Belum lama kita disuguhkan berita terntang ‘Koin Perduli Prita’ yang berawal dari hukuman berat yang dijatuhkan oleh pengadilan atas tuntutan RS Omni Internasional, dengan denda sebesar Rp 204.000.000 yang sebelumnya dituntut sebesar 300.000.000.000 (Rp 300 miliar) mengusik kepedulian masyarakat untuk sebuah keadilan. Kenyataannya masyarakat memang perduli untuk mengumpulkan koin bahkan terkumpul hingga Rp 650.000.000. Ini menunjukkan bahwa masalah keadilan sudah tidak lagi ditangani oleh institusi pemerintah yang terkait, maka aksi rakyat yang mengadilinya secara damai. 

Kali ini kita disuguhkan lagi berita tentang beredarnya ‘koin cinta Balqis’. Nama Balqis adalah nama seorang ratu yang cantik yang menjadi istri dari Nabi Sulaiman. Cerita mengenai Ratu Balqis yang menjadi istri dari Nabi Sulaiman dikisahkan dengan berbagai versi, dan kali ini Balqis Anindya Passa yang diceritakan adalah seorang anak yang berusia 18 bulan yang menderita Atresia billier anak dari ibundanya bernama Dewi Farida, yaitu adanya penyumbatan saluran empedu dengan sirosis hepatitis progressif. 

Disebutkan bahwa dibutuhkan biaya sekitar 1 miliar untuk melakukan transplantasi hati yang hanya dapat dilakukan di Jepang. Berita ini muncul kepermukaan yang diberitakan oleh berbagai media massa dan termasuk tayangan-tayang acara dialogis oleh beberapa stasiun tv. Maka menyebarlah posko-posko dengan kata sakti “Koin Cinta Untuk Bilqis”. Diberitakan hingga Jum’at 29 Jan 2010 lalu, uang yang sudah terkumpul mencapai Rp. 239 juta”, Ungkap Dewi. Lalu dimana posisi pemerintah? 

Melihat kondisi fisik Bilqis yang kurus dan terlihat tak berdaya menahan sakit yang dideritanya memang menyentuh keprihatinan seseorang untuk menaruh welaskasihan. Tetapi masih banyak lagi anak balita yang berpenampilan lebih memprihatinkan seperti yang menderita gizi buruk dan penderita HIV/AIDS. 

Namun dengan mulai munculnya fenomena baru berupa partisipasi aktif masyarakat seperti pengumpulan koin terhadap sesuatu yang dinilai oleh masyarakat memang penting dilakukan penggalangannya. Ada dua penilaian yang dapat dialamatkan terhadap aksi partisipatif seperti ini, yaitu: 

  1. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memang menaruh peduli terhadap keadaan masyarakat lainnya yang dinilai sedang dalam ketidak berdayaan. Sikap spontanitas untuk ikut berpartisipasi adalah sesuatu yang sangat menggembirakan yang mampu tumbuh dengan sendirinya, menunjukkan bahwa masyarakat memang membutuhkan kesetaraan diantara sesama yaitu anggapan bahwa semua masyarakat berhak untuk hidup layak dalam segala hal di negeri ini.
  2. Kondisi ini menunjukkan pula bahwa masyarakat Indonesia sudah merasa tidak sabar untuk menunggu aksi dari pemerintah untuk menyelamatkan manusia Indonesia yang ada dalam ketidakberdayaan menghadapi persoalan hidup, padahal fungsi pemerintah terhadap masyarakatnya sudah jelas sebagaimana yang dimaktubkan dalam pembukaan UUD’45 yang disepakati bersama untuk mengisi kemerdekaan ini yaitu masyarakat adil dan makmur. Pengejawantahannya sudah dirasakan oleh kebanyakan masyarakat bahwa pemerintah tidak lagi sebagai abdi rakyat melainkan sebagai penguasa yang hanya berslogan memanfaatkan ketidakberdayaan sebagian masyarakat. 

Balqis Anindya Passa adalah salah satu bayi bagian dari rakyat yang hampir hilang kesempatannya untuk hidup layak menghirup udara negeri yang kaya raya ini. Pembiayaan hidup sehat yang sudah mengawang-awang sudah tak mampu lagi di emban oleh orang tua yang mengidamkan anaknya yang nantinya diharapkan menjadi orang yang mengabdikan dirinya kepada negara tercinta Indonesia. Biaya 1 miliar rupiah mungkin tak akan pernah dibayangkan oleh orang kebanyakan di Indonesia yang hanya berharap untuk mendapat hidup sehat, sementara untuk kebutuhan mendasar seperti pangan masih jauh dari harapan. Yang menjadi dimematis bahwa biaya 1 milliar mungkin sudah ribuan balita busung lapar yang terselamatkan. 

Busung Lapar, Nova Maulana di Sragen Jawa Tengah

Diperkirakan bahwa 30% dari 110 juta jiwa balita di Indonesia menderita gizi buruk. Pada tahun 2003 tercatat 3.670 anak mengalami gizi buruk, kemudian data itu meningkat drastis di tahun 2005 menjadi 14.273 jiwa, tentu data ini masih mengambang bagaikan gunung es yang hanya terlihat sedikit di permukaan. 

Menurut data terbaru UNICEF, jumlah anak balita penderita gizi buruk (sebagai kandidat busung lapar) di Indonesia telah mencapai 2,3 juta jiwa. Ini berarti naik sekitar 500 ribu jiwa dibandingkan dengan data 2005 sejumlah 1,8 juta jiwa. Peningkatan ini layak diwaspadai karena hal itu bisa menyebabkan hilangnya satu generasi. Penderita gizi buruk dikhawatirkan mengalami kerusakan otak yang tak mungkin diperbaiki sehingga anak akan bodoh permanen. 

Data BPS (2007) yang menyebutkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2007 berkurang 2,13 juta orang dibandingkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2006 menjadi kontradiktif dengan jatuhnya korban gizi buruk di beberapa daerah. Korban gizi buruk yang meninggal di Medan adalah puncak gunung es yang menggambarkan besaran masalah yang tersembunyi kalau kasus gizi buruk muncul. Jika ratusan balita menderita gizi buruk, bisa diduga ribuan anak lain mengalami penderitaan yang sama tapi tak muncul ke permukaan akibat kurangnya pemberitaan atau rasa malu yang ditanggung kalau seseorang disebut mengalami gizi buruk. 

Hampir diseluruh daerah di Indonesia ditemukan balita yang busung lapar atau mengalami gizi buruk, dimulai dari Aceh, Medan, Jambi, Tangerang, Jawa Tengah, NTB, NTT, dan mungkin masih banyak daerah yang tidak terlaporkan.

HIV/AIDS, Berkat Anugrah Hutauruk (4,7thn.)

Belum lagi jumlah anak yang menderita HIV/AIDS yang tidak pernah terdata secara mendetail, namun dalam kenyataannya setiap saat ada saja anak balita yang meninggal dunia karena menderita HIV/AIDS yang jumlahnya juga bagaikan gunung es. 

Lalu apa yang harus diharapkan oleh rakyat dari pemerintah? Apakah sudah diberdayakan pusat-pusat kesehatan masyarakat? Sementara di kota-kota besar bertumbuh rumah sakit moderen yang berfasilitas bagaikan hotel namun hanya terbatas untuk orang yang berpunya saja, sementara rumah sakit yang bersubsidi untuk masyarakat kebanyakan penyebarannya tidak menjangkau kawasan yang membutuhkannya, belum lagi pelayanan procedural yang memusingkan kepala, apalagi pelayanan kesehatannya. 

Pada dasarnya rakyat kebanyakan ini sudah menunggu perubahan yang radikal yang rela diperbuat oleh pemerintah, sementara perubahan yang bersifat evolusi yang selama ini dilakonkan oleh pemerintah hanya membuat masyarakat papa tetap mengalami nestapa. Ayo semua rakyat untuk mulai menanamkan ada rasa cinta di hati sanubari untuk sesama…

Back home to see more>>>