Keterkaitan Aksi Terror Bom Yang Terjadi Di Indonesia: 

Tahun 1962:

Presiden Soekarno yang sedang berkunjung ke sebuah sekolah di Perguruan Cikini Jakarta mengalami kejadian upaya pembunuhan sang presiden dengan peledakan bom. Presiden Soekarno selamat. 

Pada saat ini Indonesia dan Malaysia terjadi konflik hebat dimana Indonesia kurang menyetujui berdirinya Negara Malaysia. Konflik ini berwujud terjadinya istilah ‘Ganyang Malaysia” oleh Presiden Soekarno. Kejadian yang sama terjadi pada saat Brunei tidak bersedia masuk dalam Negara Malaysia maka sultan Brunei mendapat terror pembunuhan. 

Tahun 1976:

Mesjid Nurul Iman di Padang di bom tanggal 11 Nopember 1976. Pelaku bernama Timzar Zubil tak pernah tertangkap sehingga tidak pernah pula terungkap apa motif terror bom tersebut. 

Orang Minang banyak yang bermukim di Malaysia terutama semasa terjadinya pemutihan Islam oleh Paderi yang menghancurkan Kerajaan Pagaruyung yang sudah Islam, sehingga banyak juga orang Minang yang melarikan diri dan termasuk pula sebagai budak belian semasa Traktat London 1824 antara Belanda dan Inggris. Hubungan kekerabatan mereka sedikit banyak terputus karena berbeda Negara namun ada hubungan batin yang sangat gampang dipicu apabila ada suasana batin yang tidak terpuaskan, apabila terlihat perbedaan yang mencolok pada tingkat masyarakat bawah antar kedua Negara. Kita masih ingat Asmar Latin Sani yang rela menjadi pelaku bom bunuh diri Hotel JW Marriot di tahun 2003 adalah asal Sumatra Barat. 

Kita tentu ada mencatat bahwa pada tahun 2007, Komite Penegakan Syariat Islam (KPSI) Sumatera Barat pimpinan ketua H. Irfianda Abidin dan MMI Sumatera Barat pimpinan Zulkifli M. Siddik bersama tokoh, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam Sumatera Barat lainnya mendatangkan Ustadz Abu Bakar Baasyir dan berkunjung ke Harian Pagi Padang Ekspres. Baasyir berbicara di masjid Nurul Iman dari semula di lapangan Imam Bonjol. Juga tampil berbicara di kota-kota antara lain di Pariaman, Padangpanjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Kedatangannya disambut sangat antusias yang digambarkan sebagai pelepas dahaga. 

Diyakini bahwa Abu Bakar Baasyir mendakwahkan kebenaran Islam, akan tetapi melihat latar belakang pernyataan yang menolak Pancasila dan melarang menghormati bendera Merah Putih akan memunculkan asumsi lain, mengingat Ranah minang pernah menjadi pintu gerbang masuknya aliran keras Wahabiyah yang memicu perang saudara di Ranah Minang. Dalam konteks bernegara tentu akan timbul kecurigaan akan munculnya bibit-bibit yang menjadi akar terorisme atau boleh jadi sudah menjadi api dalam sekam. 

Tahun 1978:

Mesjid Istiqlal Jakarta di bom tanggal 14 April 1978. Pelaku tidak pernah tertangkap sehingga tidak diketahui motifnya. 

Pemboman mesjid di Padang dan Mesjid Istiqlal di Jakarta ini disinyalir sebagai upaya agitasi antar umat beragama di Indonesia. Tentu saja otak pelaku mengarahkan agar umat non-muslim menjadi tertuduh. 

Tidak berhasil membuat agitasi yang memunculkan sentiment agama di Ranah Minang, maka otak pelaku masih memakai emosi keagamaan untuk memecah rasa nasionalisme berbangsa di Indonesia dengan melakukan pemboman Mesjid Istiqlal di Jakarta dengan harapan segala etnis umat Islam di Jakarta yang heterogen dengan harapan akan langsung menuduh umat non-muslim yang melakukan pemboman.  Niat dari otak pelaku ini tidak kesampaian karena logika umat muslim yang mayoritas dari berbagai etnis di Indonesia menganggap “tak mungkin kaum minoritas bermain api’ untuk meruntuhkan Negara RI, dan tidak ada alasan prinsipil yang menganggap kaum minoritas agama menjadi kaum yang tertindas di Indonesia. 

Tahun 1984:

Gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Jalan Margono, Malang, Jawa Timur, 24 Desember 1984 setelah sebelumnya mencoba untuk mencari perhatian dunia dengan melakukan serangkaian peledakan bom di beberapa gedung BCA tanggal 24 Oktober 1984 seperti di BCA jalan Pecenongan, BCA Komplek Pertokoan Glodok, BCA Jalan Gajah Mada. 

Otak pelaku sudah mulai membentuk atau memanfaatkan kelompok organisasi. Upaya untuk mendapat simpati dari otak terror agar mendapat kucuran dana operasional dari kelompok terrorist Internasional, dilakukan sambil merampok bank. Terbukti terlibat adalah Gerakan Pemuda Ka’bah, sebagai organisasi anak asuhan partai PPP yang ternyata diusupi oleh orang-orang aliran keras. Anggota Gerakan Pemuda Ka’bah yang terlibat adalah Muhammad Jayadi, Chairul Yunus alias Melta Halim, Tasrif Tuasikal, Hasnul Arifin, Edi Ramli. 

Tahun 1985:

Candi Borobudur mendapat ledakan bom pada tanggal 20 Januari 1985 yang dilakukan oleh Husein Ali Alhasby yang kemudian menuduh pelakunya adalah Mohammad Jawad. Husein Ali Alhasby melanjutkan aksinya dengan melakukan pemboman bus malam Pemudi Ekspres di Banyuwangi Jawa Timur. 

Melihat mobilitas Husein Ali Alhasby melakukan pemboman di Candi Borobudur di Jawa Tengah dan kemudian berlanjut di Jawa Timur, maka pelaku adalah anggota yang terorganisir oleh kelompok teroris. Candi Borobudur merupakan symbol agama Budha yang menjadi situs perlindungan dunia, sehingga pemboman ini tentu bermotif agar pimpinan teroris dunia seperti Osama Bin Laden dapat mengetahui bahwa ada gerakannya yang sudah beraksi di Indonesia. 

Tahun 1999: 

Otak teroris yang beroperasi di Indonesia kembali memanfaatkan kelompok Islam seperti Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN). Belum berhasil mendapat kucuran dana besar dari kelompok teroris dunia, maka mereka beraksi merampok dengan melakukan pemboman di Plaza Hayam Wuruk 15 April 1999 dan dilanjutkan peledakan bom di Mesjid Istiqlal tanggal 19 April 1999 untuk mengarahkan tuduhan pelakunya adalah non-muslim. 

Para pelaku dari Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN) adalah Ikhwan, Naiman, Edi Taufik, Suhendi, dan Edi Rohadi, Eddy Ranto alias Umar, namun tuduhan terhadap mereka adalah kasus kriminal, dan pemerintah lengah karena tidak mengkaitkan aksi peledakan bom ini sebagai gerakan teroris yang ternyata sudah terorganisir secara rapi dibawah tanah. Terungkapnya adanya latihan militer di Desa Maseng, Caringin, Kabupaten Bogor oleh kelompok AMIN masih juga belum membuka mata para petinggi Negara dan pemuka agama malah sebaliknya ada tuduhan rekayasa oleh Polri. 

Tahun 2000: 

Pada tahun ini adalah rencana besar dari kelompok Islam garis keras yang sudah menjadi sarang teroris untuk melaksanakan aksinya. Sejak awal tahun ini di Kota Medan sudah menjadi tempat resmi pertemuan kelompok Islam garis keras ini untuk menyusun rencana besar aksinya, disamping memang dekat dengan Malaysia dan menjadi titik tengah pertemuan antara Malaysia dan Jawa Timur. Upaya agitasi untuk mengadudomba umat beragama di Indonesia terutama mengarahkan tuduhan aksi terror di Indonesia kepada kelompok non-muslim ternyata tidak berhasil, maka rencana mereka sudah matang untuk membuka diri dengan aksinya. 

Aksi teroris dimulai oleh kelompok ini dengan meledakkan bom di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Medan tanggal 28 Maret 2000 dan keesokan harinya tanggal 29 dilakukan lagi peledakan bom di Gereja Katolik Jalan Pemuda Medan. Jaringan teroris ini sudah disebarkan diseluruh Indonesia untuk mengambil momen yang tepat menggegerkan masyarakat Indonesia. 

Pada saat yang bersamaan di Negara tetangga Filipina juga terjadi aksi terror yang dilakukan oleh kelompok Islam garis keras di Filippina Selatan. Kelompok teroris di Filipina ini ternyata memang satu organisasi dengan teroris yang ada di Indonesia. Maka di bulan Agustus 2000, teroris di Indonesia melakukan aksi solidaritas dengan meledakkan bom di kediaman Kedutaan Besar Filipina. Pelaku pemboman ini adalah Abdul Jabar bin Ahmad Kandai, Fatur Rahman Al- Ghozi dan Edi Setiono alias Usman, dan anehnya pelaku hanya didakwa sebagai pelaku pidana dan bukan sebagai teroris. Sementara teroris yang di-plot di Medan memulai lagi aksinya dengan meledakkan 2 buah bom di depan sebuah bengkel dan dihalaman sebuah rumah pendeta. 

Para aparat hukum masih belum tanggap akan adanya teroris yang bersarang di Indonesia. Apakah ini mengindikasikan lihainya para pelaku walaupun mereka menjadi terpidana tetapi jaringannya masih tersembunyi dibalik tabir-tabir keagamaan. Ataukah memang para aparat hukum memiliki hubungan emosional keagamaan dengan para teroris, sementara secara normatif semua umat manusia, semua faham agama tentu tidak menghalalkan aksi terror yang dilakukan oleh teroris ini. Pengalihan aksi terror menjadi sering pula aparat teralihkan prasangkanya kepada unsur permasalahan lainnya. 

Peristiwa pembacokan Matori Abdul Jalil, Ketua Partai Kebangkitan Bangsa mengungkap adanya kelompok Islam garis keras berada dibelakangnya setelah tertangkapnya seorang bernama Tazul Arifin alias Sabar yang ternyata disuruh oleh Zulfikar seorang pemimpin kelompok pengajian anggota AMIN yang menggerakkan kelompoknya dari satu mesjid di daerah Kapuk Cengkareng. 

Kali ini aksi terror peledakan bom di Gedung Bursa Effek Jakarta pada September 2000 menimbulkan banyak tanda Tanya. Ada dua kemungkinan bahwa kejadian ini dilakukan oleh anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ataukah memang dilakukan oleh anggota teroris. Pelaku pemboman ini dilakukan oleh Teungku Ismuhadi yang dijerat sebagai pelaku pidana saja. Demikian pula peledakan bom di Hotel Omni Batavia diyakini sebagai pengalih perhatian aksi teroris ini sebelum melaksanakan aksi besarnya. 

Rencana besar terorisme ini akhirnya meledak pada malam natal tahun 2000 yang dikenal sebagai “Tragedi Malam Natal 2000”. Tak kurang dari 23 gereja di hampir seluruh kota besar di Indonesia terancam dan diledakkan dengan bom diantaranya di Medan, Pematang Siantar, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Sukabumi, Pangandaran, Bandung, Kudus, Mojokerto, Mataram. Sebanyak 16 bom meledak di gereja-gereja dari 38 bom yang direncanakan diledakkan secara bersamaan di 11 kota. 

Berikut pemboman gereja-gereja yang secara serempak dilakukan di seluruh Indonesia sebagai Tragedi Malam Natal Tahun 2000 rincinya sebagai berikut: 

  1. Gereja Katolik, HM. Joni Medan,
  2. Gereja Katolik Beato Damian-Bengkong Batam,
  3. Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Sungai Panas Batam,
  4. Gereja Bethany – Gedung My Mart Lt-II Batam Center,
  5. Gereja Pentakosta di Indonesia – Pelita Jl. Teuku Umar Batam,
  6. Gereja, HKBP di Jalan Hang Tuah Pekanbaru,
  7. Gereja, HKBP Jalan Sidomulyo Pekanbaru,
  8. Gereja Kathedral Jakarta,
  9. Gereja Matraman Jakarta,
  10. Gereja Koinonia Jatinegara Jakarta,
  11. Gereja Oikumene Halim Jakarta,
  12. Sekolah Kanisius Menteng Raya Jakarta,
  13. Gereja Pantekosta Sidang Kristus Jalan Masjid 20 Sukabumi,
  14. Gereja  di jalan Otista Sukabumi,
  15. Gereja di Pangandaran,
  16. Gereja di Pertokoan Ciracas, Bandung,
  17. Gereja Santo Yohannes Evangelista Jalan Sunan Muria No.6. Kudus,
  18. Gereja Allah Baik, Gereja Santo Yosef Mojokerto,
  19. Gereja Bethany Mojokerto,
  20. Gereja Ebenezer Mojokerto,
  21. Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel Mataram-NTB,
  22. Gereja Betlehem Pantekosta Pusat Surabaya,
  23. Gereja di Pekuburan Kristen Kapitan Ampenan. 

Kalau kita boleh memberikan ruang berpikir sejenak di otak kita betapa sangat mengerikan kejadian Tragedi Malam Natal 2000 ini, dimana umat beragama sedang melakukan ibadah secara bersamaan direncanakan harus terbunuh. Gereja porak-poranda, darah berceceran dimana-mana, jerit tangis ibu-ibu dan anak-anak memilukan, dan puluhan orang harus tewas dan luka-luka mengenaskan pada saat mereka sedang beribadah. 

Para petinggi Negara dan aparat keamanan seolah tidak mampu mengatakan apa-apa malah mencoba mereka-reka mengarahkan kecurigaan pada regim Soeharto, sisa Orde baru, atau TNI yang akrab dalam permainan intelijennya. Mereka tidak membuka alam pikirannya bahwa terorisme sudah bersarang di Indonesia yang bernaung dibalik simbol-simbol agama oleh kelompok yang mengorbankan kesucian ajaran agama.

Para petinggi Negara dan aparat keamanan terkecoh dengan teori karena tidak ada perorangan atau kelompok yang mengaku atau meng-klaim tuntutan sehingga tidak mengagui adanya jaringan terorisme di Indonesia. Pengungkapan yang secara kebetulan akibat bom yang premature meledak sehingga tertangkapnya Dedy Mulyadi seorang veteran perang Afganistan oleh polisi di Pangandaran Jawa Barat mengakui adanya dalang perencana dan sebagai donatur serangan bom Tragedi Malam Natal di Bandung dan Sukabumi yaitu Encep Nurjaman alias Ridwan Isamuddin alias Hambali. Peledakan gereja yang di kawasan Batam dilakukan oleh Imam Samudra dan di Pekanbaru dilakukan oleh Idris Gembrot. 

Tahun 2001:

Aparat keamanan dan petinggi Negara masih diuji dan diusik sikapnya menyikapi kejadian terror bom yang terjadi di Indonesia terutama yang dilakukan terhadap gereja-gereja. Walaupun sudah terindikasi adanya kelompok garis keras keagamaan yang menjadi otak pelaku pengorganisasian tetapi mereka masih sungkan untuk mengungkapkannya kepermukaan atau memang ada dibenak mereka karena korban adalah kaum kelompok minoritas sehingga tidak menjadi keseriusan untuk mengikis aksi terorisme di Indonesia. Maka aksi peledakan bom pun berlanjut dengan diledakkannya Gereja Santa Anna di Pondok Bambu Kalimalang, dan Gereja HKBP Klender, karena gereja-gereja, atau umat kristiani dianggap sebagai institusi yang berafiliasi kepada Amerika, Inggris, Australia, Italia seperti yang pernah dituduhkan oleh Nurdin M Top. 

Kenyataan yang diharapkan oleh kelompok terorisme bahwa peledakan bom di gereja-gereja tidak sebagaimana diharapkan. Tak ada reaksi berarti dari umat kristiani termasuk pemerintah, maka mereka mengembangkan operasionalnya yang lebih menarik perhatian dunia yaitu melakukan aksi bom di fasilitas umum dan kedutaan dimana gaungnya akan menjadi perhatian dunia Internasional. 

Peledakan bom di Atrium Plaza Senen Jakarta pada 13 Agustus 2001, kemudian diledakkan lagi Atrium Plaza tanggal 23 September 2001, kemudian Restoran KFC Makassar, 12 Oktober 2001 dan Australia International School, 6 Nopember 2001. Peledakan-peledakan ini mulai disikapi aparat keamanan memang benar adanya organisasi teroris yang berkembang di Indonesia. Polisi menangkap Taufiq bin Abdul Halim  alias Dodi Mulia, alias Doni, alias Yudi Mulya Purnomo, alias Dani (27 tahun), warga Malaysia menunjukkan adanya indikasi keterlibatan asing. 

Tahun 2002:

Peristiwa 11 September 2002 dimana Twin Tower di Amerika diruntuhkan oleh kelompok teroris Al Qaedah. Indonesia berani secara resmi mengajukan Hambali ke Interpol dimasukkan ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Sikap pemerintah dan aparat keamanan terlihat sangat bingung dan gamang untuk secara tegas menyatakan adanya kelompok garis keras keagamaan yang terlihat sehingga situasi ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ini untuk melakukan kritik terbuka, propaganda dan berbagai unjuk rasa kepada pemerintah dan aparat keamanan. 

Suasana politik pada masa itu masih cukup panas setelah peristiwa reformasi sehingga Kapolri Rusdiharjo diganti. Polri terseret kepada opini masyarakat sehingga tidak berani mengungkap adanya kelompok keamanan yang terlibat bahkan Polri seolah menjadi pioneer untuk mendongkel posisi Presiden Abdulrahman Wahid.

Polri berhasil menangkap 13 tersangka pelaku terror di Desa Saketi, Pandeglang Banten setelah mendapat informasi dari Dani pelaku pemboman Atrium, Gereja Santa Anna, dan Gereja HKBP Klender, dan mengungkap bahwa daerah disitu menjadi tempat aktif untuk latihan militer dimana polisi menyita 9 pucuk senjata api dan 7 diantaranya adalah senjata laras panjang. 

Dani adalah salah seorang dari 10 anggota Kumpulan Mujahidin Malaysia (KKM) yang masuk ke Indonesia dan salah seorang yang tertangkap diantara 13 orang di Desa Saketi adalah warga Malaysia juga bernama Syahrani alias Zia.

Sementara jaringan ini sudah menyebar sampai ke Filippina dimana polisi Filippina menangkap Fathur Rohman Al-Ghozi (32 tahun) seorang warga Indonesia asal Madiun Jawa Timur. Fathur Rohman Al-Ghozi adalah anggota Jamaah Islamiyah yang melakukan serangkaian peledakan bom di Filippina dan dalam rumahnya di Quiapo Manila disita 17 pucuk senjata M-16, satu ton bahan peledak dan peralatan pendukung lainnya. 

Fathur Rohman Al-Ghozi alias Rony Asad bin Ahmad, alias Sammy Sali Jamil adalah alumni pendidikan agama di Pakistan dan telah berulangkali pulang pergi Indonesia – Filippina untuk membentuk AMIN. Dia mengaku menjalankan perintah Hambali yang mengatur peledakan bom pada Peristiwa Malam Natal di Indonesia.

Susilo Bambang Yudhoyono pada waktu itu menjabat sebagai Mentri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) mengungkapkan kepada pers bahwa mengakui adanya kelompok sipil yang mengadakan latihan militer yang menggunakan senjata standar TNI dan meminta daerah untuk meningkatkan kewaspadaan agar konflik politik di daerah tidak meluas menjadi konflik sosial. 

Tahun 2002:

Terjadi juga serangkaian peledakan bom dan yang menggegerkan adalah peledakan bom di Sari Club dan Paddy’s Cafe di Legian Kuta di Bali pada 12 Oktober 2002 yang terkenal dengan sebutan Bom Bali-I. Sebelumnya juga terjadi beberapa peledakan bom di Jakarta seperti di Diskotik Hotel Jayakarta, Mal Graha Cijantung. 

Bom Bali-I yang menewaskan dan melukai ratusan orang menyontak kekhawatiran kebringasan aksi terorisme di Indonesia. Sedemikian keras upaya kepolisian untuk membongkar jaringan terorisme ini sedemikian keras juga kritik dan cercaan kepada polisi terutama dari kelompok-kelompok Islam garis keras dan kelompok-kelompok Islam lainnya yang terpengaruh dengan pernyataan-pernyataan yang mengatakan Amerika ada dibalik peristiwa. Tersebutlah nama-nama yang dicari seperti Mukhlas, Amrozi, dan Imam Samudra yang seolah menjadi selebriti pemberitaan. 

Pada saat ini jaringan terrorisme ini sudah mulai memukul genderang perang di Sulawesi dimana Gereja diledakkan di Palu Sulawesi Tengah dan rumah Konjen Filippina di Manado juga diserang. Jaringan ini telah mendirikan camp pelatihan militer. 

Sinyal yang disampaikan oleh Menko Polkam tidak ditanggapi oleh kepolisian termasuk cuap-cuap yang bersifat melecehkan oleh Imam Samudra tentang basisnya di Serang yang disebutnya kelompok Palem. Polisi tidak cepat tanggap walaupun sudah ada pengakuan warga Malaysia lainnya dari anggota Kelompok Mujahidin Malaysia yaitu Bahrul Alam bahwa camp latihan militer itu adalah jaringan terorisme Internasional.

Tahun 2003:

Jaringan terorisme ini sudah semakin merajalela melakukan aksi terornya, mereka melakukan aksi terornya dengan melakukan peledakan bom yang sporadis untuk mengelabui konsentrasi pengungkapan jaringannya. Kekisruhan politik sangat akurat dimanfaatkan oleh kelompok ini dimana Kantor PBB diledakkan, Bandara Sukarno Hatta diledakkan, Gedung DPR diledakkan dan akhirnya symbol Amerika Hotel JW Marriott diledakkan tanggal 5 Agustus 2003 dengan aksi bom bunuh diri oleh Asmar Latin Sani seorang alumnus Pesantren Ngruki pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. 

Sementara di Sulawesi Tengah seperti di Poso dan Palu sudah terjadi konflik horizontal. Tidak seperti di Medan Sumatra Utara aksi pemboman gereja-gereja tidak serta merta memicu konflik horizontal tetapi di Sulawesi Tengah lain ceritanya. Beberapa kejadian peledakan bom di Poso di tahun 2003. 

Tahun 2004:

Ibarat kangker maka jaringan terorisme ternyata semakin marak dan adapula mayarakat yang bersikap menutup diri untuk menyembunyikan penyakit ini hanya akibat hubungan emosional yang keluar dari makna universal kemanusiaan. Beberapa pelaku peledakan bom di Palopo Sulawesi Selatan seperti Arman, Idil, Ahmad Rizal, Jeddi, Benardi, Jasmin, Aswandi (Aco bin Kasim), Ishak, Nirwan, Kahar, Agung Hamid tidak dikaitkan oleh aparat keamanan kedalam jaringan terorisme, maka aksi terorisme ini menggemparkan peledakan Kedutaan Besar Australia 9 September 2004. Pada tahun ini konflik di Sulawesi Tengah tetap merebak menjadi konflik sosial dimana gereja masih termasik sasaran peledakan bom seperti terjadi di Gereja Immanuel Palu.

Tahun 2005:

Konflik horizontal di Sulawesi Tengah sudah menjalar sampai ke Ambon. Konsentrasi dan focus terhadap jaringan terorisme lengah dan terjadilah peristiwa Bom Bali-II yang meledakkan RAJA’s Bar & Restauran Pantai Kuta dan di Nyoman’s Cafe di Jimbaran. Tanggal 1 Oktober 2005. 

Konflik di Sulawesi Tengah yang sudah berjalan 2 tahun masih tetap sebagai konflik horizontal yang memunculkan peledakan-peledakan bom. 

Tahun 2006:

Konflik di Sulawesi Tengah masih terus menjadi konflik sosial antara umat Islam dan umat Kristiani bahkan menjalar ke umat beragama lainnya dimana Komplek Pura Agung Sentana Narayana Desa Toini Poso tanggal 10 Maret 2006. Beruntung di Palu konflik ini dapat mereda akibat peranan besar Pondok Pesantren terkemuka yang menetralkan situasi, namun di Poso hal ini tidak terjadi dan bahkan peledakan bom terhadap gereja terus berlangsung seperti yang terjadi di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Eklesia Poso tanggal 1 Juli 2006 termasuk di tempat-tempat umum lainnya di Poso. 

Tahun 2009:

Penyelesaian konflik sosial di Sulawesi seperti di Palu, Poso dan Ambon membuat pihak keamanan terlengah mengantisipasi jaringan yang sudah sangat solid penyebarannya. Seolah tidak mengadakan aksinya lagi ternyata terjadi peledakan dahsyat di dua tempat yaitu Hotel JW Marriott dan The Ritz Chalton 17 Juli 2009, dengan puluhan jiwa korban mati dan terluka. 

Kembali menggeliat pengejaran terhadap jaringan Nurdin M Top yang sebelumnya dihembuskan berita-berita bahwa Nurdin M Top sudah terpisah dari Jamaah Islamiah yang dibentuk oleh Abu Bakar Ba’azir dan masyarakatpun dengan gampang melupakan peristiwa-peristiwa luka lama. 

Rentetan pemboman yang disebutkan di atas sudah sangat tegas bahwa semuanya mengarah kepada skenario otak yang dilakukan oleh Dr. Azahari Husni warga Malaysia yang akhirnya tewas sewaktu dilakukan penyergapan di sebuah Villa Jl. Flamboyan Blok A No.7 Kec. Batu, Kab. Malang, Jawa Timur. Keterkaitan Jamaah Islamiah dan orang-orang seperti nama-nama berikut: M. Top, Ustadz Abu Bakar Baasyir, Hambali, Asmar Latinsani, Ahmad Roichan, Junaedi, Andi Hidayat, Andri Oktavia, Maskur Abdur Kadir, Abdul Rauf, Abdul Aziz, Anif, Moh Olili, Dwi widiarto. Juga yang disebut sebagai Kelompok Serang, kelompok Solo, lokal boy, kelompok Kalimantan Timur. 

Bom Sebagai Alat Pelampiasan SARA: 

Kecemburuan ras yang terbuang dari induknya tidak dapat dimunculkan kepermukaan oleh karena pergaulan antar Negara di Asia Tenggara khususnya ASEAN mengikat keakraban bernegara diatas konflik-konflik perbatasan yang masih dianggap kecil, dan merenggangkan waktu penyelesaiannya berlama-lama oleh karena peta politik dunia pada masa perang dingin antara kubu Eropah Barat yang dikomandoi Amerika dengan Eropa Timur oleh Uni Sovyet dulunya masih memerlukan persatuan Negara-negara di Asia Tenggara untuk membangun perekonomiannya secara bersama-sama. 

Blok Barat-Timur sudah bubar, sehingga kepentingan ASEAN sebagai penyeimbang politik dunia tidak lagi dipentingkan. Gerkan globalisasi perekonomian dunia mengumandang secara revolusioner sehingga Negara-negara ASEAN lebih condong untuk menyelamatkan diri masing-masing. Pada saat yang bersamaan konflik Barat-Timur sudah beralih menjadi konflik Negara-negara di Timur Tengah. Amerika Serikat yang dianggap sebagai Polisi Dunia melibatkan diri terlalu dalam kedalam konflik di Timur Tengah sehingga unsur-unsur radikalisme di kawasan Timur Tengah membawakan konflik menjadi konflik faham agama yang memang sangat mudah mencari-cari kontranya dibanding persamaan fahamnya yang berlatar belakang sejarah panjang di kawasan Timur Tengah. 

Banyaknya aliran faham Islam bermunculan diawal berkembangnya agama ini di abad-7 memunculkan akar-akar permusuhan internal Islam yang mengklaim kebenarannya masing-masing. Kemenangan peperangan gemilang yang membawakan panji-panji Islam sempat menguasai Eropah sampai ke Spanyol sampai pada masa byzantium Turki menanamkan akar-akar faham kekerasan berlandaskan faham agama Islam yang memutihkan agama Islam lainnya, sehingga faham ini sampai di Indonesia yang dimulai dari Sumatra yang dikumandangkan oleh Imam Bonjol. 

Muncullah figure Osama Bin Laden yang mengaku sebagai pejuang Islam dengan symbol-simbol Jihad yang menghalalkan kekerasan atas nama agama. Banyak muncul pertentangan faham di dunia Islam yang menjadi buah simalakama mengkaburkan kemuliaan Islam berbaur campur aduk antara gerakan moral kemanusiaan dengan legitimasi kekuasaan politik. Kekisruhan kebenaran faham Islam diantara para ulama-ulama di dunia Islam menjadi peluang suburnya pemunculan pendapat-pendapat yang menonjolkan figur-figur ulama yang saling membenarkan kebenaran aqidah Islam. 

Para petinggi dan elit politik di Indonesia secara naluri menangkap adanya kebutuhan mendasar bagi Negara Indonesia untuk mengakomodir unsur agama (Islam) menjadi pemersatu bangsa di dalam pemerintahan sehingga dimasanya banyak para menteri keturunan Arab yang ikut mengurusi Negara yang berkaitan dengan kehidupan beragama (Islam). Tentusaja para petinggi Negara keturunan Arab ini adalah dari orang-orang keturunan yang berpandangan moderat yang memang cocok untuk mengurusi Negara multi etnis ini. Sementara itu banyak pula figur-figur keturunan Arab tersebut yang merasa tersingkirkan dan mengambil agama sebagai kendaraan yang paling memungkinkan untuk meluluskan niat dan maksud pribadinya. 

Indonesia merupakan Negara demokratis termasuk yang paling menonjol di dunia dan menjadi satu-satunya Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia yang paling demokratis dalam pengelolaan pemerintahan untuk tetap menjamin Indonesia sebagai satu bangsa dalam satu Negara. Faham demokrasi sebaliknya membuat keleluasaan terbentuknya aliran-aliran radikal untuk menyuarakan gerakan-gerakannya. Maka muncullah figur Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud alias Ustadz Abu alias Abdus Somad, seorang keturunan Arab lahir di Jombang 17 Agustus 1938. Abu Bakar Ba’asyir bersama Abdullah Sungkar (Abdullah bin Ahmad Sungkar) dan teman-temannya seperti Yoyo Roswadi, Abdul Qohar H. Daeng Matase dan Abdllah Baraja mendirikan Pondok Pesantren Al-Mukmin Jalan Gading Kidul 72 A, Desa Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada tanggal 10 Maret 1972. 

Ternyata pengajarannya di pesantren sejak didirikan sampai 1983 adalah untuk menghasut para santri untuk tidak menghormati benderah Merah Putih dan menolak azas tunggal Negara Pancasila dan dinyatakannya sebagai perbuatan syirik. Ternyata pula kedua orang keturunan Arab ini adalah pentolan Tentara Islam Indonesia (Darul Islam) Jawa Tengah. Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud alias Ustadz Abu alias Abdus Somad awalnya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Solo, kemudian sebagai Sekretaris Pemuda Al-Irsyad-Solo, kemudian sebagai Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia, kemudian Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, kemudian mendirikan Jamaah Islamiah (JI) di Malaysia yang berhubungan dengan Al-Qaedah bercita-cita mendirikan Negara Islam di Asia Tenggara, kemudian Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sebagai organisasi Islam garis keras yang bertekat untuk menegakkan Syariah Islam di Indonesia dan menghapuskan Pancasila. 

Semasa Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia dipegang oleh Yusril Ihza Mahendra ternyata Ba’asyir tidak masuk kategori tahana politik sehingga hukuman 9 tahun yang diputuskan batal dijalankan. Semasa Ba’asyir dan Abdullah Sungkar tahanan rumah, tanggal 11 Pebruari 1985 Ba’asyir melarikan diri dan membuat benih-benih ajarannya di Medan dan kemudian menyeberang ke Malaysia. Di Malaysia, Ba’asyir mendirikan Jamaah Islamiah (JI) sebagai grup separatis militant Islam yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam di Asia Tenggara. 

Ba’asyir dan Abdullah Sungkar mendidik Dr. Ashari dan Nurdin M Top dan selama 4 tahun sampai tahun 1999 mengajarkan fahamnya di Malaysia dan Singapura. Sekembalinya dari Malaysia tahun 1999, Ba’asyir langsung terlibat dalam pengorganisasian Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang merupakan salah satu dari Organisasi Islam baru yang bergaris keras. Organisasi ini bertekad menegakkan Syariah Islam di Indonesia. 

Mengapa Ba’asyir harus memilih orang-orang Malaysia untuk menjadi otak terror bom di Indonesia ketimbang orang-orang Indonesia sendiri? Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya tentang latar belakang masyarakat Malaysia yang secara langsung sudah terpola pemikirannya dalam suasana monarkis yang lebih gampang mengarahkannya dibanding pola pikir orang-orang Indonesia yang memang sudah bernuansa demokratis yang berkembang kepada kebebasan berpikir. Jadi, untuk menjadi otak radikalisme, maka orang-orang Indonesia akan sangat sulit diarahkan, tetapi untuk jadi jongos dan kerucunya maka masyarakat Indonesia lebih mudah diarahkan. 

Siapa rakyat Malaysia? 

Malaysia menjadi Negara kerajaan berbentuk federasi yang terdiri dari 13 negara bagian dengan pemerintahan yang bersifat Monarki Parlementer-, sehingga pemerintahannya dikendalikan oleh Perdana Menteri. Penduduknya terdiri dari beberapa kelompok suku atau etnis dan mayoritas adalah Melayu disamping penduduk asli (orang asli) yang ada di Semenanjung maupun di Serawak dan Sabah. 

Suku Melayu berjumlah sekitar 50%, Tionghoa 24%, India 7%, sisanya minoritas sebagai suku orang asli yang tidak dianggap Melayu, Eropah, dan Vietnam eks pengungsi. Suku asli (orang asli) tidak dianggap Melayu, seperti; Suku Jakun, Suku Senoi, Suku Semai, Suku Temiang, Suku Mahmeri, Suku Temuan, menjadi suku terpinggirkan yang sangat sedikit mendapatkan pembangunan kemasyarakatan. (sama halnya suku asli yang ada di Indonesia -khususnya Pulau Sumatra-, menurut William Marsden dalam History of Sumatra adalah Batak dan Rejang Lebong, Suku Nias, yang dapat survive mensetarakan diri dalam komunitas berbangsa di Indonesia, kemudian belakangan kita mengenal suku Mentawai, Sakai, dan lain-lain, cenderung terpinggirkan juga)

Penduduk Malaysia disebut menjadi bangsa Melayu-Malaysia pada dasarnya adalah pendatang dan pelarian yang kebanyakan dari Pulau Sumatra termasuk dari Pulau-pulau lainnya di Indonesia dan mereka disebut Bumiputra, seperti; Suku Aceh, Suku Arab, Suku Banjar, Suku Batak-Mandailing, Suku Bawean / Boyan, Suku Bugis, Suku Cham, Suku Jambi, Suku Jawa, Suku Kerinci, Suku Melayu Asli, Suku Minangkabau, Suku Rawa / Rao, Suku Riau, Suku Kokos, Suku Brunei, Suku di Tawau, Sabah, Suku Terengganu, Suku Yunnan. Disebut Melayu artinya suku-suku yang hanya beragama Islam, berbahasa Melayu, dan melaksanakan adat istiadat Melayu. 

Adapula yang disebut Bumiputra Lain (bukan Melayu) yaitu suku-suku yang terdapat di Kalimantan seperti; Suku Bajau asal Filipina, Suku Suluk asal Filipina, Suku Dayak Bidayuh, Suku Dayak Bisayah, Suku Dayak Iban, Suku Dayak Kadazan, Suku Dayak Dusun-Sabah, Suku Dayak Kelabit, Suku Dayak Melanau, Suku Dayak Murut. Walaupun bumiputra tetapi karena mereka tidak Islam maka tidak disebut Melayu (bukan Melayu) dan mereka dianggap sebagai warga kelas dua. Suku lainnya adalah Tionghoa, India, Thailand, Burma, Vietnam, Khmer, Eropah, dan lain-lain yang bukan bumiputra dan bukan Melayu. 

Diantara suku-suku asal ini diantaranya menjadi masing-masing mayoritas di berbagai Negara bagian yang dikuasai oleh kesultanan dalam bentuk pemerintahan monarkis. Pada dasarnya penduduk Malaysia secara empati tidaklah memiliki rasa kebangsaan yang disebut Malaysia sebagai sebuah Negara berbangsa, melainkan masing-masing membawa empati kesultanan masing-masing yang dipengaruhi oleh mayoritas suku asal yang berasal dari berbagai kawasan di Indonesia. 

Sebagai contoh baru-baru ini diberitakan oleh TEMPO Interaktif bahwa Perdana Menteri Malaysia Datuk Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak yang didampingi istrinya, Datin Sri Rosmah Mansyur, berziarah ke makam Sultan Hasanuddin di puncak bukit Tamalate, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat 15 Mei 2009, sekitar pukul 16.00 Wita. Najib bersama keluarga menaburkan bunga dan berdoa di makam Sultan Hasanuddin dan Sultan Abdul Djalil. Di kompleks makam ini, terdapat pembesar-pembesar kerajaan Gowa seperti Sultan Malikussaid, Sultan Amir Hamzah, Sultan Alauddin, dan Sultan Hasanuddin. Ini sebagai bukti kedekatan hubungan masyarakat Malaysia dengan Indonesia. 

Bagaimana Karakter Orang Malaysia? 

Betapa bencinya Mahatir Mohamad – Perdana Mentri Malaysia kepada Amerika Serikat dan Inggris yang mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat George W Bush dan Perdana Mentri Inggris Tony Blair adalah penjahat perang dengan lebih banyak darah di tangan mereka daripada Saddam Hussein. Pernyataan ini menunjukkan bagaimana seorang Malaysia berpandangan bahwa dia lebih memilih Saddam Hussein seorang haus darah ketimbang dua orang yang disebutnya di atas yang juga haus darah. Kalau seorang Indonesia mungkin tidak akan memilih salah satu diantaranya, karena haus darah bukanlah martabat orang Indonesia. Disisi lain bahwa Amerika adalah penanam modal terbesar di Malaysia dalam berbagai sektor. Jadi sikap dualisme yang saling bertolak belakang selalu didengungkan oleh Malaysia, tentu ini menjadi gambaran umum dari rakyat Malaysia. 

Pantaskah Indonesia Dicemburui? 

Negara Indonesia sungguh memang menjadi ‘Zamrud di Khatulistiwa”. Siapapun dia, tentu akan tertarik untuk ingin mengetahuinya lebih dalam, kemudian terpesona menikmatinya, lalu tergiur untuk memilikinya. Sejak memproklamirkan diri pada 17 Agustus 1945, Indonesia sudah bercirikan akan menjadi sebuah Negara besar yang berpotensi menjadi Negara Adidaya. Falsafah Negara “Panca Sila” dengan “Bhinneka Tunggal Ika”nya merupakan pemikiran para ‘The Founding Father’yang sudah semarak muncul sejak awal abad-19 semasih nusantara dijajah oleh Belanda. Tidak demikian halnya dengan Negara Malaysia yang hanya dihadiahkan merdeka oleh penjajahnya Inggris. 

Multi-etnis Malaysia yang kemudian disebut sebagai Melayu Malaysia semuanya merupakan suku-suku buangan dan pendatang dari Indonesia yang menyebar diberbagai Negara bagian dibawah naungan pemerintahan Monarki Kesultanan. Mereka adalah asal orang Indonesia yang dengan sendirinya menghilangkan identitas ke-Indonesiaannya dan masuk kedalam perangkap ketidakbebasan berlakon sebagai pribadi melainkan terkungkung di dalam lingkup ketertutupan sebagai Negara kerajaan yang tidak demokratis. 

Ada kerinduan dari orang-orang buangan berasal dari Indonesia untuk menjadi Indonesia juga di Malaysia, namun mereka telah terperangkap menjadi bagian monarki kerajaan yang rasisme. Rasisme keagamaan (Islam) mensyahkan suku asli di semenanjung bukan menjadi Melayu. Rasisme keagamaan (Islam) mensyahkan suku asli di Kalimantan bukan menjadi Melayu, kecuali Brunei. Rasisme keagamaan (Islam) mensyahkan suku-suku lainnya bukan menjadi Melayu. Sementara di Indonesia tidak demikian, agama Islam dan Non-Islam dikatakan sebagai perbedaan dan bukan dalam bentuk rasisme keagamaan. Keberagaman sekitar 300-an suku di Indonesia mengakui adanya keberbedaan dalam satu Indonesia yang disemboyankan dalam Bhinneka Tunggal Ika di dalam falsafah Negara Pancasila. 

Malaysia Yang Mana? 

Memang menjadi lucu mempertanyakan; Malaysia Yang Mana? Apakah Malaysia ada dua atau berapa? Sulit mengatakan Malaysia sebagai sebuah identitas bangsa? Apabila mengandaikan Malaysia sebagai binatang maka ‘bunglon’ mungkin tepat sebagai gambarannya. Apabila mengandaikan Malaysia sebagai mahluk laut maka ‘cumi-cumi’ mungkin tepat sebagai gambarannya. 

Kata ‘Melayu’ pernah dicoba dipakai oleh Malaysia sebagai sebuah identitas namun gagal, karena ‘Melayu’ yang dikonotasikan sebagai ‘Islam’ dan ‘Islam’ dikonotasikan sebagai ‘Melayu’ tidak sepenuhnya dapat diberlakukan Malaysia yang menerapkan ketidak setaraan pada penduduknya dalam konteks warganegara. 

Malaysia memberlakukan istilah ‘Pribumi’ bagi penduduk yang pada dasarnya adalah pendatang dari kawasan Indonesia (purba) menjadi warga kelas satu yang memegang kendali utama dalam setiap geliat yang membawakan identitas Malaysia. Sementara ada istilah ‘Pribumi Lain’ yang sebenarnya sebagai penduduk asli yang menjadi kelas dua dalam perlakuan status warganegaranya disamping kelas lainnya dari etnis luar seperti India, Cina, Eropah. Jangan heran bahwa suku-suku penduduk Serawak sebagai penduduk asli menjadi warganegara kelas dua hanya karena meeka masih menganut agama leluhur (bukan Islam). 

Malaysia mencoba mencari identitas sebagai Negara Islam namun gagal menerapkannya karena pemahaman pemerintah tentang Islam sangat sangat jauh dengan apa yang difahami oleh warga Islam di Indonesia. Sebagai contoh bahwa Malaysia pernah melarang non-Islam di Malaysia menggunakan sebutan “Allah’ untuk menyebutkan Tuhan, sementara dalam sejarahnya bahwa Islam berkembang di negri Arab pada abad-7 dan seblumnya kaum Arab dan lainnya yang menganut agama lain sebelum Islam sudah menggunakan kata ‘Allah’ untuk sebutan Tuhan, sebagaimana dipetik dari berita Asia Time di http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/JA10Ae02.html, disamping itu jangan heran bahwa diberbagai kawasan foodcourt atau pusat jajanan di KL tidak jarang makanan haram dan halal bersinggungan panci satu sama lain merupakan hal biasa saja. 

Malaysia yang mereka sebut sebagai Negara Demokrasi Parlementer telah menjalin hubungan antar Negara yang wajar sebagai Negara dalam pergaulan Internasional. Dalam hal terorisme, Malaysia menjalin kerjasama yang erat antara Indonesia-Malaysia-Filippina bersama-sama memerangi terorisme, namun dalam internal Negara bahwa Malaysia memiliki sifat dan sikap yang ambigu di masing-masing negri yang dipimpin oleh sultan-sultannya. 

Issu terorisme dengan aksi peledakan bom yang berkembang di tahun 2009 ini di Indonesia, apakah secara kebetulan terjadi pada saat adanya issu horizontal yang terjadi antara warga Indonesia dan Malaysia. Lihat saja issu perbatasan, issu Ambalat, issu TKW, issu kesultanan dengan Manohara, issu MU, dicurigai telah menggerakkan aksi terror bom. Demikian pula dengan aksi-aksi terror sebelumnya yang berkaitan dengan peledakan bom di Indonesia berindikasi karena adanya gesekan-gesekan sosial antara masyarakat Indonesia dan Masyarakat Malaysia. Oleh karena itu perlu kewaspadaan apakah peristiwa-peristiwa ini muncul terorganisir oleh kelompok terorisme Internasional ataukah memang ada Brotherhood Conspiracy?

Back to Brotherhood Conspiracy Part-1>>>

Back home again to see more>>>