Bolehkah Kasus Nazaruddin Menjadi Pemicu Berdirinya Negara Indonesia Baru Yang Bersih Menuju Adil dan Makmur? Sangat diyakini bahwa kebanyakan masyarakat bukan memihak kepada seorang Nazaruddin, karena dianya juga berada dalam lingkaran yang menjadi lingkungan yang penuh dengan kecurigaan sebagai matarantai pelaku-pelaku korupsi. Tetapi kasus-kasus yang dinyanyikan olehnya memang menjadi perhatian yang sudah lama tertanam dihati sanubari masyarakat Indonesia yang sedari dulu mencita-citakan kehidupannya yang adil dan makmur.

Oleh karena itu ada kemungkinan kasus ini menjadi momentum awal untuk menumbangkan Dinasti Koruptor di bumi Indonesia? Ada kemungkinan kasus ini menjadi sumber kesadaran masyarakat untuk memberangus borok-borok penistaan kekayaan Negara? Ada kemungkinan kasus ini menjadi benih tumbuhnya manusia Indonesia yang menjadi manusia yang seutuhnya. Semua rakyat sedang berharap demikian.

Nazaruddin sudah tiba di Indonesia dan ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Adakah scenario tertentu yang memunculkan banyak kejanggalan kejanggalan itu?

Kejanggalan-kejanggalan dan tidak transparan dalam pemulangan Nazaruddin ke Indonesia;

  1. Nazaruddin dianggap sebagai Wistle-Blower oleh masyarakat atas kasus-kasus Korupsi dana APBN yang melibatkan banyak pihak dan banyak kasus, diantaranya Anggota DPR, Petinggi Partai Demokrat, Petinggi KPK, dan lain sebagainya.
  2. Pada saat Nazaruddin membongkar kasus-kasus korupsi melalui Media, justru dia disebutkan sebagai tertuduh kasus suap, sehingga dicari dan ditangkap di Bogota-Colombia.
  3. Nazaruddin dijemput oleh anggota KPK setelah tertangkap oleh Interpol, sementara petinggi KPK adalah yang diberitakan sebagai pelaku korupsi. Seharusnya pemulangannya dijemput oleh Interpol Indonesia dengan didampingi oleh pengacara, badan independen, dan media.
  4. Di Bogota-Colombia, Nazaruddin tidak diperbolehkan (dihambat) bertemu dengan pengacaranya?
  5. Proses penyerahan Nazaruddin oleh Pemerintah Colombia ke Perwakilan Negara Indonesia dipertanyakan keabsahan prosedurnya.
  6. Hak Nazaruddin dalam koridor HAM tidak diberikan.
  7. Nazaruddin dan istri yang berada bersama di Colombia pada saat ditangkap ternyata tidak dipulangkan bersama dalam satu pesawat, sementara Nazaruddin sangat berpeluang berada dalam tekanan selama di dalam penerbangan pesawat yang justru disertai oleh anggota KPK sebagai pihak terlapor pelaku korupsi.
  8. Penjemputan Nazaruddin dilakukan dengan pesawat khusus dan dalam keadaan tidak terdampingi oleh pihak netral.
  9. Jadwal ketibaan pesawat ternyata ada keterlambatan selama 39 jam. Ada perlakuan apa terhadap Nazaruddin di dalam pesawat?
  10. Barang-barang bukti yang diserahkan Nazaruddin sudah tidak terjamin lagi kelengkapan isinya, dan banyak lagi kejanggalan lainnya.

Bagaimana kira-kira skenario persidangan Nazaruddin yang justru menjadi tertuduh korupsi yang sebelumnya dia sebagai pelapor? Tentu akan banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya dibuat dengan menempatkan skala prioritas terendah menjadi diutamakan:

  1. Tuduhan Pencemaran Nama Baik
  2. Tuduhan Laporan Palsu
  3. Tuduhan Melakukan Pelanggaran Kode Etik Kepartaian
  4. Tuduhan Pemalsuan Identitas/Passport
  5. Menjadi tertuduh Pelaku Korupsi

Coba kita bayangkan apabila tuduhan ini dipersidangkan secara terpisah dari urutan kepentingan terendah secara berurutan dan tidak menjadi inti kasus yang dicurigai sebagai koruptor yang dilaporkan oleh Nazaruddin yang dipersidangkan, lalu apa jadinya? Apabila satu tuduhan memakan waktu misalnya selama 6 bulan, berapa lama kasus ini akan selesai untuk sampai ke urutan ke-5 diatas? Lalu kapan lagi kasus korupsi yang dicurigai dituduhkan oleh Nazaruddin?

Masyarakat harus jeli dan bersuara untuk memantau pelaksanaan Pemberantasan Korupsi di Indonesia agar tidak terus berulang seperti kasus-kasus lainnya seperti Antasari Azhar, Susno Duaji, Gayus Tambunan yang dipandang oleh masyarakat penuh dengan REKAYASA.

Kita perlu mencatatkan butir-butir diatas menjadi agenda untuk mengingatkan bahwa hal yang maha besar sedang terjadi di Indonesia. Mudah-mudahan kemapanan budaya korupsi ini mampu kita akhiri dalam waktu singkat. Cukuplah ditahun ini saja kasus-kasus korupsi dan tahun depan kita mulai menumbuhkan Indonesia Baru melalui benih-benih pemberantasan yang ditanam oleh Nazaruddin. (mph)