Polwan 63 Tahun

Oleh Maridup Hutauruk

Hari ini, Kamis 1 September 2011, Polwan (Polisi Wanita) memperingati Hari Jadinya yang ke-63 tahun. Hanya 2 tahun setelah resminya Polisi Republik Indonesia terbentuk, yaitu 1 Juli 1946, yaitu pada tahun 2011 ini sudah 65 tahun Polisi Indonesia menjadi perangkat Negara sebagai bagian dari pemerintah untuk ikut mengelola Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan fungsinya.

Apa yang sudah dicapai oleh Kepolisian Indonesia tentunya sudah banyak tercatat dalam sejarah perjalanannya sejak Indonesia merdeka dari penjajahan.  Pencatatan sejarah perjalanan panjang itu bukanlah lebih penting dibanding dengan pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat, dan tentunya masyarakatlah yang lebih adil untuk menilai bentuk-bentuk pelayanan yang diberikan oleh Polisi Indonesia.

Kita boleh lihat Logo yang terpampang di atas begitu indahnya bahkan harus dibibentuk dari warna logam termulia seperti emas. Boleh jadi Logo ini memang dilekatkan di uniform polisi untuk mengingatkan mereka tetap melekat dengan visi dan misi Kepolisian dalam melayani masyarakat.

Logo yang terdiri dari tiga bagian juga melambangkan citacita Kepolisian dalam menjalankan tugasnya di Negara ini. Kapas dan Padi yang terdiri dari 45 butir padi, dan 29 daun dan 9 kuntum kapas melambangkan cita-cita bangsa menuju adil dan makmur, sebagai wujud peringatan polisi ikut berjuang pada tanggal 29 September 1945 melawan masuknya agressi Belanda setelah kemerdekaan. Tiang dan Nyala Obor melambangkan penegasan tugas Kepolisian, disamping memberikan suluh dan penerangan juga bermakna penyadaran hari masyarakat agar selalu sadar akan perlunya kondisi kamtibmas (keamanan Ketertiban masyarakat) yang mantap. Ada sejumlah 17 pancaran obor dengan 8 sudut pancar berlapis 4 tiang dan 5 penyangga yang melambangkan 17 Agustus 1945 sebagai Hari Merdeka yang harus dijunjung bersama. Kemudian terdapat 3 bintang di bagian paling atas Logo yang melambangkan Tri Brata yang menjadi Pedoman Hidup Polri.

Apa Pedoman Hidup Tri Brata Polisi itu, sengan sumpahnya “Kami Polisi Indonesia”:

  1. Berbakti Kepada Nusa dan Bangsa dengan penuh ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Menjunjung tinggi Kebenaran dan Keadilan dan Kemanusiaan dalam menegakkan hokum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
  3. Senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.

Bukan hanya Tri Brata saja yang menjadi pedoman Kepolisian, mereka juga mengenal yang disebut Catur Prasetya, sebagai sumpah tugasnya dengan “Sebagai insan Bhayangkara, kehormatan saya adalah berkorban demi masyarakat, bangsa dan Negara” untuk:

  1. Meniadakan segala bentuk gangguan keamanan,
  2. Menjaga keselamatan Jiwa Raga, Harta Benda dan Hak Azasi Manusia,
  3. Menjamin Kepastian berdasarkan Hukum,
  4. Memelihara perasaan tentram dan damai.

Sungguh mulia sumpah yang dibacakan oleh seorang anggota polisi sewaktu mereka bertekat untuk menjadi abdi rakyat di Kepolisian Indonesia. Keinginan luhur itu tentunya sudah banyak yang merasuk ke hati sanubari aparat kepolisian dalam menjalankan tugasnya dengan suatu kesadaran yang menjadi jiwa dari Instansi Kepolisian RI.

Kemajuan disegala bidang memang sudah semakin terlihat oleh masyarakat sejalan dengan meningkatnya rasa keadilan dan kemakmuran di instansi-instansi pemerintah sebagaimana di Kepolisian. Wujud nyata ini sudah banyak terlihat melalui partisipasi aktif pelayanannya di masyarakat.

Polwan bukanlah suatu bentuk peleburan rasisme pria-wanita di Kepolisian yang sebagian tugasnya banyak melaksanakan kegiatan fisik. Tetapi wanita memang unsure yang melengkapi sinergi manusia untuk menjalani kehidupannya dalam sisi kehidupan apapun itu, termasuk di Instansi Kepolisian. Salah satu dari sekian banyak citra wanita sebagai simbol-simbol keindahan, kelembutan, keanggunan, yang semua orang mengakuinya pada sosok ibu, ada terlihat pada sosok-sosok Polwan.

Salah satu citra partisipatif di masyarakat khususnya oleh Polwan belakangan ini terlihat dalam visualisasi media televisi yang secara interaktif memberikan informasi pelayanan umum lalulintas melalui tayangan video streaming. Sebagai contoh ada pada program tayang di Metro TV setiap paginya, dimana partisipasi Polwan terlihat dominan walaupun polisi lelaki tetap ada dalam tampilan yang tidak begitu dominative.

Sosok tampilan Polwan yang anggun dalam seragam Kepolisian yang necis proporsional memperlihatkan fungsi informative yang disampaikan menjadi efektif dan bermanfaat. Sosok cantik dari Polwan yang bahkan tampil melebihi kecantikan kaum selebritis telah menghilangkan citra sangar dan keras bagi aparat kepolisian, yang sebagian kecil tugasnya memang ada yang memunculkan ‘aksi keras’. Jaman memang terus berkembang kearah lebih modern yang harus pula diantisipasi dengan pelaksanaan tugas yang lebih berkembang maju pula.

Terkadang kita membayangkan seandainya Polwan yang cantik-cantik itu ikut berpartisipatif untuk penyadaran masyarakat berlalu lintas, seperti kota Jakarta yang semakin ribet lalulintasnya, termasuk kota-kota besar lainnya, mungkin masyarakat akan lebih patuh ibarat mematuhi ibunya sendiri. SELAMAT DAN SALUT KEPADA POLWAN di HUT ke-63, 1 September 2011. (mph)