Terror Bomb

Terror Bomb

Tersebutlah Marimate seorang manusia yang hidup dan memang masih ingin hidup di dunia yang dikaruniakan untuknya. Marimate sedang menikmati hidupnya dan berencana ingin bersenang-senang bepergian ke luar negeri setelah sekian lama bekerja keras bersusah payah untuk mewujudkan cita-cita di alam kemerdekaannya. Marimate telah menetapkan hari-H untuk melaksanakan niatnya berlibur ke luar negeri setelah pengajuan cutinya disetujui oleh atasannya. Disela waktu sibuknya, Marimate mengarahkan mobilnya ke Kedutaan Besar satu Negara tujuannya untuk mengurus visa turisnya setelah sebelumnya Instansi Imigrasi telah mengeluarkan Passport Hijau atas namanya. Tiba-tiba Marimate dihantui perasaan yang sangat takut akan adanya ancaman bom di Kedutaan Besar Negara itu karena dia baru sadar bahwa sudah beberapa Kedutaan Besar Negara sahabat yang menjadi korban pemboman oleh terroris seperti contoh Kedutaan Besar Jepang, ancaman roket dari Hotel President, 13 Jun. 1986, Kedutaan Besar Canada, ancaman roket dari Hotel President 13 Jun. 1986. Konjen Filippina di Manado Sulawesi Utara Des 2002, Kedutaan Besar Australia 9 September 2004. Beruntung bagi Marimate ternyata bom tak ada yang meledak dan diapun merasa selamat dan beruntung mendapatkan visa yang diharapkan. 

Merasa beruntung mendapatkan ijin kunjung ke Negara yang dia tuju, maka Marimate mulai mecari-cari informasi yang lebih rinci tentang Negara tujuannya sembari mempersiapkan segala sesuatu yang dianggapnya diperlukan. Tiba hari-H dimana Marimate harus berangkat sesuai jadwal tiket yang dia miliki maka tibalah dia di Bandara Soekarno Hatta di Terminal-2. Marimate memasuki gate dimana dia harus check-in. Di dalam keramaian manusia yang hilir-mudik untuk urusannya masing-masing, sesaat setelah check-in selesai, Marimate melangkah menuju X-ray scanner check, pikirannya dihantui ketakutan melihat segala jenis tas dan koper yang menggelinding melewati scanner dan berprasangka ada bom yang tak terdeteksi. Marimate mengenang bahwa Bandara Soekarno-Hatta pernah di bom di Terminal-2F 27 April 2003 dan berprasangka akan di bom lagi pada saat dia ada saat itu. Nasib mujur, tidak ada kejadian bom di hari dimana Marimate akhirnya selamat bersenang-senang di Negara tujuannya yang damai tenteram. 

Liburan cuti yang dimanfaatkan oleh Marimate membawa dirinya kepada suasana baru, semangat baru, pengalaman baru untuk lebih berprestasi pada pekerjaannya. Pagi itu Gedung Perkantoran dimana Marimate bekerja sudah dipenuhi oleh para karyawan yang bekerja. Ruangan lobby yang luas dengan sejumlah lift dipenuhi oleh antrian manusia yang akan menuju kantornya masing-masing. Bunyi ring telepon di front desk tempat satpam bertugas menghentak keterkejutannya. Marimate terbayang adanya bom yang tersembunyi di disuatu tempat di Gedung Perkantoran itu. Pikirannya terbawa kepada ingatan bahwa beberapa Gedung Perkantoran pernah mengalami pemboman oleh terroris seperti; Wisma Metropolitan Jakarta 14 Mei 1986, Gedung Bursa Efek 13 September 2000, Kantor PBB 24 April 2003 , Gedung DPR 14 Juli 2003. Pada hari itu, bukan semangat baru yang muncul pada Marimate, malah kecemasan yang amat menghantui pikirannya. Perasaan kecemasan yang mendalam tentang kekhawatiran adanya bom yang setiap saat dapat saja meledak di Gedung Perkantoran dimana dia bekerja, membbuat semangat kerjanya menurun, prestasi kerja menjadi anjlok yang mengancam karir Marimate, namun dia masih berusaha untuk tetap bertahan dalam kekhawatiran bahwa dia tetap terancam mati karena bom. 

Telah banyak upaya yang dilakukan oleh Marimate untuk menonggak prestasi kerjanya yang anjlok semenjak pikirannya dihantui oleh aksi-aksi terror sehingga Marimate sering terlambat masuk kerja dan konsekwensinya harus memberikan tambahan jam kerja diluar jam normalnya. Setelah waktunya pulang kerja pada saat malam sudah mulai merangkak. Pulang kerumahnya untuk jarak yang lumayan jauh di daerah pinggiran kota dalam keadaan lalulintas kendaraan yang macet membuatnya segan untuk mengendarai sendiri mobilnya, disamping rasa penat yang telah bekerja seharian. Marimate memutuskan untuk menggunakan transportasi umum saja. Marimate melangkahkan kakinya masuk kedalam bus trans yang kebetulan berhalte di depan Gedung Perkantorannya. Hari itu kebetulan dia mendapat tempat duduk yang nyaman didalam bus ber-AC yang nyaman. Dalam perjalanan rute bus tersebut melewati halte demi halte ternyata bus trans semakin dijejali oleh penumpang hingga bedesak-desakan juga. Ketenangan yang baru akan dinikmatinya untuk memicingkan mata sampai ke tujuannya ternyata harus sirna seketika dan bahkan trauma pikirannya pun menerawang membayangkan sekiranya salah satu diantara penumpangnya adalah terroris.  Pemboman pun pernah terjadi di bus penumpang umum seperti Pemudi Ekspress, bus malam di Banyuwangi yang diterror dengan bom 16 Mar. 1985. Akhirnya Marimate merasa terselamatkan setelah keluar dari bus tersebut. Ancaman yang ternyata juga terjadi pada angkutan umum menambah beban pikirannya bahwa dia tetap menjadi sasaran korban bom berikutnya. 

Anggapan ancaman yang selalu seolah mengejarnya membuatnya memutuskan untuk tinggal di apartemen disekitar Gedung Perkantorannya. Disamping dapat menghemat waktunya, diapun tidak perlu lagi menelusuri rute jalan yang jauh menyetir sendiri untuk sampai dirumahnya. Beberapa hari tinggal di apartemen belum mengganggu pikirannya yang sudah terkontaminasi akan ancaman bom di setiap saat. Tiba disuatu saat Marimate melihat sekelompok manusia asing yang ada di Gedung Apartemen. Mungkin saja mereka adalah pengunjung sebagai tamu salah satu penghuni apartemen, namun tidak demikian bagi Marimate bahwa mereka dicurigainya sebagai pembawa bom yang memang pernah terjadi di apartemen seperti di Rumah Susun Senen 18 Januari 1998, Asrama Mahasiswa Iskandar Muda-Manggarai Jakarta 10 Mei 2001. 

Siang itu Marimate mendahulukan diri turun dari kantornya pergi keluar kawasan Gedung Perkantorannya untuk makan siang di sebuah restoran. Hitung-hitung dia anggap mengganti suasana makan siang yang selama ini secara rutin dilakukannya di sebuah kantin di sekitar Gedung Perkantorannya. Selepas memesan makanan maka dia mengambil posisi di sebelah pojok di dekat dinding kaca agar leluasa memandang ke sekeliling. Sekilas terlihat olehnya seorang lelaki berpakaian uniform berjalan menuju restoran sambil menyeret koper roda yang tidak begitu besar. Lelaki berpakaian uniform itu sebenarnya adalah seorang sales yang sedang berdinas disekitar kawasan tersebut dan mengambil waktunya untuk makan siang. Lelaki tersebut memasuki restoran yang sudah ramai dipenuhi oleh orang-orang yang akan makan siang sehingga agak sulit mencari kursi yang kosong. Ketika lelaki itu sedang mencari kursi yang kosong, mereka beradu pandang dan suasana ini membawa alam pikiran Marimate menerawang bahwa isi koper yang dibawa oleh lelaki berpakaian uniform itu adalah bom. Marimate teringat akan kejadian terror bom disejumlah restoran seperti; Restoran KFC Makassar 12 Oktober 2001, Rumah Makan ayam Bulungan Jakarta 1 Januari 2002, Restoran Mc Donald Makassar 5 Desember 2002. Makanan yang enak menjadi hambar, perut yang lapar menjadi terlantar. Hari itu menjadi hari yang membawa Marimate kepada kegundahgulanaan menjalani hidupnya. 

Marimate kini harus tetap menyesuaikan perjalanan hidupnya dalam situasi dan keadaan yang ada, agar dia tetap survive mengarungi kehidupannya. Marimate tidak lagi pergi ke restoran untuk mengisi perutnya, melainkan memasak sendiri kebutuhan makan sehari-hari. Harapannya bahwa dia dapat menghindari ancaman bom yang mungkin saja terjadi di restoran sebagaimana pernah terjadi. Maka Marimate membeli sendiri bahan baku makanan dari supermarket untuk kemudian dimasak sendiri. Sewaktu berbelanja disalah satu supermarket yang tidak begitu jauh jaraknya dari apartemennya, maka dia menyaksikan begitu sibuknya manusia berlalu lalang saling mengurusi keperluannya. Keramaian selalu menjadi pemicu bagi Marimate untuk mencurigai bahwa akan terbuka kesempatan bagi terroris untuk melancarkan aksinya. Hatinya mulai kacau dihantui oleh bayangan kematian oleh bom. Terbayang olehnya bahwa beberapa Pusat Perbelanjaan sudah pernah dibom dan mungkin ini saatnya pula tempatnya berbelanja akan diterror bom pula. Ingatannya melayang ke peristiwa pengeboman Plaza Atrium Jakarta Pusat yang sudah beberapa kali di bom yaitu 11 Desember 1998, 13 Agustus 2001, 23 September 2001, Ramayana Jalan Sabang Jakarta Pusat 2 Januari 1999, Plaza Hayam Wuruk Jakarta Barat 15 April 1999, Mal Graha Cijantung – Jakarta Timur 1 Juli 2002, memang banyak Pusat Perbelanjaan yang diserang terroris dengan bom. 

Marimate bergegas membawa belanjaannya ke antrian di counter sambil berharap agar antian segera cair pada gilirannya. Penantian dirasa sangat panjang oleh Marimate sampai tiba saatnya belanjaannya terhitung oleh barcode scanner. Saat itu kelegaan yang muncul dihati Marimate karena merasa selamat dari serangan bom di Supermarket. 

Terror bom yang selalu menghantui pikiran Marimate telah merubah pola hidupnya. Sejak ketakutannya tentang bom muncul pertama sekali di salah satu Kedutaan Besar Negara tetangga, disusul trauma bom di Bandara, menyusul Gedung-gedung Perkantoran, kendaraan umum seperti bus, Apartemen, Pusat Perbelanjaan, Restoran, semua sudah dianggapnya rawan. 

Rasa frustasi merasa dikejar oleh kematian, oleh serangan terror bom, maka Marimate sudah menganggap hidupnya memang sudah ditakdirkan mengalami terror bom. Dengan berat hati, Marimate memutuskan untuk berhenti bekerja. Marimate punya hitung-hitungan bahwa tabungannya cukup untuk menghidupinya beberapa tahun. Marimate berencana untuk tinggal saja di rumahnya yang ada dipinggiran kota sambil berencana untuk memikirkan pekerjaan lain yang aman dari terror bom. Marimate berpikir bahwa lebih baik hidup sederhana daripada harus mati tragis karena bom. 

Pengajuan pengunduran diri di perusahaan tempatnya bekerja disetujui. Walaupun tidak mendapatkan pesangon yang memadai karena mengundurkan diri atas kerelaannya, namun dia masih mendapat sejumlah kompensasi yang juga berguna untuk menambah dananya menunggu memutuskan pekerjaan lain yang menurutnya layak. Memang sangat berat untuk berpisah dari teman-teman sekerja yang sudah lama bergaul selama bekerja di perusahaan. Banyak diantara teman-teman yang menyayangkan mengapa Marimate harus berhenti bekerja hanya karena adanya ancaman bom yang setiap saat memang mungkin saja terjadi di Indonesia. Namun orang-orang tidak dapat berbuat banyak untuk menahan pendirian Marimate. Menurut Marimate hidup lebih berharga dari segalanya, walaupun sahabatnya hanya berserah pada takdir, tetapi bagi Marimate bahwa pikiran yang menghantuinya adalah pertanda dan peringatan untuk selalu waspada memakai akal dan pikirannya untuk berusaha menghindar dari ancaman yang akan merenggut nyawanya. 

Sudah beberapa hari Marimate tidak lagi pergi ke kantornya, karena memang dia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Rumahnya yang lumayan besar yang didapatnya dari kerja kerasnya selama bekerja juga ditinggali oleh keluarga adik perempuannya sebagai keluarga kecil dengan seorang anak sebaya sekolah. Kegiatan Marimate dinikmatinya untuk kegiatan kecil yang dapat menghiburnya menghabiskan hari-harinya. Salah satunya adalah menghantarkan keponakannya ke sekolah menjadi hiburan keseharian yang sering dilakukannya. Terkadang Marimate menjadi terkenang akan masa kecilnya semasih sekolah seumur keponakannya tersebut. Perjalanan waktu masa lalunya semasa pra-sekolah terngiang dibenaknya bagaikan episode-episode filem mengalir ringan dialam pikirannya sewaktu dia sedang menunggu lonceng pulang dibunyikan disekolah keponakannya itu. Loncengpun berbunyi tanda pelajaran sekolah sudah selesai. Anak-anak sekolah berhamburan satu persatu dari masing-masing ruang kelas disekolah, dan dalam sekejap berkumpullah ratusan murid yangdemikian ceria dimasanya karena mereka memang memiliki waktu yang paling bahagia diusia sekolah itu. Keramaian akan selalu menghantui pikiran Marimate tak terkecuali pada suasana sekolahan sebagaimana disekolah keponakan yang sedang ditungguinya untuk penjemputannya. Benaknya mengenang kejadian adanya peristiwa terror bom di beberapa sekolahan. Rekaman ingatan terkuak dari pikirannya dimana pernah terjadi pemboman seperti Perguruan Cikini yang pernah di bom dalam upaya pembunuhan Presiden Soekarno di tahun 1962, Sekolah Seminari Kristen di Malang 24 Des 1984 , Australia International School 6 Nopember 2001, dan Marimate menganggap terror bom itu dicurigainya ada disekolah keponakannya. Keponakannya akhirnya nongol mendekatinya dan diapun merasa lega dan merasa luput dari ancaman bom. 

Sekali waktu kesenangan dalam hidup ingin dibagikannya dengan keponakannya. Marimate berencana untuk membawa keponakannya menikmati hidupnya di masa kanak-kanak, maka dia menentukan suatu hari untuk membawa keponakannya tersebut ke tempat bermain anak-anak sembari mendidik untuk menambah pengetahuannya. Hari yang direncanakan tiba, Marimate membawa keponakannya berjalan-jalan mengunjungi Taman Mini Indonesia (TMII). Dia merasa bahwa TMII dapat menjadi representasi pengenalan Indonesia. Sesampai di TMII, Marimate menjelaskan banyak hal tentang miniature Indonesia yang memanjang dari Sabang Sampai Merauke, dari Sulu sampai Rote, sungguh Indonesia yang luarbiasa. Sebagaimana biasanya bahwa keramaian selalu membawa penerawangan pikiran menjadi liar kepada hal-hal yang mengancam jiwa. Marimate tidak luput dari ingatannya yang mengenang kejadian terjadinya terror bom yang pernah ada di TMII dimana Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Januari 2001 mendapat ancaman bom. Kekhawatiran ini membawanya mengambil keputusan untuk menyudahi petualangan keponakannya menelusuri TMII. Marimate merasa terlepas dari beban ancaman bom sepulang dari TMII. 

Kehidupan rutin yang jauh dari tantangan membuat Marimate merasa bosan juga hidup dengan rutinitas di rumahnya. Marimate menelepon beberapa teman-temannya untuk janjian bertemu bersantai-santai menghilangkan kebosanannya. Mereka berjanji untuk bertemu disuatu tempat sehabis jam kerja soreharinya. Sekitar jam kerja usai, Marimate sudah ada di halaman perparkiran Gedung Perkantorannya dulu. Sesuai janjinya, maka beberapa teman kerja lama sudah menghampirinya bersiap untuk jalan bersama. Di mobil itu, mereka bercengkerama sambil bercerita tentang segala sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Seorang teman mengambil alih pembicaraan dan mengusulkan untuk mengobrol saja di sebuah café agar lebih leluasa bersendagurau. Hari menjelang malam yang sudah mulai gelap dimana lampu-lampu penerangan sudah mulai menyala sehingga menambah indah suasana malam itu. Mereka memarkirkan mobilnya disebuah café yang cukup mentereng dengan suasana yang nyaman dan santai. Malam itu merangkak mengikuti detak detik jam yang berputar. Cerita sudah mengalir jauh menelusuri sudut-sudut perjalanan keseharian mereka masing-masing. Pengunjung café berdatangan mengambil posisi yang paling menyenangkan buat mereka. Ada yang berkelompok di saung-saung yang ditempatkan secara serasi di berbagai pojok taman, namun lebih banyak yang berkumpul di hall utama sambil mengalun lagu-lagu permintaan yang dinyanyikan oleh para biduan café. Sesekali salah seorang pengunjung naik ke panggung untuk menyanyikan lagu kesenangannya diiringi tepuk tangan pengunjung yang ikut gembira. Tiba pada suatu suasana dimana Marimate dan temannya sudah mulai habis cerita ditengah ramainya pengunjung yang bergembira. Marimate tersentak dalam suasana mengenang membayangkan sebuah peristiwa yang pernah berulangkali terjadi yang membawa hatinya kedalam ketakutan. Terbayang olehnya bom setiap saat dapat saja terjadi dalam suasanya kegembiraan seperti ini. Rekaman peristiwa mengalir dibenak Marimate dimana bom diledakkan di Sari Club (Bom Bali-1)  12 Oktober 2002, Paddy’s Café (Bom Bali-1) 12 Oktober 2002, Café Samfodo Indah, Palopo – Sulawesi Selatan 10 Januari 2004, RAJA’s Bar & Restauran Pantai Kuta (Bom Bali-2) 1 Oktober 200, Nyoman’s Cafe di Jimbaran (Bom Bali-2) 1 Oktober 200, dan kengerian kejadian itu semakin menghantui pikirannya. Marimate, secara halus membuka pembicaraan untuk mencari tempat lainnya, dimaksudkannya agar temannya tidak mesti mengetahui ketakutan akan adanya bom di café tersebut yang membuatnya mengajak temannya untuk berpindah tempat. 

Malam memang sudah mulai larut, Marimate bersama temannya sudah berada di dalam mobil dimana seseorang diantaranya memecah kesunyian dan menganjurkan agar malam itu sebaiknya mereka lanjutkan untuk mampir disebuah diskotik, karena pada jam 23:00 biasanya diskotik sudah memulai acaranya. Marimate yang masih dihantui ketakutan akan serangan bom menjadi lebih takut lagi karena dengan serta merta pikirannya tertuju pada peristiwa pemboman yang terjadi di Diskotik Eksotis Pangeran Jayakarta – Jakarta 9 Juni 2002. Dengan segera Marimate menjawab usulan temannya itu agar sebaiknya mereka rencanakan saja kemudian, sambil dia menyodorkan alasan bawa teman-temannya masih harus bekerja esok harinya, sementara kalau memasuki diskotik, sudah hampir dipastikan bahwa mereka akan pulang pada jam 04:00 subuh. Ternyata usul masuk akal ini diterima oleh teman-temannya, maka Marimate merasa terselamatkan dari ancaman bom malam itu. 

Kehidupan keseharian dimulai lagi di rumah dan lingkungan dimana Marimate tinggal. Persahabatan dan kegiatan yang ada dilingkungan rumahnya sudah dapat diikutinya. Ada kalanya dia ikut melakukan kerjabakti yang diprogramkan oleh Kepala Rukun Tetangga, atau acara lainnya menjadi suatu kegiatan yang dijalankannya di lingkungan rumahnya. Malam itu, Marimate dan beberapa tetangganya mendapat giliran sebagai petugas jaga malam khusus dilingkungan rumahnya. Sesuai dengan waktu yang dijadwalkan maka Marimate keluar dari rumahnya menuju Pos Kamling dimana mereka akan berkumpul. Memang di Komplek hunian diman Marimate tinggal sudah ada petugas keamanan yang dijadwalkan rutin untuk menjaga lingkungan itu, namun penggiliran jaga tambahan seperti yang dijadwalkan kepada Marimate dan beberapa temannya adalah kesepakatan bersama dalam rangka saling mengenal sesama tetangga disamping untuk menjaga kawasan yang sering terjadi pencurian di malam hari yang mungkin terjadi karena sulitnya perekonomian negri belakangan ini. Sesaat berkumpul bercanda bersama dengan teman-temannya, maka Marimate teringat kejadian yang pernah terjadi di Pos Kamling yaitu Pos kamling Dusun Landangan Desa Toini – Poso diledakkan dengan bom 22 Maret 2006. Marimate menjadi dihantui rasa takut akan terjadi pula pada saat dia mendapat giliran di Pos Kamling. Dengan bahasa halus dia pamitan kepada temannya jaga bahwa dia ternyata sedang masuk angin dan sering-sering harus kebelakan karena diare. Temannya memang melihat wajah Marimate yang pucat lalu mengijinkan permohonannya untuk pulang, padahal Marimate pucat hanyalah karena merasa ngeri akan ada bom di Pos Kamling seperti yang pernah terjadi di Poso. Selamatlah perasaan Marimate dari kejaran ajal oleh terror bom malam itu. 

Hari berganti hari, Marimate menjalani kesehariannya lebih banyak dirumah saja. Terbetik dibenaknya untuk membuat sendiri menu masakan sendiri untuk hari itu. Ide ini ada karena Marimate baru saja menonton sebuah acara televisi yang menyiarkan program kuliner. Merasa tertarik dengan acara yang diprogramkan di televisi terebut maka segera Marimate bergegas pergi ke sebuah Pasar Tradisional tidak jauh dari rumahnya. Tak lupa catatan bahan menu yang sempat dicatatnya sewaktu acara kuliner di televisi ditayangkan. Di Pasar Tradisional dibelinya bahan-bahan yang tercatat. Terbayang dibenaknya betapa akan nikmat memakan menu yang akan dibuatnya sendiri. Suasana Pasar yang berdesak-desakan sekilas dinikmatinya untuk belanja. Sampai seketika Marimate sewaktu melintas di lapak penjual Koran mengingatkannya akan berita yang pernah dibacanya bahwa Pasar Tradisionalpun ternyata tak luput dari serangan bom. Kejadian itu terekam dibenaknya pada peristiwa pemboman di Pasar Palu Sulawesi Tengah, 31 Desember 2005. Ketakutanpun menghantuinya sehingga diapun bergegas untuk segera pulang. Maka selamatlah dia dari serangan bom. 

Hari itu Marimate menyempatkan niatnya untuk memasak sendiri menu yang diinginkannya. Sebagaimana yang tercatat maka diapun memulai petualangannya di dapur rumahnya. Marimate berharap bahwa ponakannya, adiknya dan iparnya akan merasa nikmat memakan masakannya dan dia berharap mendapat pujian akan kemampuannya memasak menu masakan. Memang kenyataan bahwa siang itu, makan siang mereka terasa nikmat dengan menu yang dimasak sendiri oleh Marimate. Oleh karena nikmat yang membawa dia makan lebih dari porsi biasanya membuat matanya tertarik oleh rasa kantuk. Maka siang itu diapun terpulas tidur siang yang belum pernah dialaminya. Menjelang sore Marimate terbangun dari tidur siangnya. Sama sekali dia belum pernah tidur pada siang hari, namun pengalaman pertamanya itu mencatat sejarah baru baginya bahwa dia pernah tidur di siang hari. 

Setelah bermalas-malas sebentar, Marimate menyambar selembar handuk untuk segera mandi pada sore hari itu. Selesai mandi dia mengambil tempat di teras depan untuk duduk menikmati segelas kopi sambil membaca Surat Kabar untuk berita-berita hangat yang terjadi di Ibukota. Lembar demi lembar dilahapnya sebagai bacaan yang menambah pengetahuan, menghibur diri, berolah pikir dan banyak menu media itu yang menarik perhatiannya. Pada lembar-lembar terakhir di Surat Kabar itu, terlihat banyak promosi penjualan rumah-rumah dengan berbagai nama dan penawaran yang menggiurkan. Asyik juga Marimate membanding-bandingkan promosi yang satu dan yang lainnya. Sampai sesaat terngiang dibenaknya suatu peristiwa pengeboman yang pernah terjadi di rumah tinggal seperti Kediaman Duta Besar Filippina, 1 Agustus 2000, Rumah Abu Jibril (M. Iqbal) seorang Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia di Pamulang Barat, 8 Juni 2005. 

Marimate pun lantas berpikir bahwa dimanapun dia berada memang selalu dikejar oleh ancaman bom. Saat sekarang dimana Marimate yang tinggal dirumahnya sendiri ternyata masih dihantui ketakutan akan serangan bom, padahal dia memutuskan untuk tidak beraktivitas di perkotaan adalah untuk menghindar dari ancaman bom dan kenyataan perumahan tidak luput dari ancaman. Kali ini Marimate mulai pasrah dengan hidupnya sehingga dia mulai berpikir untuk mendekatkan diri pada tuhannya. Sudah lama Marimate tidak pernah lagi mengikuti kebaktian sesuai agamanya. Agama hanyalah identitas yang hanya tertera di KTPnya. Di setiap perjalanan hidupnya yang selama ini dihargainya untuk berkarya ternyata selamanya pula dikejar-kejar oleh kematian terutama oleh terror bom yang merajalela di Indonesi. Lalu pikirnya, kalaupun harus mati oleh bom, mungkin akan lebih baik kalau mendekatkan diri pada Tuhan. Marimate pun berniat untuk ikut kebaktian di salah satu gereja yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Dia mengikuti prosesi acara keagamaan itu dengan khusyuk. Sesaat jemaat akan menjalankan doa bersama, Marimate memejamkan matanya ikut berdoa. Dalam proses berdoa itu ternyata pikirannya menerawang kepada kejadian yang banyak terjadi peledakan bom di rumah-rumah ibadah. Marimate mengenang kejadian di Mesjid Nurul Iman Padang, 11 Nop. 1976, Mesjid Istiqlal Jakarta, 14 Apr. 1978, Pura Agung Sentana Narayana Desa Toini Poso 10 Maret 2006, Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) 28 Mei 2000, Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) 29 Mei 2000 di Medan,  Tragedi Malam Natal 2000 (23 Gereja), Gereja Katolik, HM Joni-Medan. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Katolik Beato Damian-Bengkong Batam. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Sungai Panas Batam. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Bethany – Gedung My Mart Lt-II Batam Center. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Pentakosta di Indonesia – Pelita Jl. Teuku Umar Batam. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja, HKBP di Jalan Hang Tuah Pekanbaru. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja, HKBP Jalan Sidomulyo Pekanbaru. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Kathedral Jakarta. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Matraman Jakarta. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Koinonia Jatinegara Jakarta. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Oikumene Halim Jakarta. Tragedi Malam Natal 2000 Sekolah Kanisius Menteng Raya Jakarta. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Pantekosta Sidang Kristus Jalan Masjid 20 Sukabumi. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja  di jalan Otista Sukabumi. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja di Pangandaran. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja di Pertokoan Ciracas, Bandung. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Santo Yohannes Evangelista Jalan Sunan Muria No.6. Kudus. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Allah Baik, Gereja Santo Yosef Mojokerto. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Bethany Mojokerto. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Ebenezer Mojokerto. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel Mataram-NTB. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja Betlehem Pantekosta Pusat Surabaya. Tragedi Malam Natal 2000 Gereja di Pekuburan Kristen Kapitan Ampenan. Gereja Santa Anna Pondok Bambu Jakarta Timur, tanggal 22 Juli 2001. Gereja (1) di Palu, Sulawesi Tengah, Des 2002. Gereja (2) di Palu, Sulawesi Tengah, Des 2002. Gereja (3) di Palu, Sulawesi Tengah, Des 2002. Gereja (4) di Palu, Sulawesi Tengah, Des 2002. Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Eklesia Poso, 1 Juli 2006. 

Doa bersama pada kebaktian itupun usai dengan sebutan “Amin”, Marimate membuka matanya dan kenyataan bahwa dia masih selamat dari kematian oleh terror bom bahwa kenyataan digereja menjadi peluang terbesar untuk mati karena terror bom. 

Sepulang dari melaksanakan kebaktian itu, Marimate tidak lagi terlalu menumpahkan kekhawatirannya bahwa nyawa yang berharga yang selalu dijaga bukan lagi hal yang berharga di Indonesia. Untuk manusia yang mendekatkan diri kapada tuhannyapun tidak kuasa untuk menjaga jiwanya, bahkan tempat beribadah bukan menjadi jaminan di Indonesia sebagai tempat yang aman. Selama ini Marimate banyak memikirkan keselamatan jiwanya dengan berupaya menghindar dari aksi-aksi terror bom yang subur terjadi di Indonesia. Kini Marimate sudah memasrahkan dirinya bahwa memang tidak ada jaminan untuk selamat menghindar dari ancaman bom. Ternyata dimanapun tempat di Indonesia ini sudah menjadi ancaman kematian bagi penduduknya atas segala kejadian berupa terror bom. 

Marimate memutuskan untuk tinggal saja di sebuah hotel. Pikirnya, lebih baiklah bersenang-senang menikmati hidup selagi bisa daripada harus menghindar dari kejaran ancaman bom yang tiada tempat lagi untuk bersembunyi. Disamping itu kebetulan Marimate sangat fans kepada para pemain PSSI yang akan bertanding dengan Manchaster United (MU) dari Inggris. Marimate sudah pula membeli tiket untuk pertandingan itu. Keramaian di dalam Stadion biasanya membawa keasyikan tersendiri, walaupun Marimate menyadari bahwa sangat memungkinkan terjadi aksi terror bom di Stadion dan memang sudah pernah terjadi di Stadion Kasintuwu Poso, 3 Agustus 2006. 

Memang pernah juga terngiang peristiwa pemboman yang terjadi dibeberapa hotel seperti  Hotel President (sekarang Hotel Nikko) 14 Mei 1986. Hotel di Surabay, 30 Sep. 1991. Hotel Jayakarta – Jakart, 9 Juni 2002. Hotel JW Marriott (1) Jakarta, 5 Agustus 2003. Kecurigaan itu dipaksakannya agar hilang dari benaknya. Tekatnya sudah bulat, dan Marimate bersiap untuk mengambil uangnya dari bank. Marimate mengunjungi sebuah bank untuk mengambil sejumlah uang. Kalau untuk mengambil sejumlah tertentu dapat saja melalui ATM, akan tetapi Marimate bermaksud untuk mengambil jumlah yang lumayan, maka harus mengambilnya secara antrian di counter sebuah Bank yang cukup besar. Banyak manusia yang berjejer dibeberapa antian untuk urusan uang di bank itu, temasuk Marimate. Pikirannya pun sempat terngiang akan peristiwa yang pernah terjadi di BCA Pecenongan Jakarta, 4 Okt. 1984, kebetulan dia berada di bank yang sama. Rasa takut ditekannya dalam-dalam selama masa antrian. Tiba pada gilirannya, diapun berhasil mendapatkan uangnya sejumlah yang dibutuhkannya tersebut. 

Tekat bulat untuk menjalani hidup ini dengan kesenangan diwujudkan oleh Marimate untuk register di sebuah hotel bintang dengan pertimbangan bahwa semua ada tersedia dalam satu hotel. Lalu Marimate memilih Hotel Marriott, yang walaupun sepengetahuannya sudah pernak terjadi terror bom dahsyat disana, namun logika berpikirnya mengatakan “massya orang tua mau kehilangan tongkat dua kali” demikian pikirnya mengingat-ingat petuah lama yang pernah didapatnya dari pelajaran sekolah puluhan tahun lalu. Marimate memasuki lobby hotel dan mendaftarkan diri di front-desk Hotel Marriott untuk jangka waktu nginap yang cukup lama. Marimate menikmati hidupnya di tempat yang berkaliber dunia tersebut. Memang nikmat hidup ini pikirnya. 

Pada tanggal 17 Juli 2009 Marimate masih menikmati hidupnya di Hotel Marriot, dan tiba-tiba bommm…… lalu bommmm terjadilah dua ledakan bom yang menggemparkan di dua tempat yang berdekatan. Mayat berhamburan, tubuh-tubuh berlumuran darah bagian-bagian gedung hancur itulah terror bom yang terjadi di Hotel Marriott dan Ritz Carlton. Tenyata pepatah yang dulu pernah dipelajadi oleh Marimate tidak berlaku lagi pada jaman edan sekarang. Hotel Mariott puk kena bom untuk kedua kalinya. 

Terdata daftar para korban, banyak yang mencari nama-nama, semua media meliput, rumah sakit dipenuhi oleh tubuh-tubuh yang berlumuran darah dan sebagian ada yang hancur, sebagian lagi ada yang berpatahan anggota tubuhnya, sebagian lagi ada yang ditembus oleh baut dan mur yang meledak dari bom, sebagian lagi ada yang hangus terbakar, dan sebagian lagi tak mampu berkata-kata karena mengalami shock. Lalu ada yang mencari-cari nama Marimate di dalam daftar yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Nama tersebut tidak ditemukan. Dicari dan tidak ditemukan…. Ya memang Marimate hanyalah seorang yang tercipta dikepala Maridup. Jangan cari lagi nama Marimate, tetapi carilah nama Nurdin M Top dan kaki tangannya supaya terror bom tidak terulang lagi di bumi Indonesia. THE END.

Back home again to see more>>>