Blog maridup.wordpress.com menerima berita menyedihkan tentang Rani di ruang komentar artikel tentang Prita & Balqis. Rani adalah seorang korban gempa di Padang beberapa waktu lalu,  ternyata dia masih menderita berkepanjangan menanti uluran tangan orang-orang yang berhati malaikat. HUBUNGI ALAMAT-ALAMAT TERTERA DALAM BERITA BERIKUT….

Rabu, 10 February 2010
BUTUH BANTUAN

HENDRI NOVA

PADANG- Tubuh kurus itu bagaikan kulit pembalut tulang, tergolek lemah di bangsal Bougenvil 04 RSUP M. Djamil Padang. Keceriaan telah lenyap dari wajah Rani Anggraini (13), korban gempa 7,9 SR, Rabu 30 September 2009 lalu.

Sekali-sekali, terdengar erangan rasa sakit, dari bibir Rani yang pucat. Rasa sakit itu berasal dari tulang bekas amputasi, yang kini terus tumbuh. “Rani sudah mengalami empat kali operasi. Tanggal 30 September 2009 lalu, ia menjalani operasi pertama untuk memotong kaki kiri. Akibat gempa itu, kaki Rani terluka parah,” kata Khasmayetti (46), ibu Rani yang tampak tabah menghadapi kondisi putri satu-satunya itu pada Singgalang, Selasa (9/2).

Saat itu, kaki kanan Rani belum dipasangi pen, karena masih ada harapan untuk sembuh. Namun ternyata Allah berkehendak lain, Rani kembali masuk kamar operasi lagi untuk menjalani pemasangan pen di kaki kanan.“Hasil operasi kedua tidak terlalu baik. Rani harus menjalani operasi ketiga, karena dokter memutuskan melakukan pemotongan kaki kanan yang mulai membusuk. Diteruskan operasi keempat, untuk menutup jaringan. Dan dioperasi kelima, Rani sudah diperbolehkan pulang,” tambahnya.

Hanya seminggu saja siswi SMP N 05 Padang itu bisa di rumah. Pada bekas potongan, tampak tumbuh tulang baru. Tumbuhnya tulang itu, sangat menimbulkan kesakitan bagi Rani. Ia akhirnya kembali masuk rumah sakit.

Pada 04 Januari 2010 lalu, Rani korban gempa di gedung lembaga pendidikan Gama, Jalan Proklamasi, Padang itu kembali menjalani operasi. Sayang setelah itu, tulangnya kembali tumbuh. Dokter mengaku telah bekerja maksimal, hasil yang dicapai baru sebatas itu.

“Saya memutuskan membawa Rani ke Rumah Sakit Khusus Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso, Surakarta, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Saya dapat informasi dari Rina, korban gempa yang kehilangan satu kaki. Dia sekarang sudah bisa ke sekolah dengan kaki palsu, dengan kondisi yang lebih baik,” ujar Khasmayeti yang juga didampingi suaminya Dahlan (54).

Di Surakarta, ia mengaku harus kos untuk menunggui Rani. Sayang uang untuk tinggal di situ tidak mencukupi, karena kartu Askes yang ada di tangan Khasmayeti, hanya mau menanggung separuh biaya saja.

Berharap bantuan dari pemerintah sepertinya mustahil. Hingga saat ini tidak ada lagi membantuan biaya perawatan untuk Rani. Pemko Padang hanya membantu di saat Rani dirawat pertamakali.

Kini Khasmayeti juga dihadapkan ulah Rani yang sering mogok makan. Ia mengaku sudah kehabisan cara untuk membujuk. Air mata sepertinya sudah tidak ada lagi dalam pelupuk matanya, untuk mengungkapkan rasa sedih dalam hati.

Hatinya hancur ketika melihat Rani yang harus kehilangan dua kakinya, hingga mendekati panggkal paha. Untuk aktivitas buang air besar dan kecil, Rani sudah diperlakukan seperti bayi, dengan dipasangi popok.

Sewaktu Singgalang berkunjung, Rani tidak mau melepas bantal guling yang menutup mukanya. Rasa malu, kiranya telah membuatnya menghindar. Rani tidak hanya membutuhkan bantuan biaya perawatan selama dirawat di Surakarta, tapi juga bantuan psikolog dan guru agama. Semua itu dibutuhkan untuk memupuk mentalnya agar bisa bangkit dari musibah yang diderita. Kini adakah tangan-tangan Allah yang ditunjuk sebagai perpanjangan tangan dari-Nya? Anda, pembaca Singgalang yang budiman, bisa meringan beban orangtua Rani yang tidak kenal lelah menyelamatkan dan menyemangati puterinya.

Selain menghubungi Redaksi Harian Singgalang telepon 0751-36923, atau ke nomor HP Khasmayetti, 0813-6370- 9123. Hanya Andalah para donatur tumpuan harapan keluarga Rani selanjutnya. (*)