Zipper (Sleting) taken from photobucket.com

Dahulu awalnya penulis mengenal kata KKK di tahun 1970-an adalah pada sleting (zipper) yang terdapat pada jaket atau celana Blue Jean terbuat dari bahan sejenis tembaga atau kuningan. Belakangan sleting bermerek itu tidak ditemukan lagi dan sebagai gantinya dikuasai oleh produsen dari Jepang Yoshida Kōgyō Kabushiki-gaisha yang mengeluarkan merek YKK dan menguasai pasaran dunia sebagai produsen terbesar.

Di Indonesia sempat pula promosi KKK atau K3 dengan berbagai bentuk poster yang ditempelkan ditempat-tempat strategis di gedung perkantoran. KKK (K3) yang dimaksud adalah singkatan dari Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Sebenarnya sejak zaman colonial Belanda, di Indonesia sudah dikenal peraturan perundanga tentang keselamatan kerja yang disebut Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910. Sejalan dengan perkembangan pembangunan di Indonesia maka pada tahun 1969 melalui UU No. 14, 1969 dan berlanjut dengan UU No.1, 1970 mengenai ruang lingkup segala lingkungan kerja baik udara, darat, dan laut. Kemudian mengenai UU ketenagakerjaan diperbaharui melalui UU No. 12, 2003 dan hak perlindungan bagi pekerja diatur pada UU No. 13, 2003. Walaupun ketenagakerjaan di Indonesia sudah dilengkapi denga perangkat undang-undang napun Indonesia masih menempati urutan 141 dari 156 negara dalam penerapan K3.

Di Amerika Serikat adapula kelompok masyarakat disebut sebagai kelompok KKK atau Ku Klux Klan, yaitu kelompok rasialis oleh kulit putih terhadap ras lainnya. Kelompok rasialis ini sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1865 dan gelombang pembaharuannya berkembang sejak 1915. Tak tanggung-tanggung bahwa di Amerika Serikat sebagai Negara promoter utama Demokrasi ada berkembang kelompok masyarakatnya yang menghalalkan pembunuhan, terror, dan menyuarakan kebencian terhadap ras diluar ras kulit putih di Amerika Serikat, termasuk terhadap kulit hitam Afro-American, Asia, Semitik, Jahudi, dan minoritas lainnya dan juga Anti-Katolik Roma, Anti-Komunis.

Selain istilah KKK untuk Kesehatan dan Keselamat Kerja maka di Indonesia ada juga kelompok yang disebut oleh Presiden Bambang Yudhoyono yang dipromosikannya sebagai ‘Ganyang Mafia’ yaitu Kepolisian-Kejaksaan-KPK (KKK). Beberapa minggu belakangan ini ternyata diantara kelompok mereka ini saling berseteru yang memenuhi seluruh pemberitaan mass-media di Indonesia seolah actor-aktris yang mencoba mempromosikan kesucian dan kebersihannya diatas kebobrokan masing-masing yang sudah mengakar bagaikan kangker dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai pendatang baru yang diharapkan oleh masyarakat, pada awalnya telah banyak mengungkap dan menjebloskan para pelaku korupsi. Masyarakat mulai memberi respek dan apresiasi terhadap kinerja KPK ini. Perlahan tapi pasti, KPK mulai berunjuk gigi merambah operasinya ke instansi-instansi yang secara umum memang dicurigai sebagai sarang korupsi di Negara ini.

Mungkin bukan hanya kebetulan bahwa KPK sebagai kata singkatan bukan hanya bermakna sebagai Komisi Pemberantasan Korupsi semata, tetapi seolah ada makna lain dari kata K yang mengapit kiri dan kanan dari kata ‘P = Pemberantasan’ yaitu nama sumber korupsi dicurigai ada di K = Kepolisian dan K = Kejaksaan? KPK yang merambah ke wilayah ini tak ayal lagi mendapat perhatian serius bagi dua instansi ini. Maka terlihat ada konspirasi rumit telah terjadi disekitar KKK.

Pemain lama yang sudah berkarat dan menjadi kecurigaan sebagai gudangnya korupsi memproklamasikan diri sebagai ‘Buaya’, dan yang mencoba mengusik-usiknya disebutnya ‘Cicak’. Kalau pemain lamanya disebut Buaya, sedang pemain baru disebut Cicak, lalu pemain lama lainnya disebut apa? Kalau disebut sama-sama Buaya tentu kurang cocok karena memang kenyataannya beda instansi. Untuk kelas Buaya yang setara tentu disebut ‘Aligator’. Kalau ada Buaya, ada Cicak, adapula Aligator, maka jadilah sebutan BCA. Apa memang sudah takdir bahwa sebutan-sebutan yang berkaitan ini memang memiliki makna yang cocok untuk kekisruhan yang terjadi ini. Orang awam tentu sangat mengenal nama BCA adalah nama sebuah bank yang bermakna sebagai instritusi yang mengurusi uang. Aliran uang sudah pasti menjadi pokok utama dari scenario pertunjukan mereka.

Kalau Buaya, Cicak, Aligator adalah binatang-binatang pemangsa dan mereka memang dikenal sama-sama sebagai binatang melata pemangsa segalanya atau bahasa kerennya disebut karnifora. Bila dispesifikasikan maka ke tiga jenis pemangsa ini boleh dipilah menjadi dua yaitu Buaya dan Aligator menjadi satu pengelompokan dan Cicak sebagai bandingan yang berbeda habitat.

Buaya dan Aligator hidup di habitat darat dan air. Jenis binatang ini termasuk binatang purba yang menurut para ahli kebinatangan sudah eksis di bumi pada awal-awal adanya kehidupan ratusan juta tahun lalu. Mereka sama-sama memiliki kulit berbentuk yang sama dan warnanya kecoklatan agak gelap dan ekornya berduri-duri tumpul dari kulit berbentuk sisik yang keras dan kuat. Ekor ini sangat berbahaya bila digunakan untuk melibas mangsanya. Sekali kena libas, bisa dipastikan mangsanya langsung modar dan binasa. Bagian kepala dari binatang ini yang memang berwajah sangar memiliki rahang dan gigi-gigi yang sangat kuat. Dengan rahang dan gigi-gigi yang sangat kuat ini maka untuk jenis mangsa kerbau mampu dikibas-kibasnya sampai mati dan bila sudah matipun dengan sadis akan dicabik-cabiknya sampai hancur. Dalam memangsa, mereka biasanya bersembunyi dan menyelam dibawah permukaan air, menyaru tanpa gerakan. Mata-matanya dengan sigap untuk mengamati mangsanya, lalu dalam timing tepat mereka menyambar mangsanya. Tetapi jangan salah sangka bahwa bukan mangsa besar saja yang dimakannya. Mereka doyan juga makan lalar dan ikan. Biasanya mereka ngambang di permukaan air atau berjemur di pantai dengan mengangapkan rahangnya. Oleh karena rongga mulutnya yang memang bau maka lalarpun berkumpul di dalam mulutnya lalu tiba-tiba rahang kuat itu dikatupkan dan terperangkaplah lalat-lalat kecil itu.

Cicak juga binatang karnifora. Habitatnya kebanyakan ada di rumah. Bentuknya imut-imut bukan seperti Buaya dan Aligator yang seram dan mengerikan. Kulitnya tidak berduri, malah lunak dan gampang putus, sehingga secara penampilan tidak terlihat membahayakan manusia. Karena ukuran badannya yang kecil, tentu mangsanyapun kecil juga, seperti serangga semut dan nyamuk. Cicak dapat dikatakan membantu manusia dari ancaman gigitan nyamuk pengisap darah sehingga manusia dapat terhindar dari rasa gatal gigitan nyamuk bahkan dapat terhindar dari demam termasuk demam berdarah yang mematikan. Kehidupan Cicak yang selalu merayap di dinding memang sangat cocok untuk menghindar dari jangkauan gangguan terhadapnya. Mereka mampu merayap pada langit-langit rumah, memantau dan mengintai situasi dari kejauhan.

Bagaimana pula apabila dipertandingkan antara Buaya dan Aligator Vs Cicak. Apakah mungkin? barangkali semua orang akan katakan tak mungkin layak laga. Tapi itulah kenyataannya bahwa Buaya dan Cicak sudah menjadi simbolisasi perseteruan antara Kepolisian dan KPK.

Kalau kemarin itu seorang petinggi Kepolisian mem-personifikasikan mereka sebagai Buaya dan KPK di-personifikasikan sebagai Cicak. Karena KKK (K3) ini sudah menjadi satu kesatuan sebagai sumber polemik mafia yang me-nasional di Indonesia maka kita sebut saja yang satunya sebagai Aligator.

Membandingkan personifikasi binatang-binatang yang disebutkan di atas dengan kenyataan sebagai institusi pemerintahan di Negara Indonesia ini sepertinya ada kesamaan karakteristik antara binatang-binatang yang disebutkan dengan manusia-manusia yang ada pada institusi-institusi yang saling berseteru sekarang. Sebuah pernyataan petinggi tentu bukan asal disebutkan, melainkan bermakna yang dalam untuk difahami oleh masyarakat. Memang menjadi kenyataan bahwa institusi pemerintahan sudah dipersonifikasikan sebagai jenis binatang. Lalu manusia-manusia yang bernaung dibawah institusi pemerintah itu layakkah kita samakan karakternya seperti binatang-binatang yang digambarkan itu? Tentu masyarakat yang akan menilai.

Bagi manusia-manusia yang sudah terlanjur dipersonifikasikan dengan binatang-binatang, kebetulan sebagai manusia Indonesia, jangan lantas berkecil hati kalau kenyataannya memang demikian. Masih banyak waktu untuk berubah kearah yang lebih baik dan keluar dari stereotip yang digambarkan secara umum oleh masyarakat. Personifikasi binatang pada manusia bukan sekarang ini saja terjadi. Sudah sejak zaman purba bahwa binatang merupakan simbol-simbol yang hidup di masyarakat. Lihat saja berbagai jenis kendaraan dengan sebutan binatang seperti Impala, Kuda, Kijang, Panter, Kancil, Tiger, Zebra, Colt, Mustang, Ferrari, dan lain-lain. Belum lagi simbol kelahiran manusia banyak juga yang disimbolkan dengan binatang seperti Leo, Sagitarius, Pisces, Aries. Bahkan simbolsimbol kelahiran oleh bangsa Cina menyebutkan 12 binatang yang mewakili karakter manusia yang lahir sesuat tahun Shio tersebut seperti Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi. Banyak lagi simbol-simbol binatang yang berdampingan di kehidupan manusia seperti simbol-simbol kenegaraan seperti Garuda, Falcon, atau nama-nama kelompok dan lain sebagainya. Banyak pula personifikasi seseorang disebut sebagai ular, kambing, kucing, babi, anjing, badak, nyamuk, bajing, tikus, kecoa, ayam, belut, dan lain-lain.

Telepas dari apa yang sedang berkembang di Negara kita tercinta ini, bahwa manusia memang masuk dalam Family Tree Kehidupan untuk kelompok binatang. Kalau menyimak teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin bahwa manusia juga bersaudara dengan monyet, kecuali kalangan agamawan tetap mengatakan bahwa manusia berasal dari yang lebih hina yaitu dari debu tanah? Terserah anda mempercayai yang mana.

Yang terpenting, kalaupun anda sebagai manusia harus masuk dalam kategori binatang, maka sebaiknya memilih-milih binatang apa yang cocok sebagai personifikasi. Terserah anda apa mau jadi satu diantara Shio yang diyakini oleh bangsa Cina tersebut. Untuk iseng-iseng, coba lihat Shio anda, apakah anda seorang Babi, atau Anjing, atau Macan, atau Kerbau, atau Kambing, atau Ular, atau Tikus, atau Kuda, atau Naga, atau Kelinci, atau Ayam, atau memang benar Monyet? Kalau saya …… ahhh malu juga jadi binatang!!!

Back home again>>>