Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; Sumber: politik.kompasiana.com

Apa yang seru dengan kalimat seru ‘Gulingkan Presiden’? Ada beberapa berita di media tentang ‘menggulingkan Presiden’ seperti disarikan berikut: Partai oposisi Kuomintang di Taiwan berusaha menggulingkan Presiden Chen Sui Bian dengan mengeluarkan mosi tidak percaya pada Nopember 2006. Tentara Nasional Nigeria mengumumkan telah menggulingkan Presiden Mamadou Tandja, membekukan konstitusi dan membubarkan pemerintahan pada Pebruari 2010 lalu. Kelompok-kelompok pemberontak di Eritrea – Afrika diberitakan Mei 2010 lalu, berusaha menggulingkan Presiden Isaias Afwerki karena dituduh telah banyak membunuh etnis Afar di negri itu. Yang paling seru baru-baru ini diberitakan bahwa Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman mengeluarkan kalimat ancaman untuk menggulingkan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad. Dan tentu masih banyak lagi berita-berita tentang seruan ‘Gulingkan Presiden’! 

Di Indonesia, hal guling-menggulingkan presiden bukan lagi berita baru. Banyak yang meyakini bahwa Presiden-I Indonesia – Soekarno adalah digulingkan dan digantikan oleh Presiden-II – Soeharto. Demikian pula Presiden-II – Soeharto digulingkan yang saat itu disebutkan dengan istilah ‘Lengser ke Prabon’ dan digantikan oleh Presiden-III – BJ Habibie yang sebelumnya sebagai Wakil Presiden semasa Soeharto.  Gerakan yang disebut Reformasi memunculkan nama Amien Rais sehingga Presiden BJ. Habibie juga digulingkan sebelum menjabat 2 tahun masa pemerintahannya. BJ Habibie digantikan oleh Presiden-IV Gus Dur atas suara-suara rakyat melalui Gerakan Reformasi yang dipromotori oleh Amien Rais juga. Ketidak puasan terhadap kepemimpinan Gus Dur, maka Gerakan Reformasi ala Amien Rais menelan korbannya juga sehingga Presiden-IV Gus Dur digulingkan juga dan sisa pemerintahannya diserahkan kepada Wakil Presiden, sehingga Megawati menjadi Presiden-V sampai selesai masa pemerintahannya. 

Era Baru Demokrasi muncul di Indonesia dalam bentuk pemilihan presiden secara langsung. Muncullah Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden-VI yang diklaim sebagai presiden yang mendapat legitimasi dari rakyat. Pemerintahannya berlangsung mulus walaupun banyak gejolak ekonomi yang menekan kehidupan rakyat yang sudah terpuruk akibat Krisis Asia dan juga Krisis Global. 

Sepuluh tahun gerakan reformasi yang diharapkan oleh rakyat akan dapat merubah kehidupannya kearah yang lebih beradab, dibanding dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Harapan rakyat tersebut ternyata tidak diperoleh juga. Banyak kemajuan sudah dicapai dalam berbagai bidang, akan tetapi ekonomi yang menyentuh kehidupan rakyat secara menyeluruh tidak juga meningkat sebagaimana yang diharapkan. Berulangkali terjadi kenaikan harga Sembilan Bahan Pokok akibat kebijakan-kebijakan yang bertamengkan demi kemakmuran rakyat. Kebijakan-kebijakan yang mengakibatkan kenaikan harga-harga Sembilan Bahan Pokok memang mampu memberdayakan keuangan negara untuk memutar roda pemerintahan, akan tetapi tidak pernah menyentuh peningkatan kehidupan ekonimi rakyat secara menyeluruh. 

Anehnya rakyat seolah tidak terpikir lagi untuk menumpahkan kesalahan kepada seorang kepala negara? Mereka tidak terpikir untuk melakukan aksi-aksi seperti potret sebelumnya yaitu menggulingkan presidennya, yang kenyataannya berhasil dilakukan beberapa kali? Mungkin juga mereka berusaha untuk memaklumi kesulitan mengelola negara sebesar Indonesia ini? Mungkin juga mereka sudah lelah memperjuangkan haknya untuk memperoleh ‘Adil dan Makmur’? Mungkin juga mereka merasa malu untuk mengatakan ‘aku salah pilih’? Banyak lagi pertanyaan yang menjurus kepada kata ‘mungkin’? 

Fakta mengatakan lain. Semua pertanyaan yang disebutkan di atas ternyata salah alamat kalau ditujukan kepada seorang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada Pemilihan Presiden untuk masa jabatan 2009-2014 yang dilaksanakan secara langsung dipilih oleh rakyat ternyata beliau sukses dan tetap menjadi Presiden-VII, itulah Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu kok ada terdengan belakangan ini kalimat yang berbunyi ‘Gulingkan Presiden’

Bermula issu yang berkembang pada Desember 2009, dimana politikus Partai Demokrat yang juga sebagai partai yang didirikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu Ruhut Sitompul yang mengatakan hanya dua mantan menteri yang berusaha menggoyang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan catatan informasi ini diperoleh dari BIN (Badan Intelijen Negara). 

Pada awal-awal pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Jilid-2, banyak bermunculan kasus-kasus korupsi skala besar seperti kasus KPK dan Bank Century, sehingga banyak gonjang-ganjing di tubuh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk masyarakat yang mulai mengalamatkan penilaiannya terhadap pemerintahannya. Issu-issu besar ini bahkan dicurigai dapat menggulingkan Presiden sebagai tampuk pimpinan pemerintahan, sebagaimana boleh kita petik potongan beritanya yang pernah diterbitkan di harian-global.com tanggal 9 Nov. 2009, berbunyi:

Berpotensi Gulingkan Presiden 

Sementara itu, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid berpendapat, aksi massa pendukung KPK di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Minggu pagi, berpotensi menggulingkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari jabatannya. “Protes terhadap kasus ini, bukan hanya datang dari lembaga swadaya masyarakat tapi juga dari individu-individu di masyarakat. Saya kira ini merupakan suatu eksperimentasi gerakan sosial yang besar, yang bisa berakhir pada penggulingan Presiden kalau Presiden tidak berhasil menyelesaikan masalah ini,” ujarnya. 

Usman Hamid menyarankan presiden untuk sesegera mungkin mengambil tindakan terhadap Jaksa Agung Hendarman Supandji dan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Selanjutnya, Presiden juga harus mendorong KPK untuk melakukan penyelidikan secara independen terhadap kasus PT Masaro Radiokom dan Bank Century.”

Hari ini, Kamis 14 Oktober 2010, TRIBUNNEWS.COM merilis judul berita “SBY-Budiono Seyogianya Sudah Terguling”. “SBY sebetulnya sudah terguling secara legitimasi dan sosial. Jadi meskipun dia tetap ada sampai lima tahun lagi, tapi dalam konteks publik trust, nilai kepercayaan terhadap SBY ini sudah merosot,” ujar Effendy saat menghadiri diskusi di kantor PP Muhammadiyah, Rabu (14/10/2010) kemarin. 

Pada hari ini juga, Kamis 14 Oktober 2010, ada counter-news yang dirilis oleh Antara berjudul “Wacana Gulingkan Presiden Pendidikan Politik Tidak Benar”. Disebutkan kutipannya: 

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan PR Heru Lelono mengatakan, wacana untuk menggulingkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan pendidikan politik yang tidak benar. “Saya sepakat dengan mereka kalau Presiden Yudhoyono melanggar Pancasila, UUD 45, melanggar UU, melanggar sumpah jabatan. Nah sekarang ini, apa yang dilanggar oleh Presiden Yudhoyono,” kata Heru. 

Sementera itu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan menyarankan kepada mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli untuk membuat partai sendiri. “Saya sarankan kepada Rizal Ramli, dari pada liar di jalanan, lebih baik bikin partai sendiri, rebut hati rakyat lalu maju 2014, apakah rakyat simpati atau tidak. Bisa kalahkan Yudhoyono atau tidak,” kata Pohan. “Kepada LSM-LSM yang berkoar-koar minta SBY mundur, lebih baik jadikan partai saja. Ini gak, nongkrong di hotel mewah, ngopi-ngopi, ngerokok, lalu muncul ide mau gulingkan presiden,” kata anggota Komisi I DPR RI itu.

Gerakan 20102010

Apa pula Gerakan 20102010?  Melihat namanya mirip dengan bilangan ‘binary’ yang dikenal oleh bahasa komputer. Ternyata Gerakan 20102010 adalah gerakan yang akan dilangsungkan pada tanggal 20 Oktober 2010. Gerakan apa gerangan yang akan berlangsung pada enam hari mendatang? Ternyata akan ada Gerakan Massa dalam skala besar akan berlangsung di pusat-pusat kekuatan se-Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, 16 tokoh dari LSM, Ormas, Organisasi Mahasiswa, dan Buruh Tani tingkat nasional telah menggelar pertemuan pada 26 September 2010 dalam rangka menyatukan pikiran dan gagasan dalam rangka menggelar aksi massa, rencananya tanggal 20 Oktober 2010 mungkin sebagai angka keramat 20102010, 28 Oktober 2010 sebagai peringatan 1 tahun pemerintahan SBY, dan 10 Nopember 2010 sebagai wujud memperingati Hari Pahlawan.

APA KATA MEREKA? 

Memang banyak persoalan-persoalan yang muncul semasa pemerintahan SBY – Bidiono yang seolah tutup mata untuk mengatasinya. Penegakan Hukum, Krisis Ekonomi Rakyat, Kemiskinan, Kerusuhan Massa, Sikap Tanggap terhadap persoalan yang diderita oleh rakyat dalam berbagai bentuk yang bersifat massal. 

“Selama dua tahun kita kritisi SBY, adalah menggunakan opinion power, sekarang sudah saatnya masuk dalam ril power, melalui gerakan masa yang kuat secara nasional. Tidak ada satu alasan untuk mempertahankan SBY,” tutur Haris Rusli, Aktivis Petisi-28. 

“Makin disadari hari ini, masing-masing kelompok bahwa untuk membuat perubahan tidak cukup kekuatan seribu hingga seratus ribu. Perubahan bisa terjadi bila ada puluhan sampai ratusan juta orang,” tutur Aktivis Aliansi Buruh Menggugat – Ilhamsyah, dan Adiyatma, Kordinator BEM se-Indonesia. 

“Kepemimpinan baik itu di eksekutif dan legislatif selama ini lebih banyak menampilkan citra daripada menampilkan sosok seorang pemimpin. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk “Stop Pemimpin Citra” dan jangan berharap terlalu banyak,” kata Ray Rangkuti – Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, dalam jumpa pers di Gedung DPR, Jakarta, Senin (9/8/2010). 

“Kami juga ingin mengajak masyarakat yang punya masalah untuk mari kita selesaikan masalah kita sendiri karena pemerintah sudah abai terhadap persoalan rakyat,” kata Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA). 

Pengamat Komunikasi Politik UI yang juga aktif di KOMPAK, Effendi Gazali, menambahkan, dalam rangkaiannya, gerakan ini juga akan melakukan safari “Mencari Pemimpin Sejati”. “Pemerintah selama ini absen kalau ada berbagai peristiwa pada rakyatnya. Dalam safari ini, kami akan meminta masyarakat untuk membuat neraca positif dan negatifnya pemerintahan saat ini, agar menjadi bahan introspeksi,” ujar Effendi. 

“Lima tahun kepemimpinan SBY dan setahun pemerintahan SBY-Boediono kondisi Indonesia makin terpuruk, tidak ada peningkatan kualitas kehidupan di segala aspek kehidupan. Tingkat  kesejahteraan rakyat mengalami penurunan, disana-sini rakyat merasakan kesulitan hidup, lapangan kerja yang terbatas, harga-harga yang melambung tinggi, kebebasan beribadah yang dipersulit, kedaulatan negara yang merosot, dan lain-lain. Ketidakmampuan SBY-Boediono dalam mengelola dan memimpin pemerintahan adalah sumber utama segala permaslahan yang mendera negara dan bangsa Indonesia saat ini. Tak ada dasar argumentasi untuk mempertahankan pemerintahan SBY-Boediono yang sudah gagal ini selain bersatu padu turun ke jalan kepung istana negara dan menggantikannya dengann membentuk pemerintahan yang pro kedaulatan nasional dan pro rakyat.” ujar salah satu aktivis yang juga salah satu juru bicara kelompok pergerakan Petisi 28, Masinton Pasaribu kepada tribunnews, Senin (27/92010). 

“Pelanggaran konstitusi yang sudah dilakukan oleh Presiden dan Wakil Presiden RI itu sudah cukup untuk mengakhiri rezim kepemimpinan mereka. Pelanggaran yang dimaksud di antaranya, gagal menjamin kebebasan beragama, gagal menjadikan kekayaan negara untuk kesejahteraan rakyat, membiarkan sumber energi dan mineral dikuasai asing, dan membiarkan orang miskin tanpa ada jaminan dari negara. Justru subsidi terus menerus dikurangi dalam semua aspek kehidupan rakyat. Terbongkarnya skandal Bank Century yang tanpa kejelasan hukum dan politik justru membuat rasa frustasi politik dan sosial bagi masyarakat. Gerakan mahasiswa adalah penjaga konstitusi,” demikian ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ton Abdillah Has kepada Republika, Selasa (12/10/2010). 

KIRA-KIRA APA REAKSI PRESIDEN SBY? 

Untuk mengetahui pasti reaksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentu kita saksikan saja setelah tanggal-tanggal aksi massa tersebut, akan tetapi reaksi dari lingkaran kepresidenan sudah digulirkan di media massa seperti dikutip di atas. 

Kalau kita kilas balik kepada tanggapan Presiden SBY terhadap aksi massa sewaktu beliau meresmikan PLTU di Desa Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Akhir Januari 2010, Presiden secara khusus mengomentari aksi unjuk rasa berkaitan dengan program 100 hari pertama pemerintahannya: 

“Saya tahu di Jakarta ada unjuk rasa, protes, gerakan-gerakan. Itu biasa dalam alam demokrasi. Kita dengar kritiknya, apa yang disampaikan. Jangan merusak, jangan membakar, jangan menduduki paksa. Kalau itu terjadi, Jakarta bisa kembali seperti pada 1998, negara mundur, rakyat susah, ekonomi lumpuh. Apa harus begitu,” ujar Presiden. 

Kepala Negara meminta unjuk rasa dilakukan secara tertib dan damai, serta segala protes dan kritik disampaikan secara santun sesuai dengan nilai budaya dan bangsa, tuturnya. Presiden mempersilakan para pengunjuk rasa untuk mengkritik pemerintah, mulai dari dirinya sebagai Kepala Negara, menteri, gubernur, bupati dan walikota apabila kritik itu ditujukan untuk perbaikan dan mencari jalan keluar. 

HARAPAN RAKYAT KEPADA ABDI & WAKIL RAKYAT 

Sebenarnya tidak perlu lagi rakyat harus bertanya atau menuntut kepada Abdi dan Wakil Rakyat, atas apa yang harus mereka perbuat kepada seluruh rakyat. Cukuplah semuanya komponen bangsa ini berbuat seperti apa yang dipesankan oleh Undang Undang Dasar dan perangkat-perangkatnya secara jujur dan konsekwen. 

Sudah cukup banyak sikap dan aksi yang terjadi yang berkaitkan dengan ‘Gulingkan Presiden’ sejak Presiden pertama sampai Presiden ketujuh sekarang ini. Yang belum pernah kita dengar adalah berita berjudul “Presiden Menggulingkan Diri”. Yang mana yang akan kita dengar pada tanggal 20 Oktober 2010 dan setelahnya? Kita tunggu saja.