Hadramaut, Hadhramout adalah nama sebuah tempat di Jazirah Arab bagian selatan tepatnya di daerah yang disebut Hadramaut di Yaman. Hadramaut (bahasa Arab: حضرموت‎  [Ḥaḍramawt]) yang terdiri dari dua kata Hadhra = hadir dan mout = maut atau kematian. Secara umum diartikan sebagai ‘menghadirkan maut’.

Peta Hadramaut (Lokasi warna ungu)

Peta Hadramaut (Lokasi warna ungu)

Sebagian besar kaum keturunan Arab di Indonesia umumnya berasal dari wilayah ini. Ini dapat ditelusuri dari nama-nama marga mereka, seperti Ba’asyir, Bawazier, Sungkar, Al Habsyi, Al Attas, Al Kathiri, Assegaff, Alaydrous, Badjubier, Al Khered, Al Kaff, Bin zagr, Bin Abdat, dan lain sebagainya yang mungkin penulisannya sudah ada yang berubah. Sejak awal abad-19 Suku Hadramaut dalam jumlah besar menyeberang ke Asia Selatan sepert Hiderabad, Batkal, Malabar, dan juga ke Asia Tenggara seperti Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Singapura, termasuk Sulawesi. 

Tentu kita tidak lantas menyebutkan nama seperti Abu Bakar Ba’asyir yang mendirikan Jamaah Islamiyah (JI) yang berhubungan dengan Al Qaedah Osama Bin Laden teroris Internasional, Majelis Mujahidin Indonesia (MII), Pondok Pesantren Al Mu’min di Ngruki, Jamaah Ashorut Tauhid (JAT) yang memproklamirkan dirinya sebagai Amir (raja) selamanya, menjadi ‘menghadirkan maut’ di Indonesia walaupun beliau secara genealogy memang berasal dari Hadramaut, karena banyak pula marga-marga keturunan Arab ini yang berjasa di Indonesia, dan mereka yang cukup popular adalah seperti: 

  • Abu Bakar Ba’asyir (Pendiri Jamaah Islamiyah [JI] yang dituduhkan berhubungan dengan Al Qaedah Osama Bin Laden teroris Internasional, Majelis Mujahidin Indonesia [MII], Pondok Pesantren Al Mu’min di Ngruki, Jamaah Ashorut Tauhid [JAT] yang memproklamirkan dirinya sebagai Amir [raja] selamanya. Juga menolak Pancasila dan melarang menghormati bendera Merah Putih).
  • Abdullah bin Ahmad Sungkar atau Abdullah Sungkar (Pendiri Pondok Pesantren Al Mu’min bersama Abu Bakar Ba’asyir, termasuk yang menolak Pancasila dan melarang menghormati bendera Merah Putih).
  • Abdul Qohar (Pendiri Pondok Pesantren Al Mu’min bersama Abu Bakar Ba’asyir, termasuk yang menolak Pancasila dan melarang menghormati bendera Merah Putih).
  • Abdallah Baraja (Pendiri Pondok Pesantren Al Mu’min bersama Abu Bakar Ba’asyir, termasuk yang menolak Pancasila dan melarang menghormati bendera Merah Putih).
  • Husein Ali Alhasby (Tertuduh pelaku peledakan Candi Borobudur 1985).
  • Al-Habib Mohammad Rizieq bin Husein Syihab (Pendiri Front Pembela Islam [FPI] dan terlibat peristiwa Monas).
  • Umar Al Faruq (Teroris dari Jaringan Al Qaeda di Indonesia).
  • Riduan Isamuddin  Alias Hambali (Teroris tersangka pembom JW Marriot 2003).
  • Gun Gun Rusman Gunawan alias Abdul Karim alias Bukhori adik kandung Hambali (Penghimpun dana peledakan bom JW Marriott 2003).
  • Habib Abdurrahman Assegaf  (Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII)).
  • K.H. Ahmad Surkati Al-Anshari (pendiri Al-Irsyad).
  • AR Baswedan (Mantan Menteri Penerangan 1947).
  • Abdurahman Saleh (Mantan Jaksa Agung, 2004-2007).
  • Ahmad Albar (Artis penyanyi rock kelompok God Bless).
  • Ali Alatas (Menteri Luar Negeri, 1988-1998).
  • Dr. Alwi Shihab (Menteri Luar Negeri, 1999-2001; dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2004-2005).
  • Dr. Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina Jakarta).
  • Assaat (pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS)).
  • Shiren Sungkar (Artis).
  • Fitria Elvy Sukaesih (Artis Dangdut).
  • Prof. Dr. Irjen Pol (Pur) Farouk Muhammad, MCJA (Mantan Gubernur PTIK/Kapolda NTB/Anggota DPD).
  • Fadel Muhammad Al-Haddar (Group Bukaka/ Gubernur Gorontalo).
  • Fuad Bawazier (Menteri Keuangan, 1998).
  • Prof. Dr. Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 1985-1993).
  • Lutfiah Sungkar (Ustadzah).
  • Hamdan Attamimi (Penyanyi Dangdut).
  • Husin Umar Alhajri (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiah Indonesia, 1940-2007).
  • Mar’ie Muhammad (Menteri Keuangan, 1993-1998).
  • Mark Sungkar (Aktor Indonesia).
  • Muchsin Alatas (Artis penyanyi dangdut).
  • Munir (Ketua LSM Kontras, aktivis anti kekerasan).
  • Munzir AlMusawa (Majelis Rsulullah Jakarta).
  • Prof. Dr. Quraish Shihab (Menteri Agama, 1998).
  • Rifat Sungkar (Atlet Balap ).
  • Rossy Depoyanti Syechbubakar (Atlet Nasional Tenis Meja).
  • Rusdy Bahalwan (Mantan pemain dan pelatih Tim Nasional Sepak Bola Indonesia).
  • Salim Al-Idrus (Pemain Sepak Bola : Pelita Jaya, Persib Bandung.
  • Saleh Afiff (Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri, 1993-1998).
  • Dr. Salim (Dewan Pertimbangan PKS).
  • Saggaf bin Mahdi Syechbubakar (Pimpinan Ponpes Nurul Iman Bogor).
  • Habib Idrus bin Salim al-Jufri (Pendiri Ponpes Al-Khairaat Palu).
  • Haddad Alwi (Pimpinan Cinta Rasul).
  • Taufik Alwi Syechbubakar, MM (Mantan Ketua STIKOM CKI/ Sespro Pascasarjana IMNI Jakarta).
  • Prof. Dr. Umar Shihab (MUI Pusat Jakarta).
  • Fikri Jufri (Wartawan dan pengusaha).
  • Ali Shahab (Budayawan Betawi/Wartawan).

Dan banyak keturunan Hardamaut lainnya yang menjadi ulama-ulama dan ustadz dan habib pimpinan ponpes yang tentusaja berkeinginan untuk mendidik masyarakat asli Indonesia dengan keagamaan yang surgawi, walau ada beberapa diantara kaum ini yang masuk dalam DPO karena aksi terorisme di Indonesia. Kaum Hadramaut yang ada di Indonesia bahkan sudah lebih banyak daripada di negara asalnya. Kalau mereka sudah menghirup udara yang lebih wangi di Indonesia diantara ratusan etnis asli yang mungkin belum pernah semujur mereka masya pula mereka mau menghancurkan Indonesia bercerai berai, dan tentu tidak malu mengatakan bahwa ada juga sebagian masyarakat yang masih goblok menganggap layaknya mereka seperti Nabi Muhammad SAW., tentu kita harus menjauhkan pikiran dari kecurigaan itu. 

Di Singapura banyak juga terdapat orang Arab yang berasal dari marga-marga Hadramaut. Pada tahun 1824 jumlah mereka baru tercatat 15 orang sementara lima tahun kemudian tercatat menjadi 34 orang dan hanya 3 wanita arab, namun pada data tahun 1990 mereka sudah berjumlah 10.000an termasuk beberapa pernah memegang jabatan penting pemerintahan Singapura. Kaum ini dalam kependudukan Singapura masuk dalam kelompok Melayu dan awalnya mereka berasal dari Sumatra dan Sulawesi. 

Hadramaut juga merupakan nama suku Arab yang merujuk kepada nama keluarga atau marga yang dipakai oleh keturunan bangsa Arab, yang berasal dari daerah Hadramaut di Yaman, yang letaknya di Jazirah Arab bagian selatan. Berdasarkan asalnya, marga Arab Hadramaut umumnya dapat dibagi menjadi 2 golongan; yaitu marga-marga keturunan suku Arab Yaman asli yang mengklaim sebagai keturunan dari Nabi Nuh AS., melalui jalur Hadhramaut bin Gahtan, dan marga-marga suku Arab pendatang yang mengklaim keturunan Nabi Muhammad SAW., melalui jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir yang hijrah ke Yaman sekitar tahun 319 H (898 M). 

Nama-nama besar keturunan Hadramaut lainnya adalah Osama bin Laden yang masih lingkaran dalam keluarga Kerajaan Saudi Arabia. Kekayaan keuangan keluarga ini dikelola oleh perusahaan bernama Saudi Binladin Group yang kebanyakan bergerak dibidang konstruksi dan bahkan memiliki saham besar di Microsoft dan Boeing. 

Koloni Arab dari Hadramaut diperkirakan telah datang ke Indonesia sejak abad ke-13. Sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah, misalnya seperti “Basyeiban” dan “Haneman”, di Indonesia masih dapat ditemukan. Hal ini karena keturunan Arab Hadramaut di Indonesia saat ini diperkirakan jumlahnya lebih besar daripada di tempat leluhurnya sendiri. 

Mereka mengambil kisah orang-orang Arab kuno dari zaman sebelum orang-orang Yunani mencapai lembah Arabia. Alkisah, dahulu kala Lembah Arabia merupakan tempat orang-orang barbar yang suka berperang dan saling membunuh. Kisah kejantanan dan keperkasaan mereka dalam perang selalu mereka banggakan dan mereka luapkan dalam bentuk puisi, sya’ir dan juga memberi pujian kepada pahlawan-pahlawan dari suku-suku dan kabilah mereka masing-masing. Pada waktu itu di bagian selatan lembah Arabia (Hadramaut) tinggal seseorang yang paling ditakuti oleh semua keluarga, bani, suku dan kabilah di seluruh arab. Orang tersebut bernama Amir Bin Qahtan, dia ditakuti karena keberaniannya, kejeliannya dan keperkasaannya. Setiap kali Amir Bin Qahtan berpartisipasi dalam sebuah perang maka tempat tersebut akan berubah menjadi lembah kematian. Karena itulah suku-suku Arab pada waktu itu menamai tempat Amir Bin Qahtan tinggal sebagai hadhramout yang berarti Hadhra=hadir, mout=kematian yaitu di mana Amir Bin Qahtan berada, di situ pula kematian hadir bersamanya. 

Pada masa pasca-Nabi Muhammad SAW abad-7 & 8, kebanyakan dari mereka memeluk Islam dan menjadi pedagang dan petualang yang menghubungkan antara bagian timur benua Afrika (Sudan, Somalia, Eritrea) dengan bagian selatan benua Asia (India, Indonesia); dengan demikian menjadi pelaku Jalur Sutera laut. 

Kebanyakan dari mereka berdagang dengan mengikuti arah angin barat dan timur. Hal inilah yang memaksa mereka menunggu selama beberapa bulan sebelum mereka kembali ke kampung halaman mereka. Selama masa penungguan inilah interaksi antara mereka dengan penduduk asli terjadi. Sebagian di antara para pedagang itu berdakwah dan juga menikahi gadis-gadis pribumi dan kebanyakan dari mereka menetap di sana. 

Kalau kaum ini dikatakan sudah lebih banyak daripada ditempat asalnya dan telah membaur dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara maka potensi dan toleransi multietnis sudah menjadi modal untuk memajukan Negara dan bangsa Indonesia. 

Sumber Utama: Wikipedia

Back home to see more>>>