertangkap sampai sekarang. Ada pula dibuka ruang lain oleh Bapak Presiden bahwa ada alternatif jaringan teroris lain sehingga dengan sendirinya rakyat akan semakin khawatir mereka ternyata telah dikelilingi teroris disekitarnya. Aparat keamanan yang mengambil peran untuk menuntaskan eksistensi jaringan terorisme di Indonesia akan terpecah pemikirannya untuk menelusuri jaringan lainnya sementara jaringan teroris yang sudah terdata masih belum tuntas diselesaikan. Jadi terbukalah wacana tidak hanya satu jaringan terorisme yang harus diperangi oleh Indonesia. JI bukanlah otak, tetapi tangan-tangan jahil yang diperintah oleh otak. 

2. “Terus terang juga, aksi pengeboman ini terjadi ketika rakyat merasa prihatin atas kegaduhan politik di tingkat elit disertai sebagaimana yang saya ikuti setiap hari, ucapan-ucapan yang bernada menghasut dan terus memelihara suhu yang panas dan penuh dengan permusuhan yang itu sesungguhnya bukan menjadi harapan rakyat setelah mereka semua melaksanakan kewajiban demokrasinya beberapa saat yang lalu.”  

>>> Ternyata mata rakyat terbuka akan adanya kegaduhan elit politik yang saling hasut menghasut sehingga ada rupanya kenyataan bahwa para elit politik sedang memelihara suhu perpolitikan yang panas, dan yang paling mengkhawatirkan ada disebutkan permusuhan. Mungkin istilah permusuhan “musuh” sudah hampir tidak ditemukan dalam kamus internal bernegara di Indonesia kecuali untuk eksternal mungkin masih dapat dipahami pengertiannya oleh rakyat. Kata “musuh” tentu akan berakhir dengan kata “pembinasaan (demolishing)”. Sementara dalam konteks internal bernegara yang lebih dipahami justru istilah “lawan” yang tentusaja pada akhirnya berlanjut dengan kata “mengalahkan”.  Kalau kita mengidentikkan kata “musuh” dengan “lawan”, apa lantas dapat kita identikkan pula kata “membinasakan” dengan “mengalahkan”?  Suasana pasca Pemilu Presiden dan Wakil Presiden memang sangat disadari oleh seluruh rakyat bahwa ada kompetisi (persaingan) antara kontestan yang saling berlawanan untuk saling mengalahkan, dan memang harus ada yang kalah dan ada yang menang. Apa lantas Bapak Presiden mengartikannya dengan kata permusuhan yang akan berakhir dengan pembinasaan? Mudah-mudahanlah jauh dari pengertian itu. 

3. Memang ada segelintir orang di negri ini yang sekarang tertawa puas, bersorak dalam hati, disertai nafsu amarah dan keangkaramurkaan. Mereka segelintir orang itu tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tidak peduli dengan kehancuran Negara kita akibat aksi terror ini yang dampaknya luas bagi ekonomi kita, iklim usaha kita, kepariwisataan kita, citra kita dimata dunia, dan lain-lain lagi.” 

>>>Pesan yang disampaikan oleh Bapak Presiden bahwa segelintir orang yang dimaksud adalah teroris yang sudah terdefinisi selama ini. Kenyataannya bahwa mereka bukanlah orang-orang Indonesia, melainkan warga negara Malaysia. Lalu mengapa Bapak Presiden mengatakan segelintir orang di negri ini ya? Sudah pasti tak satupun rakyat Indonesia yang menginginkan negaranya diterornya sendiri. Kalaupun ada yang ikut-ikutan tentu hanya sebab akibat pemenuhan kebutuhan. Tentu kita tidak akan pernah yakin rakyat Indonesia ingin menghancurkan dirinya sendiri, kecuali orang tersebut bukan lagi orang Indonesia dan sudah menjadi orang asing yang tinggal di Indonesia. Kalau demikian halnya, rakyat Indonesia mampu mengusir mereka keluar dari Tanah Tumpah Darah – Tanah Air Indonesia. 

4. Saya yakin sebagaimana yang saya ungkapkan diwaktu yang lalu, para pelaku dan mereka yang menggerakkan aksi terorisme ini akan dapat kita tangkap dan kita adili secara hukum. Saya juga menginstruksikan kepada para penegak hukum untuk juga mengadili siapa saja yang terlibat aksi terorisme ini, siapapun dia, apapun status dan latar belakang politisnya.”  

>>> Kalau kita sudah yakin dengan aksi terorisme yang terjadi di Indonesia bukanlah oleh orang (rakyat) Indonesia, tentu saja pelaku teror tersebut bukanlah berlatar belakang politik internal Indonesia, melainkan latar belakang politik kontra Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu pula para penegak hukum tidak akan menemukan unsur terorisme itu ada pada rakyat Indonesia, kecuali rakyat bangsa lain yang menyamar sebagai rakyat Indonesia. Para Penegak Hukum haruslah diarahkan oleh rakyat untuk mencari dalangnya jangan pada rakyat Indonesia, ya tentu saja tidak akan diketemukan solusinya.

5. “Pagi ini saya mendapat banyak sekali pertanyaan. Kalau aksi terror ini berkaitan dengan hasil pemilihan presiden sekarang ini, saya meresponnya sebagai berikut, kita tidak boleh main tuding dan main duga begitu saja.” 

>>> Sungguh disayangkan kalau seorang Bapak Negara sebagai pemimpin tertinggi di negri ini harus terombang-ambing keyakinannya bahwa rakyat sudah mendaulat seorang SBY untuk melanjutkan perjuangan menuju cita-cita murni yang dimandatkan berdasarkan cita-cita yang termaktub pada Pembukaan UUD’45. Mengapa Bapak Presiden tidak meyakini bahwa realitanya ada istilah yang masih terpakai seperti: “Singa berbulu domba” atau “ada udang dibalik batu” yang membuat bisikan-bisikan maut. 

6. “Saya harus mengatakan untuk yang pertamakalinya kepada rakyat Indonesia bahwa dalam rangkaian Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden 2009 ini memang ada sejumlah intelijen yang dapat dikumpulkan oleh pihak yang berwenang. Sekali lagi, ini memang tidak pernah kita buka kepada umum, kepada publik, meskipun kita pantau dan kita ikuti. Intelijen yang saya  maksud adalah adanya kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya. Foto SBY dijadikan sasaran, dijadikan lintasan tembak.”  

>>> Pasti rakyat tidak akan pernah menganggap bahwa aksi terorisme yang barusaja meledakkan bom di dua hotel di Jakarta itu bukanlah ingin membunuh Bapak Presiden, buktinya selama inipun aksi teroris tersebut bukan bermotif personal sebagaimana pernah terjadi pada Presiden RI-1 Soekarno di tahun 1962, tetapi skenario yang lebih memfokuskan kepada kecurigaan internal negara diantara para elit politik. Kalau antara elit politik interna negara yang di agitasi, tentu kekuatan luar yang mendalangi. Kalau kepemiliki jenis senjata diluar ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia tentu para aparat hukum yang mengelilingi Bapak Presiden, tanpa harus diinstruksikanpun sudah seharusnya menciduk pemiliknya dan tentusaja kalau memiliki jaringan akan segera ketahuan siapanya. 

7. Masih berkaitan dengan intelijen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu. Adapula rencana untuk pendudukan paksa KPU saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. Ada pernyataan akan ada revolusi jika SBY menang. Ini intelijen, bukan rumourn bukan isu, bukan gossip. Ada pernyataan; kita bikin Indoneia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan; bagaimanapun SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu. Dan puluhan intelijen lain yang sekarang berada di pihak yang berwenang.”  

>>> Kalau bahasa militer, statements diatas boleh saja diartikan sebagai “ancaman”, tetapi rakyat umum tentu menganggap statement tersebut adalah bahasa “preman = pre makan = free man” tentu pengartiannya adalah sebagaimana istilah umum yang merakyat adalah “muv = move” atau “gosh = gosok”. Mungkinpula bahasa elit sudah sangat jauh penyimpangan pengertiannya dengan bahasa “preman” sehingga “lawan” dikatakan “musuh”, “gertakan” dikatakan “ancaman”, “kalahkan” dikatakan “hancurkan”. 

Bagaimana pula akan terjadi revolusi sementara hati dan pikiran 60% rakyat ada pada Pak Presiden.  Apakah para BIN ada mengindikasikan gerakan reformasi baru akan muncul kembali? Kalau benarlah pernyataan yang mengatakan “Kita Bikin Indonesia seperti Iran” maka jelaslah kalaupun ini sebagai ancaman, maka ancaman itu datangnya dari luar. Masya ada rakyat asli Indonesia mau jadi Iran yang tandus!, kecuali bukan asli orang Indonesia maka mereka memang mampu hidup di tanah tandus atau gurun pasir sana. 

8. “Terhadap semua intelijen itu, apakah terkait aksi pengeboman hari ini atau tidak terkait, saya menginstruksikan kepada semua jajaran hukum untuk menjalankan tugasnya dengan benar, objektif, tegas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Andaikata tidak terkait ancaman-ancaman yang tadi itu, dengan aksi pengeboman hari ini, tetaplah harus dicegah, harus dihentikan, karena anarkhi, tindakan kekerasan, perusakan, tindakan melawan hukum, bukan karakter demokrasi, bukan karakter Negara hukum.” 

>>> Sangat jelas sekali bahwa Bapak Presiden goyah dengan keyakinannya, tidak percaya dengan sekelilingnya, sangsi dengan kawan-kawannya. Sejumlah 24 partai yang mengelilingi Partai Demokrat memang menjadi kendala yang mengkhawatirkan untuk menjadi mulus menjalankan mandat yang diberikan oleh rakyat. Pak Presiden harus meyakinkan rakyat bahwa hari ini lebih baik dari kemarin dimana rakyat sudah meyakininya, lantas hari esok sudah  menjadi tanggung jawab yang harus pasti lebih baik dari hari ini. Kita menunggu Pak Presiden….. 

9. Barangkali atau biasanya dalam keadaan seperti ini, banyak diantara kita yang kurang berani menyampaikan kecaman dan kutukannya, barangkali karena pertimbangan politik. Saya dengan bahasa terang harus menyampaikan seperti itu, karena demikian amanah saya sebagai kepala Negara.” 

>>> Betul sekalu itu Pak Presiden. Kalau kecaman memang perlu diberikan kepada siapasaja yang tidak berkinerja baik, tetapi kalau kutukan janganlah sampai menjadi merasuk kepada yang dikutuk. Bila harus terjadi maka Indonesia akan kehilangan potensinya. Kalau kutukan kenegaraan pantas saja diberikan kepada yang tidak mengikuti kesepakatan bersama sewaktu kita bersumpah untuk membentuk negara ini dengan Bertanah Air Satu Tanah Ait Indonesia, Berbangsa Satu Bangsa Indonesia, Berbahasa Satu Bahasa Indonesia. Kemudian Falsafah Negara Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika. Kemudian dengan UUD’45. Cukup sudah kommitmen. Kalau tidak committed yah memang kita kutuk sajalah. 

10. Bahkan, ini yang sangat memilukan, sebenarnya kalau tidak ada kejadian ini, klub sepak bola terkenal di dunia, Mancester United, berencana untuk bermain di Jakarta.”  

>>> MU akhirnya bertanding di Malaysia. Hanya karena kecempuruan meningkatnya pamor dan citra Indonesia dimata dunia, maka bom pun meledak, dan MU jadi bertanding di malaysia. Pak Presiden ! ini bukanlah bahasa sederhana. Ini bahasa yang tidak perlu disebutkan tetapi Pak Presiden sudah harus memahami bahasa yang sama dari batin rakyat. “Jarum yang terjatuh di semak sulit dilihat oleh mata, tetapi matahati mampu melihatnya”. Janganlah lantas Pak Presiden mencurigai anak bangsa sendiri. 

11. Saya bersumpah, demi rakyat Indonesia yang sangat saya cintai, Negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan yang tegas, tepat, dan benar, terhadap pelaku pengeboman ini berikut otak dan penggeraknya ataupun kejahatan-kejahatan lain yang mungkin atau dapat terjadi di negri kita sekarang ini.”  

>>> Terimakasih Bapak Presiden, bersumpah demi nusa dan bangsa adalah bahasa yang sama yang juga keluar dari hati nurani seluruh rakyat Indonesia. Yang penting sudah mulai kita mendefinisikan siapa yang menjadi rakyat dan siapapula yang bukan rakyat. 

12. Dan kemudian yang lebih penting lagi, para penegak hukum harus betul-betul mencari, menangkap, dan mengadili para pelaku, para penggerak, dan otak dibelakang kekerasan ini. Barangkali ada diantara kita, yang diwaktulalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang. Barangkali. Dan para pelaku itu barangkali masih lolos dari jeratan hukum. Kali ini Negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negri kita.” 

>>> Yang penting para penegak hukum yang mengelilingi Bapak Presiden sudah harus memahami filosofi buah semangka. Buah kericuhan adanya disekitar kita, tetapi batangnya pastilah jauh dari buahnya. Drakula itu bisa saja 1000-an kilometer keluar dari sarangnya untuk memangsa, itulah penyebar maut itu. 

13. “Bangsa manapun, agama apapun, kita semua tidak membenarkan terorisme, apapun motif dan alasannya. Jangan ragu-ragu, jangan setengah hati, dan jangan takut untuk mencegah dan memberantas terorisme.” 

>>> Bapak Presiden ! jangan lagi kita kambing hitamkan agama. Tidak mungkin mayoritas merasa terancam di negrinya sendiri. Merka bukan sedang menguji imannya, melainkan hanya menistakan tubuhnya. Hati nurani rakyat sedang membisikkan kepada Bapak Presiden untuk mendengarkan bahwa mereka sangat memusuhi Amerika sedangkan kita bersahabat maka meledaklah asset-asset yang berbau Amerika di Indonesia, mereka bermusuhan dengan Filippina  dan kita tidak pernah mau ikut campur urusan pergolakan yang ada di Filippina maka meledaklah bom di rumah dubes Filippina di Indonesia. Mereka sebenarnya tidak bermusuhan dengan Australia tetapi Indonesia kurang bersahabat dengan australia maka meledaklah bom di Kedubes Australia dan rakyat mayoritas Indonesia pun menjadi pesakitan sebagai tertuduh. Kok hanya granat yang meledak di pagar kedutaan Malaysia? Bagian dari bangsa kita seperti Aceh, Batak, Jawa, Madura, Bugis sangat pintar mengelana dan menjadi saudara kandung kita yang rawan menjadi korban-korban. Masih segar dalam ingatan bahwa merka telah berhasil mengaduk-aduk Aceh. Madura di Kalimantan menjadi korban konspirasi, Bugis di Poso sudah menjadi korban agitasi, Jawa menjadi simbol jantung Indonesia sudah diaduk-aduk. Percayalah Pak Presiden bahwa nurani rakyat sedang berbisik ke batin Pak Presiden bahwa Batak sebagai upaya sentuhan akhir mereka dan sedang dalam proses penghancuran missi mereka. Kasus Papua masih jauh dari skenario mereka dan Papua adalah porsi ancaman lain yang harus kita selesaikan.  

Inilah bisikan akhir buat Bapak Presiden, Bukan anak bangsa yang menjadi teroris, tetapi bolehkah kita merasakan bahwa sedang terjadi akulturisasi Bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika, sehingga beranilah kita menyebut sedang terjadi sebuah peristiwa yang berjudul “BROTHERHOOD CONSPIRACY”. 

Demikianlah, bagi semua anak bangsa agar jangan saling mengipas “api dalam sekam” agar api tidak menjadi marak yang akan membakar hutan-hutan manusia yang menjadi kemuliaan Negara Indonesia menjadi satu Bangsa yang besar Bangsa Indonesia. Tidak banyak tetangga kita yang mampu menyandang gelar bangsa, kitalah bangsa yang sejak dahulu kala sebagai warga di Jamrud Khatulistiwa. 

Menjadi kelakar dalam canda bahwa ada 13 hal yang mensahkan bahwa Jumat 17 Juli 2009 menjadi Friday The 13 Bombs. Ada 2 dua bom yang berurutan meledak pada suatu bidang yang disimbolkan oleh angka 4.

Back home again to see more>>>