Jangan Salah Pilih

Booooommmmm!!!!! itulah yang kedengaran ditelinga yang diberitakan setiap hari di media, kemudian berjatuhanlah korban baik harta dan manusia.

Mungkin itulah yang ditakdirkan bagi masyarakat Indonesia bahwa mereka akan selalu mendengar suara Booooommmmm!!!!! dalam bergelut di kehidupannya. Kalau periode sebelumnya suara itu terdengar akibat ulah terorisme yang tentu saja akan menelan korban jiwa dan harta, lalu sekarang ini suara itu diundang oleh pemerintah untuk hadir di tengah-tengah masyarakat, dan malah akan lebih banyak menelan korban jiwa dan harta.

Kehadiran tabung gas LPG ukuran 3 kg dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka program konversi minyak tanah menjadi LPG untuk kebanyakan porsinya mengarah kepada ketidakrelaan pemerintah memberikan subsidi kepada masyarakat banyak.

Pada masa itu penggunaan minyak-tanah sesungguhnya kebanyakan digunakan oleh masyarakat menengah kebawah bahkan boleh disebut masyarakat bawah yaitu untuk penggunaannya sebagai bahan bakar untuk memasak (kompor minyak) baik di perkotaan apalagi di pedesaan.

Penggunaannya juga dimanfaatkan oleh para nelayan baik untuk mesin penggerak perahunya, yang boleh dibilang belum seluruhnya menggunakan teknologi lebih maju seperti menggunakan solar atau bensin, disamping harga yang lebih murah dibanding dua bahan bakar alternatif lainnya itu. Mereka juga menggunakan penerangan perahunya dengan menggunakan lampu minyak baik yang bertekanan seperti petromaks atau jenis lampu teplok. Disamping itu para nelayan juga menggunakannya untuk pengolahan ikan dengan kompor minyak bertekanan.

Kemudian minyak tanah juga digunakan oleh para pengrajin. Banyak jenis kerajinan yang memanfaatkan minyak tanah untuk proses produksinya, dan para pengrajin ini hampir semuanya boleh dibilang berada di pedesaan.

Minyak tanah juga digunakan oleh sebagian besar masyarakat pedesaan untuk penerangan karena belum semua jaringan listrik sampai ke pedesaan, kalau pun jaringan listrik sudah masuk pedesaan belum tentu mereka memenuhi persyaratan untuk melakukan penyambungannya, boleh jadi karena pembebanan biayanya yang belum layak buat mereka. Boleh jadi mereka hanya butuh satu atau dua bohlam (bola lampu) sementara biaya penyambungan dan biaya beban tak mampu mereka keluarkan karena bagi PLN (Pemerintah) mereka tidak akan berkesempatan dibolehkan ngutang. Maka jadilah minyak tanah menjadi solusinya bagi mereka.

Bagi rumah tangga, minyak tanah memang terbanyak menggunakan kompor minyak, baik di perkotaan apalagi di pedesaan, bahkan untuk masyarakat papa di pedesaan masih juga menggunakan minyak tanah untuk menyulut ranting-ranting kayu yang mereka gunakan untuk memasak dan adakalanya mereka tidak memiliki stok cadangan untuk itu sehingga mereka mengeluarkannya dari lampu teplok, menunggu sore menjelang malamnya mereka membeli lagi untuk keperluan penerangan.

Para pedagang makanan di perkotaan baik pedagang gerobak atau warung kecil lebih praktis menggunakan minyak tanah disamping tingkat bahaya yang relatif kecil dibanding gas untuk tingkat kekumuhan penggunanya.

Oleh karena itu apabila minyak tanah mendapatkan subsidi maka masyarakat bawah yang memanfaatkannya bukanlah pejabat pemerintah atau masyarakat menengah-atas yang secara gradual sudah meninggalkan penggunaan minyak tanah itu.

Kalaupun ada perkeliruan yang dilakukan oleh kaum perkotaan semisal pengoplosan bahan bakar tentu karena ada yang salah pada otoritas negri ini yang menyalurkan bahan bakar tersebut. dan boleh dipastikan bahwa komparasi nilainya sangat kecil dibanding manfaat yang diperoleh oleh masyarakat bawah.

Seandainya banyak pengoplosan bensin dan solar dilakukan di kota-kota, apakah ini menjadi porsi yang begitu besar? bagaimana menjadi besar? karena industri atau kendaraan yang menggunakannya sudah tertata sistim penyalurannya, dan apabila oplosan itu yang masuk kepada pengguna dan dianggap sudah sedemikian besarnya, maka sistim penyaluran tersebutlah yang membuat itu bisa terjadi, apakah itu yang terdapat di setiap stasiun (SPBU) atau DO dari Gudang Bahan-bakar yang resmi. Artinya oknum yang melakukan tetapi masyarakat bawah yang kena pukulan.

Apakah tidak wajar pemerintah memberikan subsidi kepada masyarakatnya yang dibawah itu? Kalau secara hukum bahwa sekarang ini memang kedudukan masyarakat sudah dilemahkan untuk ikut mencicipi hasil bumi pertiwi ini secara langsung, ya sama seperti produk minyak atau produk bumi lainnya yang langsung dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Coba saja kita telusuri bab dan ayat-ayat pada UUD’45 yang menjaminkan negara harus bertanggung jawab untuk memanfaatkan hasil bumi ini dengan sebesar-besarnya termanfaatkan untuk masyarakat. Pada UUD’02 butir-butir yang menjamin penggunaan hasil bumi secara langsung untuk masyarakat banyak sudah semakin kabur, boleh dibilang rakyat tidak berhak lagi menikmatinya secara langsung melainkan menjadi sepenuhnya hak pemerintah untuk bertindak dibalik tameng-tameng management pemerintahannya.

Coba kita cerna pengartian yang terkandung pada pasal-33 UUD’45 dengan pasal-33 UUD’02 bahwa pemerintah diberikan keleluasaan untuk menentukan pemanfaatan hasil bumi ini. Misalnya subsidi yang dihapus akan menambah modal pemerintah yang katanya untuk mengurusi negara dan mungkin dimanfaatkan melalui pemberian anggaran pendidikan 20% dari APBN, malah masyarakat semakin terbebani dengan biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau untuk menikmati setiap strata pendidikan. Buktikan saja dilapangan.

Yang langsung dianggap masyarakat sebagai haknya yang dihasilkan bumi pertiwi dan dulunya mereka dilindungi oleh UUD’45 adalah sebagiannya minyak-bumi, batu-bara, gas, panas-bumi (listrik), dan masih bersyukur garam yang tidak pernah disubsidi pemerintah karena berharga sangat murah. Coba kita bayangkan bila harga garam sama seperti 300 tahun lalu, pasti pemerintah ikut campur mengurusinya. Yang diharapkan oleh rakyat bagaimana minyak-bumi,  gas (LPG), listrik yang sudah menjadi kebutuhan mutlak mampu dibuat pemerintah seperti komoditi garam tadi. Kalau melihat garam yang tak pernah diatur pemerintah boleh menjadi sedemikian murahnya, mungkin boleh juga dipikirkan agar minyak-bumi,  gas (LPG), listrik tidak usah diurusi oleh pemerintah, boleh jadi akan seperti garam yang sangat terjangkau itu.

Entah bagaimanapun munculnya ide pengkonversian minyak-tanah menjadi LPG tidak perlu kita persoalkan lagi, tetapi pada saat itu sekitar akhir tahun 2007 wakil rakyat sudah mendesak pemerintah untuk secepatnya menyediakan 5,6 juta tabung LPG 3 kg sebagai pengganti bunyi-bunyian Boooommmm!!!! yang pada saat itu memang sering didengungkan oleh terorisme dan saat ini sudah terbukti bahwa pemerintah sudah berhasil memalu bunyi-bunyian itu, maka bergelimpanganlah tubuh-tubuh, rontoklah gedung-gedung yang diikuti cahaya terang benderang seolah sebuah perayaan kembang api yang layak dirayakan.

Gas yang sudah dieksplorasi, kalau tidak dipakai tentu akan terbuang begitu saja, buktinya gas Indonesia di eksport ke Cina dengan harga sangat murah dan entah kapan berakhirnya kontrak itu, Indonesia harus terus mengirimnya kesana. Lalu gas yang disalurkan ke masyarakat masihlah sangat kecil jumlahnya dan dijual ke masyarakat dengan harga relatif tinggi dibanding dengan yang diberikan kepada orang lain sana. Supaya tidak terbuang percuma maka dijual ke masyarakat dengan menghilangkan minyak-tanah dari kehidupan masyarakat karena memang harus disubsidi.

Jumlah gas di bumi pertiwi Indonesia boleh dikatakan berlimpah ruah dan sebenarnya sama saja harganya seperti garam, dan harus dijual kepada masyarakat dengan komparasi harga yang kira-kira setara dengan bahan bakar lainnya, dengan siasat-siasat konversi hanya karena menggampangkan pemikirannya untuk menghilangkan bagian kepemilikan rakyat atas hasil bumi melalui subsidi. Lihat saja… dalam waktu tidak terlalu lama lagi maka gas konversi itupun akan dikatakan disubsidi, lalu subsidinya dihapus karena pabriknya rugi, lalu dibanding-bandingkan harganya dengan negara yang tidak menghasilkan gas, lalu harga itupun kemudian diterapkan untuk masyarakat.

Tabung gas tersebut secara terus menerus diproduksi dan PERTAMINA memenuhi target memproduksi sebanyak 12.000.000 (12 juta) tabung tahun 2008, tahun ini targetnya adalah 15 juta dan akan berjuta-juta pula akan menjadi ancaman mengeluarkan bunyi Boooommmm!!!! Coba anda bayangkan bila puluhan juta penghasil Boooommmm!!!! itu meledak diseluruh Indonesia suatu saat nanti, maka Little Boy yang jatuh di Hirosima tidak ada apa-apanya. “It’s not a big problem” kata pemerintah.

Kalau ada orang iseng-iseng untuk menghitung kerugian nyawa dan harta yang diakibatkan bunyi ledakan Boooommmm!!!! tadi, boleh jadi sudah lebih mahal dari subsidi yang dikantungi oleh pemerintah yang dicabutnya dari masyarakat. Lalu beban itu siapa yang tanggung? apakah pemerintah ini? yang pasti yang menanggungnya adalah yang mengalami bunyi Boooommmm!!!!.  Kalau pemikiran sederhananya, jumlah kerugian masyarakat tersebut sebenarnya lebih baik tidak diberikan kepada sijago merah yang membakar harta benda karena ledakan itu, ditambah lagi nyawa-nyawa yang hilang tersebut lebih baik diberikan kepada pemerintahan ini dari pada hilang nyawa percuma lebih baik diberikan kepada pemerintahan ini supaya nyawa-nyawa mereka bertambah banyak.

Jangan salahkan PT. TMM, PT. PIC dan PT lainnya karena mereka hanya mau memproduksi tabung yang mirip-mirip saja. Jangan Salahkan SNII karena mereka hanya bilang untuk tabung seperti ini sudah mereka keluarkan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jangan salahkan PERTSAMINA karena mereka hanya mengeluarkan gas dari bumi lalu hitung untung dan tak berapa lama lagi dikatakan hitungannya rugi. Jangan juga salahkan pemerintah karena mereka hanya ingin mengumpulkan bentuk atau nilai uang yang beredar di negri ini lalu terserah mereka menyimpannya dimana-mana, apakah diporsikan untuk pendidikan 20%, untuk gaji mereka sekian persen, untuk tunjangan mereka sekian persen, untuk manambah jumlah harta benda mereka sekian persen, untuk perawatan harta-benda mereka itu sekian persen, padahal jumlah mereka hanya 2% saja, sementara yang 98% harus mencari kearifannya sendiri, dan kalau harus mengundang bunyi-bunyian Boooommmm!!! ya urus sendiri saja, dan masih jutaan stok yang bisa berbunyi Boooommmm!!!

Walaupun nasi belum menjadi bubur, biarkan saja alam yang akan menghakiminya. Sepertinya akan selalu ada perseteruan antara Negara dengan Rakyat, Pemerintah dengan Masyarakat, Individualisme dengan Sosialisme, Egoisme dengan Moralisme, yang diramu dengan benteng-benteng semu Agamaisme, Demokratisme, Pluralisme, dimana pondasi bangsa dan negara ini adalah rakyat yang memandangnya dengan pesimisme.

Baca juga : Bom Elpiji Siapa?