MENELUSURI JEJAK TEROR BOM DI INDONESIA 

Artikel ini ditulis dalam dua tahap penulisan yang berusaha menggambarkan hubungan-hubungan kejadian aksi terorisme dengan peledakan bom yang terjadi secara umum di Asia Tenggara seperti di Filippina dan Thailand dan khususnya di Indonesia dimana otak pelakunya adalah warga Malaysia. 

Melihat terjadi lagi aksi terror bom di Indonesia seperti yang baru terjadi di dua hotel di kawasan Mega Kuningan Jakarta pada Jumat 17 Juli 2009 dan kejadian yang berulang di Hotel JW Marriott untuk kedua kalinya, setelah pertama kali pernah terjadi pada 5 Agustus 2003, termasuk ledakan yang bersamaan yang terjadi ini di Hotel The Ritz Carlton, maka ada kecurigaan lain yang menggema di alam pikiran untuk menelusurinya lebih dalam akar permasalahan dan motif yang sebenarnya. 

Bila kita mengingat-ingat kembali kenangan pahit kronologi terror bom yang pernah terjadi di Indonesia, maka Indonesia menjadi Negara yang dalam keadaan tidak perang mengalami terror bom terbanyak. Tidak kurang sebanyak 92 kali kasus bom sejak pertamakali terjadi sewaktu Presiden-1 RI merkunjung ke salah satu perguruan di Cikini Jakarta dimana bom diledakkan dalam upaya pembunuhan presiden di tahun 1962. Pada masa itu memang terjadi suasana panas perpolitikan di Indonesia, dan pada saat bersamaan ada konflik dengan Malaysia. 

Banyak juga peristiwa terjadinya terror bom di Indonesia tidak berkaitan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, namun banyak pula kejadian itu yang berkaitan satu sama lainnya, seperti yang terjadi baru-baru ini di Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton pada tanggal 17 Juli 2009. Kejadian yang saling berkaitan inilah yang perlu di ungkap karena terror bom tersebut sudah pasti masih akan berlanjut selama pihak kepolisian termasuk aparat hukum dan pemerintah belum mampu mengidentifikasi motif terror yang sebenarnya. 

Rangkaian terror bom yang saling berkaitan ini memang dianggap unik karena tidak ada tuntutan yang jelas dari pelaku kelompok terrorist. Banyak kelompok terroris yang menuntut satu tujuan tertentu agar mendapat perhatian terhadap tuntutannya baik dari masyarakat Indonesia sendiri atau dari Pemerintahan Indonesia, atau bahkan dari dunia Internasional. Sebagai contoh, peristiwa bom yang terjadi tanggal 13 September 1991 di Demak Jawa Tengah dilakukan oleh anak buah Xanana Gusmao, termasuk ledakan berikutnya di sebuah Hotel di Surabaya pada tanggal 30 September 1991 dapat diindikasikan motifasinya kearah tuntutan untuk membebaskan Timor Timur dari Integrasi dengan Indonesia, yang akhirnya perjuangan mereka memang berhasil bahwa Timor Timur akhirnya terlepas dari Indonesia. 

Contoh lain adalah rencana pemboman yang terjadi Kedutaan Besar Jepang dan Kedutaan Besar Kanada pada tanggal 13 Juni 1986 yang dilakukan dengan ancaman peledakan bom menggunakan roket yang dilakukan dari sebuah hotel bernama Hotel Presiden bermotifkan harta benda pampasan perang oleh Pemerintah Indonesia dari Jepang, sehingga kejadian sebelumnya pemboman yang dilakukan di Wisma Metropolitan dan Hotel Presiden (sekarang Hotel Nikko) tanggal 14 Mei 1986, jelas dilakukan oleh orang Jepang yang menamakan dirinya Brigade Anti Imperialisme

Kaitan dengan Kasus Tanjung Priok 12 September 1984, TNI tertuduh melakukan pelanggaran HAM yang menelan 79 korban; 24 korban meninggal dan 55 orang korban luka. Kaitan peristiwa ini terjadilah pemboman di beberapa tempat seperti peledakan BCA Pecenongan Jakarta tanggal 4 Oktober 1984 yang melibatkan beberapa tokoh yang kecewa atas penyelesaian Kasus Tanjung Priok, dan kemudian peledakan sebuah bus malam Pemudi Express di Banyuwangi Jawa Timur yang dilakukan oleh Abdulkadir Alhasby juga disebutkan berkaitan dengan Kasus Tanjung Priok. Kasus ini tidak ada terindikasi bahwa pelaku pemboman mengarahkan peristiwanya menjadi konflik horizontal, namun lebih tertuju kepada kekecewaan kepada penyelesaian kasus-kasus oleh pemerintah. 

Ada indikasi terjadinya pemboman untuk menarik simpati massa dan perhatian umum yang dilakukan oleh GAM yang menuntut agar Aceh merdeka dari NKRI. Kejadian bom di Rumah Susun Senen Jakarta tanggal 18 Januari 1998 termasuk bom di Asrama Mahasiswa Iskandar Muda Jalan Guntur Manggarai Jakarta tanggal 10 Mei 2001. Kemudian seorang GAM dan seorang tukang Mie-Aceh meledakkan bom di Kota Medan tahun 2004. Peristiwa pemboman yang berkaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka tidaklah terkoordinasi oleh GAM secara terpusat sehingga peristiwanya tidaklah bergaung menjadi konflik horizontal kepada berbagi etnis masyarakat Indonesia. Tuntutan GAM sangat jelas terfokus kepada pemisahan Aceh dari NKRI sehingga GAM tidak mengarahkan aksinya menjadi konflik etnis di Indonesia melainkan terfokus kepada Pemerintah Indonesia. Namun perlu dicermati bahwa keterlibatan asing sangat kental dengan GAM. Banyak Negara asing yang mendukung GAM dalam men-supply persenjataan tetapi ada Negara tertentu yang melibatkan diri dalam mendukung GAM secara tersembunyi yang bersikap seperti ‘Singa berbulu Domba’. Tujuan utama Negara tertentu tersebut untuk membuat Indonesia tidak menjadi NKRI, maka konflik GAM dengan Pemerintah Indonesia adalah rancangan terpisah yang boleh disebut sebagai Plan-B, sementara yang masuk dalam Plan-A adalah mengacaukan tatanan kemasyarakatan berbangsa agar terjadi konflik horizontal yang memunculkan kecurigaan satu dan lainnya melalui aksi terror bom yang berlangsung selama ini. 

Sekilas Sejarah Berdirinya Negara-negara di Asia Tenggara: 

Indonesia merdeka adalah melalui perjalanan panjang dari peristiwa-peristiwa historik yang berawal dari terjajahnya Asia Tenggara oleh bangsa-bangsa Eropah, seperti Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol, Prancis, termasuk  Amerika. Sebelum masuknya kekuasaan bangsa-bangsa Eropah di Asia Tenggara maka Asia Tenggara sudah pernah bersatu dalam penguasaan kerajaan yang disebut Sriwijaya yang kemudian berlanjut dengan penguasaan oleh Majapahit. Meredupnya kekuasaan Majapahit di Asia Tenggara menjadi kesempatan bagi bangsa-bangsa Eropah yang disebutkan di atas menguasai Asia Tenggara. Semasa Perang Dunia-II praktis Asia Timur termasuk Asia Tenggara dikuasai oleh Jepang. Setelah berakhirnya Perang Dunia-II ditandai dengan jatuhnya Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika, maka kesempatan itulah menjadi sejarah utama bagi Indonesia untuk Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Filippina dijajah oleh bangsa Spanyol selama  265 tahun dari tahun 1565 sampai 1821 dan selama 77 tahun berikutnya menjadi salah satu provinsi Kerajaan Spanyol sampai tahun 1898 kemudian resmi dinyatakan merdeka, namun semasa Perang Spanyol-Amerika di tahun1898, maka Filippina dikuasai oleh Amerika dan menjadi persemakmuran dibawah naungan Amerika Serikat. Setelah berakhirnya Perang Dunia-II, maka Filippina merdeka pada tanggal 4 Juli 1946, melingkupi sebanyak 7.107 pulau. 

Thailand memang belum pernah dijajah oleh bangsa Eropah, dan menjadi satu-satunya Negara Asia Tenggara yang tidak pernah terjajah oleh bangsa lain. 

Malaysia, Singapura, Brunei: Pertamasekali adanya kesultanan di Semenanjung Malaya adalah Kesultanan Melaka yang didirikan oleh seorang pangeran dari Sriwijaya bernama Parameswara. Kemudian Parameswara tidak mau tunduk kepada Sriwijaya maka Kesultanan Melaka bermaksud ditaklukkan sehingga Parameswara melarikan diri ke Tamasek (Singapura sekarang) dan dilindungi oleh Temagi seorang bupati dari Siam (Thailand sekarang). Kemudian Parameswara membunuh sang bupati dan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Tamasek, yang kemudian dikuasai Majapahit setelah Parameswara melarikan diri dan mendirikan kerajaan baru di Semenanjung Malaya. Keturunannya Raja Sri Rama Vikrama berganti nama setelah memeluk Islam menjadi Sultan Sri Iskandar Zulkarnain Syah atau Sultan Megat Iskandar Syah yang melanjutkan Kesultanan Melaka dan diakui oleh kekaisaran Cina sebagai penguasa Melaka dan Tamasek yang kemudian disebut Semenanjung Malaya. Melaka ditaklukkan Portugal tahun 1511 dan Sultan Sri Iskandar Zulkarnain Syah melarikan diri ke Kampar Riau dan meninggal di sana. Keturunannya mendirikan beberapa kesultanan seperti Kesultanan Perak dan Kesultanan Johor. Portugis menaklukkan Semenanjung di tahun 1511 dan inilah mulainya penguasaan bangsa Eropah di Semenanjung Malaya. Belanda datang dan bersekongkol dengan Kesultanan Johor untuk merebut Semenanjung Malaya dari Potugis di tahun 1641. Tenggang waktu bersamaan Inggris menguasai Sumatra yang dikomandoi dari Kalkuta di India. Inggris juga menyewa pulau Penang dari Sultan Kedah di tahun 1786. Semasa peralihan kekuasaan antara Inggris dan Belanda mengenai Sumatra dan Semenanjung Malaya, banyak penduduk dari Sumatra, terutama Aceh, Batak, Minang dan Riau, termasuk Nias yang berpindah ke Semenanjung Malaya kebanyakan karena budak yang diperjual belikan, juga karena terpaksa melarikan diri disebabkan terjadinya perang saudara (Perang Paderi). Belanda yang menguasai Semenanjung dan Inggris yang menguasai Pulau Sumatra mengadakan perjanjian kesepakatan yang disebut Traktat London tahun 1824, sehingga kedua penguasaan wilayah ini dipertukarkan sehingga Semenanjung Malaya dikuasai oleh British East India Company dan Sumatra dikuasai oleh VOC Belanda. 

Setelah selesai Perang Dunia-II, Semenanjung Malaya, Singapura, Serawak, Brunai dan Sabah dikembalikan kepada Inggris dan disebut Uni-Malaya di tahun 1946. Kemudian banyak terjadi pemberontakan terutama oleh Partai Komunis Malaya. Maka dijajakilah pembentukan Federasi Malaya hingga dimerdekakan tanggal 31 Agustus 1957 dengan nama Federasi Malaya, namun Singapura tidak termasuk di dalamnya, kemudian Brunai juga tidak ikut. Brunai dan Singapura berniat mendirikan Negara sendiri-sendiri terpisah dari Federasi Malaya. 

Pada tahun 1961, Inggris berencana membentuk Federasi Malaysia yang menggabungkan Semenanjung Malaya dengan Singapura, Kesultanan Brunei, Serawak dan Kalimantan Utara yang menjadi sabah, akan membentuk Negara Malaysia. Brunai menolak ikut Negara Malaysia, tetapi Singapura mencoba ikut di tahun 1963 namun kemudian mengundurkan diri di tahun 1965 dan merdeka tanggal 9 Agustus 1965. Pendirian Negara Singapura langsung disetujui oleh Malaysia karena memang dianggap bukan Melayu yang notabene harus Islam. Lain halnya dengan Brunai yang tidak mau bergabung menjadi Malaysia, melainkan ingin merdeka sendiri, terpaksa harus mengalami pemberontakan yang dipromotori oleh Malaysia sebagai biang keladinya, bahkan rencana pembunuhan Sultan Brunai sehingga meminta perlindungan Inggris di Singapura. Sebenarnya Serawak dan Sabah bahkan sampai ke Filippina masuk dalam kekuasaan Kesultanan Brunai. James Brooke tahun 1839 menguasai Serawak dan kemudian berkembang penguasaannya sampai tahun 1984 saat merdekanya Kesultanan Brunai masih dibawah kekuasaan Inggris, kemudian merdeka pada tanggal 1 Januari 1984. 

Indonesia menganggap rencana penggabungan Semenanjung Malaysia, Singapura, Brunai, Serawak, dan Sabah adalah boneka Inggris yang menjadi ancaman. Demikian pula Fillippina tidak dapat menyetujuinya karena Sabah dianggap sebagai wilayahnya yang syah dihadiahkan oleh Kesultanan Brunai pada tahun 1698 karena Kesultanan Sulu berhasil meredakan perang saudara antara Sultan Abdul Mubin dengan Pengeran Mohidin akibat ahli waris Kesultanan Brunai. Filippina dan Indonesia setuju menerima pembentukan Malaysia dengan melaksanakaan referendum yang diorganisasikan oleh PBB tahun 1963, dan apabila memang mayoritas dari wilayah menyetujuinya maka Malaysia dapat dikatakan syah, itu menurut Bung Karno. 

Malaysia menganggap bahwa masalah federasi adalah masalah dalam negeri mereka yang tak boleh dicampuri oleh orang luar. Issu Indonesia dan Filippina ikut campur dalam urusan dalam negri memicu terjadinya demonstrasi Anti-Indonesia. Para demonstran menyerbu gedung KBRI dan merobek-robek foto Soekarno. Para demonstran juga membawa Lambang Negara Indonesia Pancasila kepada Perdana Menteri Malaysia – Tunku Abdul Rahman yang kemudian menginjak-injak Lambang Negara Pancasila tersebut.  Presiden Soekarno pada saat itu menjadi sangat marah sehingga keluarlah istilah “Ganyang Malaysia”. Seandainya anda rakyat Indonesia melihat kejadian yang menghina Indonesia, bagaimana sikap anda terhadap Malaysia? 

Apa yang dilakukan oleh Malaysia sejak terbentuknya Negara-negara di Asia Tenggara? Jawaban dari pertanyaan ini adalah hal-hal yang terbuka diketahui dan dialami oleh Negara-negara yang ada di Asean seperti Indonesia, Filippina, Singapura, Thailand, Brunai. Berikut ini adalah fakta yang berbicara: 

Siapa Malaysia? 

  1. Sejak munculnya ide pembentukan Malaysia, maka Federasi Malaya yang dimerdekakan oleh Inggris tanggal 31 Agustus 1957, dan para petinggi yang berkuasa utamanya dari Semenanjung Malaya sangat jelas terlihat ingin meniru suasana yang ada di Indonesia sebagai The Big Brother yang sangat termasyur diseluruh dunia dalam pencapaian politik para pendahulu, berhasil mempersatukan Nusantara yang begitu besar, rumit, kaya, dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan segala retorika proses kemerdekaannya. Para petinggi Federasi Malaysia di Semenanjung Malaya ternyata tidak mampu membentuk Malaysia untuk semua wilayah yang pernah dikuasai Inggris, sementara Indonesia dapat dipersatukan untuk semua wilayah bekas jajahan Belanda, walaupun ambisi Soekarno sebenarnya adalah membentuk satu Negara bekas kekuasaan Majapahit, yang akan meliputi Malaysia, Filippina, Vietnam, Kamboja, Burma, Thailand.
  2. Dengan Brunai: Malaysia menekan Kesultanan Brunai untuk masuk menjadi Malaysia tetapi Kesultanan Brunai menolak, maka muncullah aksi pemberontakan di Kesultanan Brunai yang nyaris membunuh Sultan Brunai, sehingga melarikan diri ke Singapura meminta perlindungan dari Inggris. Malaysia terlibat konflik dengan Brunai mengenai Kepulauan Spratley. Brunai menuntut Serawak dari Malaysia karena sejak jaman dahulu memang daerah yang dikuasai oleh Kesultanan Brunai, khususnya wilayah Limbang. Pulau Kuraman dan pulau-pulau lainnya diantara Brunai dan Labuan menjadi pertikaian antara Brunai dan Malaysia. Banyak hal lainnya yang menjadi pertikaian antara Malaysia dan Brunai menyangkut batas daratan dan batas lautan.
  3. Dengan Filippina: Malaysia konflik dengan Filippina mengenai Kepulauan Spratley. Malaysia konflik dengan Filippina mengenai Scarborough Shoa. Malaysia konflik dengan Filippina atas wilayah Sabah, karena daerah ini sejak abad-17 sudah milik Filippina atas hadiah oleh Kesultanan Brunai kepada Sultan Sulu. Malaysia terpaksa membayar royalty kepada keluarga Sultan Suluh sampai saat ini.
  4. Dengan Singapura: Pada dasarnya tidak ada konflik terjadi antara Singapura dan Malaysia kecuali pada saat gabungnya Singapura dengan Malaysia di tahun 1963, dimana UMNO partai terbesar dan berkuasa di Malaysia sangat berseberangan faham dan rasialis dengan Partai Rakyat Singapura, sehingga Singapura keluar dari Malaysia di tahun 1965. Banyak konflik perbatasan antara Malaysia dan Singapura yang masih belum terselesaikan sampai saat ini, termasuk claim atas pulau-pulau dan batas-batas darat dan laut.
  5. Dengan Thailand: Ada konflik yang menegang antara rakyat Thailand dan Rakyat Malaysia akibat adanya pemberontakan kaum Melayu Muslim di Selatan Thailand. Kaum Melayu Muslim yang ada di tiga provinsi yang berbatasan dengan Malaysia seperti Yala, Pattani, dan Narathiwat dimana penduduknya mayoritas Muslim menjadi konflik dengan penduduk minoritas Budha, maka sering terjadi terror pemboman, pembakaran, penembakan dan pembunuhan sehingga sejak tahun 2004 sudah lebih dari 3500 orang terbunuh. Para teroris yang beraksi di Thailand dilatih dan dikoordinir dari Malaysia sehingga Thailand menuduh Malaysia sebagai basis memfasilitasi pemberontakan kaum Muslim di Thailand dan hubungan diplomatik kedua negarapun sering menjadi renggang sampai saat ini, termasuk claim atas pulau-pulau dan batas-batas darat dan laut.
  6. Dengan Vietnam: Disamping konflik pulau Spratley, Malaysia juga menguasai pulau-pulau yang diklaim Vietnam sebagai miliknya.
  7. Dengan Amerika: Malaysia semasa kepemimpinan Mahatir Muhammad banyak mengalami konflik politik walaupun Amerika Serikat adalah Negara yang paling besar modal investasinya di Malaysia. Kritikan-kritikan sangat pedas sering dilontarkan Malaysia terhadap Amerika Serikat terutama tentang konflik Timur Tengah.
  8. Dengan Indonesia: Konflik Indonesia dengan Malaysia sudah dimulai sejak Malaysia masih menjadi Federasi Malaya yang dihadiahkan Inggris. Berubahnya Malaya menjadi Malaysia yang didominasi oleh para kesultanan di Semenanjung, sudah memunculkan berbagai konflik pada Negara-negara yang baru muncul merdeka setelah Perang Dunia-II usai. Singapura keluar dari Malaysia, Brunai yang tidak mau bergabung dengan Malaysia, Indonesia sebagai pendahulu Negara yang merdeka di Asia Tenggara menjadi titik awal munculnya konflik-konflik kepentingan, termasuk perbatasan wilayah, ego-hagemoni bangsa yang berusaha saling memunculkan identitas ikon di Asia Tenggara.
  9. Kasus GAM di Aceh memang tidak mengarah kepada konflik antara Indonesia dengan Malaysia karena Indonesia tidak pernah bercuriga kepada Malaysia yang menjadi basis awal gerakan pengacau di Aceh. Sama seperti di Thailand Selatan bahwa gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh Melayu Muslim di Thailand Selatan banyak dibiayai oleh kaum Melayu Muslim asal Thailand Selatan yang sudah mapan di Malaysia. Pendanaan dan supply senjata dilakukan dari Malaysia. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) juga memulai aksinya berbasis di Malaysia oleh penduduk Aceh yang sudah bermukim di Malaysia sejak awal abad-19 atau akhir abad-18. Kenyataan lain bahwa para pemimpin dan otak pemberontakan yang ada di kedua Negara Indonesia di Aceh (GAM) dan Selatan Thailand (MPRMP = Majelis Permusyawaratan Muslim Patani) sama-sama bermukim di Swiss untuk mengatur kekacauan yang ada di kedua kawasan Indonesia dan Thailand.
  10. Kasus-kasus imigran Indonesia yang berada di Malaysia yang berjumlah sekitar 3 juta orang (±10% jumlah penduduk Malaysia) merupakan persoalan yang sering menjadi issu konflik antar kedua Negara. Kaum Imigran Indonesia yang ada di Malaysia mayoritas berasal dari Pulau Jawa sering mengalami gesekan dengan pribumi Melayu yang asalnya memang kebanyakan dari Pulau Sumatra sebagai pembentuk kesultanan-kesultanan sejak jaman dahulu. Kaum Melayu-Jawa yang sudah menjadi pribumi Malaysia secara naluri mengembangkan kultur Jawa yang melembaga sebagai identitas bangsa Malaysia dengan maksud menetralisir gesekan bahwa Kaum Melayu-Jawa adalah bangsa Malaysia. Maka terjadilah keris, batik, seni tari, dan lain-lainnya di-claimed sebagai budaya asli Malaysia. Maka ributlah kita di Indonesia. Sekarang ini sedang berkembang persoalan etnis dimana Kaum Melayu-Batak di Malaysia tidak lagi mengaku sebagai Batak, lalu mengembangkan issunya ke Tanah Batak yang menimbulkan ekses diantara sub-Bangsa Batak yang ada di Tanah Batak, sementara kultur Batak sangat kental dengan garis keturunan  bersilsilah marga yang disebut Tambo (Tarombo).
  11. Kasus-kasus penyiksaan Imigran Indonesia sebenarnya hanyalah jumlah kecil dari Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang kebanyakan bekerja kepada majikan non-Melayu dimana mereka bekerja umumnya pada etnis Cina yang ada di Malaysia. Namun rakyat Indonesia menganggapnya sebagai pelecehan yang bernuansa konflik bangsa Melayu-Indonesia dan Melayu Malaysia. Etnis Cina di Malaysia memungkinkan untuk diberi ijin mempekerjaan tenaga asing seperti dari Indonesia dan dari Negara-negara Asia Tenggara lainnya karena mereka beralasan kuat mempekerjakan tenaga kerja asing untuk di rumah, oleh karena keluarga etnis Cina di Malaysia umumnya bekerja di sektor non-formal oleh suami-istri yang harus meninggalkan rumah mereka masing-masing. Sementara masyarakat pribumi yang kebanyakan bekerja disektor formal dan mendapat subsidi dari pemerintah hampir tidak diberikan ijin mempekerjakan tenaga kerja asing seperti PRT, kecuali untuk kaum strata sosial yang lebih tinggi seperti Datuk.
  12. Masalah Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan juga pernah menjadi konflik antara Indonesia dan Malaysia dimana kemudian Indonesia dikalahkan di Mahkamah Internasional. Lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari penguasaan Indonesia menunjukkan kesan ketidak pedulian Pemerintah Indonesia untuk urusan bangsa. Pemberdayaan masyarakan di kedua pulau tersebut tidak pernah mendapat perhatian dari Pemerintah Indonesia. Malaysia secara licik ternyata telah membangun kedua pulau tersebut sehingga simpati penduduk tentu saja tidak berpihak kepada Pemerintah Indonesia yang tidak pernah mereka kenal. Akan banyak pulau-pulau kecil terluar Indonesia yang berbatasan dengan Negara-negara tetangga hilang begitu saja dengan hampang oleh Negara tetangga. Apalagi bila suatu saat terjadi kasus yang menjadi konflik antar Negara, dan bila diambil opsi sejenis referendum seperti yang terjadi di Timur Timur, maka akan hilanglah banyak pulau-pulau karena rakyat di sana tidak pernah mengenal siapa Pemerintah Indonesia. Nuansa berbangsa di pulau-pulau seperti ini tidaklah pernah masuk dalam agenda kerja Pemerintah Indonesia. Jangan salahkan rakyat yang terpinggirkan itu……
  13. Konflik perbatasan di darat seperti di Kalimantan memang menjadi rawan konflik. Pemberdayaan rakyat perbatasan oleh Pemerintah Indonesia bukanlah agenda yang diprioritaskan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih maju di Malaysia dengan sendirinya lebih memakmurkan rakyar Malaysia di perbatasan dibanding rakyat Indonesia yang tetap terpinggirkan. Kegiatan perekonomian tentu akan berpihak kepada kawasan perbatasan di Malaysia. Maka, bila tiba suatu saat terjadi konflik perbatasan dimana harus terjadi sejenis referendum, maka hilang pulalah batas wilayah termasuk hilang rakyatnya Indonesia.
  14. Kasus belakangan yang mencuat ke permukaan di Ambalat juga membawa perhatian yang mengkhawatirkan kemampuan Pemerintah Indonesia untuk menjaga keutuhan wilayah Indonesia di dalam NKRI. Mudah mudahan Pemerintahan Indonesia sekarang dan pemerintahan Indonesia selanjutnya kalau memang bangsa ini ingin dipertahankan menjadi satu dalam NKRI agar memprioritaskan keutuhan berbangsa yang ditunjang dengan tingkat perekonomian rakyat yang makmur sebagaimana pengejawantahan UUD’45.
  15. Melihat maraknya terror bom di Indonesia yang dilakukan oleh warga Malaysia, perlu pula ada kecurigaan bahwa aksi itu bukanlah dilakukan oleh pribadi orang Malaysia tetapi kemungkinan adanya keterlibatan Negara Malaysia atau federasinya berupa Negara-negara bagian. 

Dari catatan yang sudah terkuak secara Internasional bahwa Malaysia merupakan Negara yang memfasilitasi kelompok teroris yang beraksi di Asia Tenggara. Walaupun secara actual bahwa Negara Malaysia belum terbukti terlibat secara langsung dengan organisasi teroris yang beroperasi di Asia Tenggara, tetapi telah banyak bukti bahwa masyarakat Malaysia memang terbukti terlibat sebagai pelaku teroris diberbagai kawasan di Asia Tenggara seperti di Indonesia, Filipina, Thailand. Sekelompok masyarakat Malaysia mengumpulkan dana untuk aksi terorisme di Thailand. Dr. Ashari dan Nurdin M. Top adalah warga Malaysia yang telah terbukti sebagai otak terorisme di Indonesia dan bahkan mereka juga terlibat dengan aksi terorisme di Filippina, dan anehnya mayat Dr. Ashari sebagai terrorist kakap di Asia Tenggara diterima dengan biasa-biasa saja oleh pemerintahan Malaysia tanpa ada pernyataan kecaman terhadap aksi-aksi terror yang berkembang selama ini. Ini merupakan bukti bahwa Malaysia dapat dicurigai ada dibalik aksi terorisme yang ada di Asia Tenggara. Kalau masih jauh tuduhan terhadap Negara Malaysia, mungkin lebih dekat kecurigaan kepada kesultanan-kesultanan yang ada di semenanjung terindikasi keterlibatannya.

Lanjutannya di Brotherhood Conspiracy Part-2

Back home to see more>>>