Raja Salomo Berjinah

Katanya aku anak yang kaya raya, berlimpah harta yang tak mampu ditandingi oleh siapapun di jagad raya ini. Tetapi aku tak tau apa itu kaya raya, dan apa itu berlimpah harta, akupun tak mengerti. Boleh sumpah serapah bahwa aku memang tak pernah mengerti. 

Katanya aku raja bahkan bisa menjadi raja-adiraja yang menguasai sesuatu yang besar bersifat kemahaan melampaui kemahaan negeri negeri lain. Tetapi aku tidak mengerti apa makna dari raja, bahkan tak pernah mampu membayangkan definisi dari raja-adiraja yang katanya layak aku lekatkan pada pencitraan diri. 

Itulah aku, kau, kita, dan kamu, dan itulah yang membentuk komposisi Viagra ini dari sejumlah banyak unsur negeri-negeri menjadi satu naungan yang disebut Nusasementara. Siapa yang berani mengatakan bahwa Nusasementara ini tidak kaya raya? Siapa pula yang berani mengatakan bahwa Nusasementara ini tidak berlimpah harta untuk membeli formulasiViagra ini? 

Itulah aku, kau, kita, dan kamu, dan itulah yang membentuk wadah Pemberilintah ini dari sejumlah banyak raja-raja tiap negeri menyerahkan hak dan kekuasaannya kepada seorang adiraja yang kita namai saja sebagai Pre-sinden dalam sebuah Pemberilintah, yang layak juga disebut sebagai leburan dari raja-raja negeri di Nusasementara. Siapa yang mampu mengatakan bahwa Pemberilintah ini tidak sebagai adiraja? Tidakkah cukup sejumlah 240.000.000 jiwa yang menjadi tiang-tiang pondasi sebuah Pemberilintah yang mengisap darah bervolume besar? Tidakkah cukup 300-an etnis menjadi suara legitimasi sebuah Pemberilintah untuk mengalirkan darah-kehidupan? Tidakkah Tanah-Air Zanrud Khatulistiwa menjadi penopang kemuliaan bangsa dalam sebuah komposisiViagra yang manjur di Pemberilintahan? 

Itulah aku, kau, kita, dan kamu, dan itulah yang salah sejak dahulunya sehingga aku harus di-manajer-i oleh dua Penjelajah Wulandari dan Jaipuni yang memanjakan tubuh untuk tidak terlatih menggunakan otot dan otak selama 350 tahun, bahkan begitu malasnya untuk mencebok dubur di negeri air, dimana kekakuan dedaunan harus disetarakan dengan kelembutan tissue. Nyatanya aku melihat dengan nyata olesan kotoran-kotoran berbau yang berserakan, yang kemungkinan pula terinjak dan tersentuh oleh orang lain yang membuatnya menjadi haram, tetapi matahatiku tidak menyebut itu suatu kenajisan. 

Sudahlah….. itu dahulu, dan aku sudah disandingkan dengan Belahan Jiwa menjadi Pengantin Perjanjian Baru dalam wujud Keberdikarian. Aku menyematkan Cincin Pengikat melingkari Kabaret Pemberilintahku, disaksikan oleh tetua-tetua yang terhormat Wali-DaPuR, lalu perkawinanku disyahkan oleh Junjungan MamPiR atas talaq ayat-ayat kesucian Amagedon Kerajaan Langit. Aku diberikan Pustaka Sumpah Sakti untuk Pencaksilat dan Uud Panglima bahwa aku harus menyuguhkan santapan kepada hadirin-hadirat dengan menu Demogratis yang bercitarasa Afdol dan Maimun, sehingga hadirin-hadirat  berselera untuk mencicipinya dengan lahap hingga kenyang. 

Kini jadilah aku syah menjadi Raja-Semusim dengan mengadakan Pesta-Raya selama 100 hari untuk melewati Empat Purnama Bulan-Madun. Tarian-tarian eksotisme melupakan aku menambah kayu-kayu perapian. Api mulai padam, beras di dandang tidak sempat matang untuk menjadi nasi. Aku mulai khawatir hadirin-hadirat menjadi lapar telat makan. Kayu dihutan sudah tidak cukup lagi untuk memembakar tanakan nasi.  Batubara sudah porsi yang terakhir untuk dian-obor penerangan. 

Sementara Pesta-Raya harus tetap berlangsung. Tarian-tarian eksotisme harus tetap didampingi penabuh gending. Hadirin-hadirat sudah seharusnya makan, tetapi lebih dipentingkan kenyang dululah tetua-tetua yang terhormat Wali-DaPuR, kenyang dululah Dayang-dayang di Lingkaran Setan Abdi-Dalam Penguras Negeri

Pertaruhan terakhir untuk memberi makan hadirin-hadirat adalah mengambil Pustaka Sumpah Sakti untuk Pencaksilat dan Uud Panglima yang selama perayaan hanya sebagai bantal kepala penyenyak mimpi, harus berubah menjadi pengganti kayu bakar untuk menanak nasi. Nasi belum menjadi bubur, Pustaka Sumpah Sakti untuk Pencaksilat dan Uud Panglima masuk dalam tungku perapian. Empat lidah-lidah api menjilat Pustaka Sumpah Sakti untuk Pencaksilat dan Uud Panglima yang perlahan dan pasti telah merubahnya menjadi hitam dan gosong, tetapi tanakan nasi masih juga belum matang untuk menjadi santapan hadirin-hadirat. 

Suasana semakin gelap-gulipat, dan menjadi gulita tanpa pelita. Jarak pandang hanya sebatas ujung bulu mata yang bergetar mengikuti buka-tutup katup bola penghayatan. Aku melangkah dikegelapan dan tersentuh dengan Dayang-dayang di Lingkaran Setan Abdi-Dalam Penguras Negeri. Sentuhan berubah menjadi elusan ketidak berdayaan, sehingga mereka turut berdesir melampiaskan hasrat keduniawian. Langkah-langkahku semakin liar dan menyentuh tubuh-tubuh di luar Lingkaran Setan yang berkulitkan kemuliaan Wali Rakaat

Pengantin si Putri Pertiwi sudah tertinggal entah kemana?. Sudah sulit untuk mencarinya dimana?. Irama gendus yang semakin sayup masih mampu bergema untuk menggerakkan langkah-langkah gontai yang sudah semakin liar. Gesekan-gesekan kulit badak menimbulkan iritasi panas disekujur tubuh. Sementara sentuhan duri tertusuk menikam ketidakberdayaan daging keong yang berjalan lamban, sehingga mengeluarkan lendir-lendir yang menjijikkan. 

Sekarang, setelah tenaga terkuras habis. Nasi-Mentah sudah menjadi Bubur-Takmatang. Hadirin-hadirat kelaparan menghadiri Pesta Raya Bangsat Indahina. Mata menjadi silindris berkunang memandang yang diam-mati seolah bergetar-hidup. Tak dikenali lagi siapa Wali-DaPuR si-pencetak Pustaka Sumpah Sakti untuk Pencaksilat dan Uud Panglima? Tak dikenali lagi siapa Junjungan-MamPiR yang meng-akad nikahkan Pengarang Kabaret Pemberilintah? Tak dikenali lagi siapa-siapa selir Dayang-dayang di Lingkaran Setan Abdi-Dalam Penguras Negeri? Malaikat-malaikat Amagedon dari Kerajaan Surga hanya mengitar-ngitar dengan tubuh telanjang yang hanya berselimut fashion rancangan ala MIB (Man In Black) menyaksikan semua mereka yang sedang BERJINAH

Lalu apa hukuman yang pantas diberikan oleh hadirin-hadirat yang sedang terhina di Pesta Raya berpanenkan nista? Bagaimana mereka begitu terhinanya kehilangan Putri Pertiwi yang raib begitu saja entah kemana? Semuanya karena persoalan berteletele yang mewariskan nafas berbau BERJINAH. 

Maka sekarang saatnya Paduka Yang Mulia Patuan Nagari Bumi Pertiwi mengadakan sayembara dan bertitah keseluruh negeri, mengundang pendekar-pendekar kekar seantero negeri, untuk mencari Sang Putri Pertiwi agar kembali keharibaan Ibu Pertiwi: 

Ayo cari salinan Pustaka Sumpah Sakti untuk Pencaksilat dan Uud Panglima ! Ayo cari pupuh-pupuh bersimpulkan tali penggantung leher si- Pre-sinden Pengarang Kabaret Pemberilintah ! Ayo cari jurus-jurus Pencaksilat dan Uud Panglima yang mampu mematahkan kaki-kaki busuk yang menjejak di singgasana istana ! Ayo ajak Malaikat-malaikat Amagedon dari Kerajaan Surga untuk memecut siksa ! Biarlah semua Wali-DaPuR, Junjungan-MamPiR, Selir Dayang-dayang di Lingkaran Setan Abdi-Dalam Penguras Negeri kita hapus dari gulungan lontar sejarah Kekaisaran Negeri, supaya Sang Putri Pertiwi dilempangkan jalan tanpa lumpur, becek, onak-berduri, menyusuri jalan pulang ke Negeri Kayangan di Lintasan Matahari.