Jangan Pergi, Aku Sudah Letih !

Oleh: Maridup Hutauruk

 

Sudah enam bulan ini hidupku kacau tak keruan. Dua tahun lalu aku masih berkecukupan, mewah, hilir-mudik perjalanan luar negeri, dan boleh dibilang hidup mapan di usia yang masih muda. Jabatan tertinggi di sebuah perusahaan yang berbisnis internasional membuatku terikat ketat oleh waktu. Bukan tak boleh memanfaatkan waktu untuk menikmati kehidupan pribadi, tetapi beban pekerjaan membuatku terjerat kedalam kesibukan yang tak mampu kujabarkan dalam kehidupan pribadi maupun berkeluarga. Waktu yang diwariskan oleh sang pencipta 24 jam sehari terasa kurang, malah menuntut Tuhan oknum yang bodoh karena tidak mentakdirhan sehari menjadi 50 jam.

Berawal mulai terasanya gejala krisis moneter di Indonesia di awal Tahun 1997, dimana teman-teman yang datang dari Eropah dan Amerika merasa kagum melihat kemajuan Indonesia yang diluar bayangan mereka. Sewaktu aku membawa mereka untuk melakukan semacam City-Tour di Jakarta, ada yang menjadi pertanyaan besar dihati mereka dan aku menjawab mereka dengan kebanggaan bahwa Soeharto telah menjalankan jalur ekonomi yang memicu pertumbuhan pembangunan yang sangat pesat di Indonesia.

“Mengapa sangat banyak Bank di Jakarta?” itulah pertanyaan yang ditanyakan kepada saya dan dengan kepercayaan diri yang tinggi aku dengan enak menjawab “Karena Indonesia Banyak uang”, namun teman-temanku ini mungkin memang bukan orang sembarangan mengenai ekonomi dan mengatakan, “Darimana uangnya? Darimana uang membiayai bank-bank ini?” katanya membuat pertanyaan yang tak terjawab kecuali dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku membalas kunjungan teman-teman dari Eropah dan Amerika untuk bertemu di Paris yang kebetulan diadakan Paris Air Show sehingga banyak orang-orang Indonesia mendampingi promosi pesawatnya N250-Gatot Koco, CN235-Maritime Patrol yang canggih itu. Sebelum berangkat tentu aku menukarkan rupiah dengan valas dan satu dollar Amerika masih dapat dibeli dengan rupiah seharga Rp 2.470,- Sungguh kenangan manis berada di Paris walaupun sudah pernah beberapa kali pergi ke sana.

Aku berkunjung ke Le Bourget dimana pameran dirgantara diadakan dan banyak sahabat dari Bandung juga berada di sana. Aku dan beberapa teman dari Bandung termasuk teman Indonesia dari Amerika mengadakan pertemuan informal dengan Presiden Airbus company Louis Gallois dan pengawalnya, maklum saja Indonesia lagi promosi pesawat barunya sementara ada kontarak-kontrak kerjasama antara mereka dengan IPTN di Bandung mengenai pembuatan komponen. Aku dan teman-teman sempat pula bertegur sapa dengan Presiden BJ. Habibie karena anaknya Tareq Habibie ikut pameran berdampingan dengan booth GIA perusahaan flag carrier Indonesia. Suasana itu sungguh men-setarakan Indonesia dengan negara-negara maju di dunia.

Tragedi 13 Mei 1998 yang mengawali Era Reformasi di Indonesia terjadi dalam bentuk kerusuhan massal dimana-mana terutama di Jakarta. Aku ada ditengah kengerian itu. Dari lantai tiga gedung dimana aku berkantor yang kebetulan berada di Jakarta Pusat dapat memandang keseluruh Jakarta sudah terjadi banyak kebakaran besar diseluruh penjuru mata angin. Di jalanan aku melihat penjarahan-penjarahan toko-toko, semuanya dijarah, ada yang memikul karung beras, ada yang memanggul komputer, ada yang mengangkat meja-kursi perkantoran, ada yang mendorong sepeda motor yang masih terbungkus plastik, ada yang membawa gerobak penuh berisi segala macam barang-barang. Sunguh orang-orang penjarah ini merajalela menganggap semua menjadi haknya, pastinya mereka semua adalah orang-orang beragama?

Berita-berita mengumandangkan kejadian sadis terjadi diberbagai tempat. Presiden Soeharto yang sedang berkunjung ke Luar Negeri pulang mendadak dan diberitakan sudah sampai di Halim Perdana Kusuma. Kebetulan teman seprofesi ada seorang pensiunan Letkol sehingga dapat juga terpantau berita-berita yang disadur dari orang-orang Mabes Hankam melalui hubungan handphone.

Malam kejadian kerusuhan membuatku ketakutan kehilangan nyawa. Hati terasa kecut, jantung berdebar-debar, beruntung kantorku agak menjorok kedalam dan bukan di jalan besar sehingga luput dari amukan massa. Karyawan kantor sudah banyak juga yang pulang menyempatkan diri dengan berbagai cara tetapi masih banyak juga karyawan wanita yang tertinggal di kantor. Malam itu aku berniat untuk pulang dan mengajak karyawan wanita untuk ikut serta agar dihantar ketempat yang agak aman untuk mereka mengambil jalan masing-masing menuju rumahnya.

Mobil kijang itu penuh sesak dengan karyawanku menyusuri jalan Suprapto yang dipenuhi oleh luapan manusia yang hendak pulang berjalan kaki karena tak ada lagi kendaraan penumpang umum. Kelihatannya mereka adalah karyawan-karyawan perkantoran juga karena mereka berpakaian rapi namun wajah mereka lusuh terlihat dirundung ketakutan berjalan kaki seolah zombie-zombi yang berada di kota mati.

Suasana kota yang biasanya masih riuh dengan suara-suara, saat itu seolah senyap dan gelap. Disana sini gedung-gedung perkantoran, toko-toko, pasar sudah telihat hancur terbongkar dan ada yang terbakar.

Aku membelokkan kendaraan akan menyusuri jalan Bypass Ahmad Yani, dipersimpangan Cocacola Cempaka Putih berjubel manusia sehingga mobilku terhambat melintas. Kubunyikan klakson untuk meminta jalan, dengan harap cemas jangan-jangan akan mendapat amukan dan bahkan dibakar, namun mereka menyingkir dan memberikan jalan.

Rupanya mereka orang-orang kantoran atau karyawan toko yang juga hendak pulang yang terlihat pasrah dengan keadaan sedang berjalan seolah tidak adalagi jiwa yang menyertai tubuhnya. Sepanjan Bypass banyak kendaraan yang terbakar termasuk bus umum berserakan ditengah jalan. Ada yang masih marak dengan apinya dan adapula yang sudah hangus tinggal besi-besi hitam menjadi rongsokan.

Aku memberanikan diri melewati bara-bara api itu dengan suasana hati yang pasrah pula kalau seandainya harus terbakar atau dibakar apa boleh buat dan yang penting nyawaku dan karyawan yang kubawa dapat selamat. Hanya itu yang ada dipikiran, “menyelamatkan nyawa”, dan memang kami semua dapat selamat.

Keesokan paginya tanggal 14 Mei 1998 aku meminjam sepeda motor seorang teman dan menyusuri jalan-jalan di Jakarta. Seorang temanku menasihatkan agar aku tidak usah keluar karena masih berbahaya, tetapi aku tetap ngotot untuk pergi karena seperti kata pepatah, “Dimana ada harta maka disitu hatinya” memang demikian adanya dalam diriku saat itu. Aku ada membuka pendidikan kursus bahasa inggris di Jakarta Barat dan itulah yang ingin aku lihat keadaannya.

Di Rawamangun sekitar Plaza Arion aku memulai perjalananku terlihat gedung BCA di depan Plaza Arion sudah hancur kaca-kacanya, sebagian toko-toko bertingkat yang berhadapan juga ikut dibakar. Jalanan sangat sepi dan tak ada yang lewat baik kendaraan maupun orang yang berjalan kaki. Seolah tak ada yang menghalangiku mengendarai sepeda motor itu semuanya sepi dan masih terlihat bangkai-bangkai kendaraan yang terbakar tadi malam.

Di salah satu pojokan ada kerumunan orang yang ternyata para pamulung yang sedang menggerogoti bangkai kendaraan yang sudah hangus terbakar. Mereka sedang mencopoti besi-besi hangus yang mungkin masih dapat mereka manfaatkan dijual demi menyambung hidupnya.

Di salah satu persimpangan jalan besar masih menyala lampu merah, namun aku menerobosnya karena tidak ada kendaraan yang lalu lalang, padahal penerobosan lampu merah inilah yang belum pernah aku lakukan selama ini tetapi saat itu aku langgar saja. Dibeberapa sudut jalan terlihat beberapa panser tentara yang berjaga-jaga didekat sebuah hotel dan gedung pemerintahan.

Aku membelokkan motorku kearah jalan Daan Mogot menuju Gedung Kursus yang aku usahai. Sepanjang jalan Daan Mogot itu masih banyak bertebaran bangkai kendaraan yang sudah hangus. Sebagian massa masih ada yang melakukan pembakaran toko-toko termasuk penjarahan.

Gedung-gedung di Pasar Cengkareng semuanya sudah hangus terbakar. Sungguh perbuatan yang tidak berperi kemanusiaan. Aku sampai di kursus yang aku usahai, letaknya memang di lingkukan pasar juga habis dihancurkan. Gedung kursus di pertokoan berlantai dua itu ternyata dihancurkan juga. Pintu rolling-door yang begitu kokoh ternyata porak poranda dibuat tangan-tangan setan itu. Dinding kaca setebal 1,5 cm bisa hancur berantakan. Kursus yang hanya berisi meja belajar dan buku-buku juga ikut kena jarah karena ada komputer dan AC-split sudah ludes semuanya.

Seorang penjaga gedung datang menghampiriku dan mengatakan bahwa dia tak kuasa melarang penjarah waktu itu. Menurut pengakuannya bahwa dia ada mengatakan kepada para penjarah mensiasati bahwa kursus itu milik orang Arab agar tidak dijarah ternyata tidak diindahkan juga karena semua mungkin sudah didata secara terorganisir oleh penjarah itu, kebetulan kursus itu berada dikawasan etnis Cina.

Menurut ceritanya pengusaha foto studio dan fotocopy yang disebelah gedung kursus semuanya dijarah dan istrinya ditelanjangi dan diperkosa ditempat. Bagaimana mungkin bisa nafsu sexual dapat bangkit bersamaan dengan nafsu membunuh dan menjarah? Memang sungguh biadab.

Sungguh sangat mengherankan kejadian kerusuhan yang menyeluruh dan serentak dapat terjadi disaat kekuatan TNI dan Presiden Soeharto berada pada puncaknya. Sangat jelas terorganisir secara rapi dan pastilah digerakkan oleh kelompok setingkat TNI. Ketidak berdayaan TNI menyikapi situasi yang ada justru menimbulkan kecurigaan tertuduh bahwa TNI ada dibelakang kejadian ini, akan tetapi timbul pula tanda tanya tak mungkin TNI mengorbankan negara ini dengan peristiwa seperti ini dengan praktek penjarahan, perkosaan, pembakaran, pembunuhan.

Manusia Indonesia memang cepat lupa dengan peristiwa-peristiwa lama yang pernah menyengsarakan bangsa ini. Apakah kita sudah melupakan aksi-aksi PKI yang dulunya mirip dengan ini, akan tetapi tetap saja tidak sebejat ini? Apakah kita lupa peristiwa politik seperti DI/TII (Tentara Islam Indonesia) yang akar-akarnya tidak terpantau, padahal tuntutannya adalah tidak mengakui Pancasila yang kita yakini sebagai falsafah yang menjamin keutuhan berbangsa? Semuanya tak pernah terungkap bahkan sampai saat di jaman reformasi ini.

Peristiwa kerusuhan ini membawa pengaruh kepada karirku. Perusahaan yang kujalankan sebenarnya bertransaksi dalam valas dollar AS karena core-busines yang berkaitan dengan Hi-tech kedirgantaraan dan pada dasarnya memang menjadi bertambah kaya karena kurs dollar meningkat menjadi RP 14.000 per satu dollar AS, namun CEO pemilik perusahaan selalu berdalih bahwa perusahaan tidak memiliki dana untuk menaikkan gaji para karyawan yang masih bestandar sebelum terjadinya kerusuhan.

Ekonomi negara ambruk, harga-harga meningkat berlipat-lipat dimana masyarakat hampir tak mampu lagi untuk bertahan hidup secara normal termasuk karyawanku. Kebijakan yang aku ajukan untuk menaikkan gaji karyawan tak digubris oleh pemilik perusahaan sementara aku sudah tidak tahan menerima protes dari kantor-kantor yang ada di Surabaya dan Bandung termasuk yang di Jakarta. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan yang aku sandang pada saat itu sebagai GM dan Direktur Operasional.

Beban moral ternyata tidak hanya sampai disitu, beban material juga mengikuti kehidupanku. Istri yang divonnis mengidap Kanker payudara stadium-4 menghilangkan konsentrasi pikiran serta menyedot dana yang besar.

Satu tahun mempertahankan diri dari gerogotan kanker memang mengeringkan kantong dan bahkan nyawanyapun ikut melayang. Hidup sebagai ayah dan sekaligus menjadi ibu bagi dua anak yang masih kecil menjadi persoalan baru untuk dapat bangkit kembali. Bagaimana harus mengatur anak yang baru mulai bersekolah, bagaimana pula mengatur waktu untuk bekerja dimana sebelum anak-anak bangun sudah harus berangkat bekerja sebagai konsultan diperusahaan yang baru berdiri. Malam hari baru tiba dirumah setelah anak-anak tertidur. Hidup serumah dengan anak-anak tetapi tak pernah menikmati pertemuan dalam keceriaan.

Adik perempuan yang diminta bantuannya untuk mengurusi anak-anak ternyata tidak banyak menolong karena tidak betah dan harus kembali ke daerah berkumpul dengan orang tua.

Tidak tega meninggalkan anak-anak yang masih kecil harus dipaksa mandiri berdua dirumah sementara ayahnya menghabiskan waktu diluaran mencoba untuk bangkit kembali. Memang perjalanan hidup mempunyai suka-duka yang berbagai macam di dalam kehidupan ini. Penderitaan bathin selalu menyertai kehidupan manusia. Ditinggal mati oleh istri tercinta memang meninggalkan pengalaman hidup yang sangat berat. Makanya tidaklah salah kalau surga ada dibawah telapak kaki seorang ibu.

Aku berniat untuk mencari peluang hidup agar tidak menjadi jauh dari anak, karena pekerjaan sebagi konsultan di sebuah perusahaan yang baru dibangun membutuhkan banyak waktu kerja dan sebaliknya menyianyiakan waktu untuk bercengkerama dengan anak yang ditinggal mati oleh ibunya. Modal harta sudah habis terkuras oleh peristiwa sebelumnya yang tinggal hanya sebuah rumah idaman yang sama-sama dibangun bersama istri tercinta.

Bahkan ada pesan sebelum dipanggil oleh Tuhan-nya agar rumah itu tidak dijual walau apapun alasannya, demikian perjanjianku dengannya sewaktu dia masih sekarat sebelum meninggalkanku. Aku meng-iya-kan karena memang itu juga yang aku niatkan, akan tetapi logikaku berjalan untuk menyelamatkan yang hidup yaitu aku dan anak-anakku, lalu aku harus bagaimana? Paling tidak akan ada modal aku untuk memanfaatkan dana apabila aku harus menjual rumah itu.

Akhirnya aku melanggar janji yang aku pernah iya-kan kepada istriku mendiang. Rumah itu terjual dangan harga lumayan waktu itu. Aku bersyukur kepada pak haji asal Palembang itu yang tidak lagi menawar penawaranku karena memang aku menjualnya dengan harga standar pasar pada masa itu bahkan mereka aku hadiahkan dengan segala perabotan yang ada karena kemana aku mau taruh semuanya itu. Mungkin pula dia turut iba mendengar perjalanan hidup keluarga kami yang sudah mapan diketahuinya hingga menjadi morat-marit karena berbagai peristiwa hidup.

Uang penjualan rumah yang lumayan itu akan kumanfaatkan sebaik-baiknya, demikianlah niat yang ada. Karena jepitan kesulitan ekonomi keluarga, aku sempat terhutang dibeberapa bank yang mengeluarkan kartu kredit. Aku melunaskannya beberapa belas juta banyaknya yang waktu itu sudah cukup lumayan nilainya. Sisanya tentu masih mampu untuk menggerakkan perekonomian keluarga apabila aku berhenti sebagai konsultan management dan memulai usaha apapun yang dapat bertahan hidup sambil membina anak-anak yang dihadiahkan tuhan melalui istri tercinta yang meninggalkan kami.

Sore menjelang malam, terdengar dering telepon dipojok ruang rumahku. Anakku tertua mengangkatnya dan memberikan kepadaku. “Pa.. ini telepon dari opung” katanya untuk sebutan kakek setelah beberapa saat mereka sempat ngobrol. Aku yang sedang duduk-duduk dipinggir kolam ikan dibelakang rumah menyambutnya. “Hallo, apa kabar yah” kataku singkat dan memang sejak kecil aku sudah memanggil ‘ayah’ karena memang kami tinggal dengan masyarakat Melayu yang memanggil ‘ayah’ termasuk generasi pamankupun sudah memakai istilah “ayah’ untuk sebutan kepada bapaknya.

“Lagi ngapain disitu amang!” kata ayahku dari ujung sana. “Aku lagi dekat kolam sini ayah. Aku ada menaruh beberapa kilo jenis ikan mas konsumsi secara rutin, kalau butuh bisa ku tangkap untuk digoreng” demikian kataku menjawabnya. Ayahku tertawa diujung sana dan kami banyak mengobrol mengenai semuanya berita-berita keluarga yang berkesan bahwa dia mengharapkan semuanya ada dalam keadaan sehar wal’afiat, sambil mengucapkan selamat Natal karena saat itu memang masih suasana Natal setelah 25-26 Desember yang dirayakan sebagai hari Natal umum.

Sekitar tengah malam berdering lagi telephone yang memberitakan bahwa ayah sedang dirawat di RS. Elizabet di Medan karena terserang stroke dan tidak sadarkan diri. Mama yang langsung berbicara denganku meminta agar aku segera pulang ke Medan karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan ayah. Pikiranku kalut dan serasa kosong tak tau harus berbuat apa. Enam bulan lalu aku baru kehilangan seorang istri tercinta dan saat ini aku mendengarkan berita yang sangat mengkhawatirkan tentang ayahku. Nasib apa yang menimpa aku ini pikirku dalam hati.

Pagi subuh aku berangkat naik taksi ke bandara dan berharap mendapat jadwal pertama untuk terbang ke Medan. Ticket ternyata habis dibeberapa loket penerbangan. Aku harus membeli ticket dengan harga berlipat dari seorang calo, dan itupun ticketnya tercantum dengan nama lain, dan seingtku bernama ‘iwan’.

Aku tiba di Medan setelah penerbangan sekitar 2 jam dan langsung menuju RS. Elizabet karena jaraknya tidak jauh dari bandara Polonia di Medan. Aku mendapati mama yang duduk disamping ayah yang sedang terkulai dengan segala peralatan yang menempel pada tubuhnya, seperti infus dan peralatan pernafasan.

Aku memeluk mama kemudian memeluk ayah yang tidak sadarkan diri sambil mencucurkan airmata tanpa keluar sedikitpun suara dari mulutku walau hatiku sedang bergejolak kalut. Banyak juga saudara-saudara yang besuk dan aku menyalami mereka satu persatu.

Aku mulai menanyakan keadaan pengobatan ayah kepada mama dan mendapat jawaban apa yang sudah diperbuat oleh dokter sambil menceritakan awal kejadiannya, karena baru beberapa jam sebelum kejadian itu aku masih ngobrol dengan ayah melalui telephone.

Ayah memang sebelumnya sudah pernah mengalami stroke yang hampir merenggut nyawanya. Kejadian saat ini dialaminya sudah yang keempat kalinya. Dahulu pertamakali mengalami stroke, sebelah badannya tidak berfungsi atau mati sebelah, namun pengobatan rutin dapat menormalkannya walaupun penyakit tekanan darah tinggi masih terus dalam perawatan dokter. Pernahpula stroke dialami ayah yang mengakibatkan wajahnya peot atau rongga mulutnya berpindah kesamping sehingga hampir tak mampu berkata-kata dan keadaan inipun dapat berangsurangsur menjadi normal berkat perawatan rutin oleh dokter. Stroke yang ketiga kalinya dialami oleh ayah yang mengakibatkan kebutaan dan mata tidak mampu melihat apa-apa. Mujizat selalu datang sehingga ayah dapat juga sembuh. Menurut penuturan dokter bahwa kejadian stroke biasanya maksimal hanya dua kali dialami dan langsung ko’it atau menghadap Tuahnnya, tetapi kasus ayah ini termasuk yang jarang terjadi hingga mengalaminya sampai empat kali seperti saat ini.

Sore itu aku baru kembali dari rumah sakit setelah ayah sudah dirawat selama tiga hari dan masih belum sadarkan diri juga. Perkembangan kesehatannya masih mengkhawatirkan, tetapi aku ada membisikkan ditelinga ayah yang sekarat tak sadarkan diri itu, kataku; “Jangan pergi ayah, aku sudah letih”. Sebelum sampai di rumah, aku meminggirkan mobil Rocky yang aku pinjam dari abang, anak uwak yang kebetulan bezuk hari itu.

Onggokan durian dipinggir jalan menuju rumahku menggiurkan liurku untuk membelinya. Aku memilih dan sambil meminta penjual untuk mencari yang rasanya agak pahit, karena durian yang terasa agak pahit memang menjadi kegemaranku. Terpilihlah 13 buah durian yang aku bawa ke rumah dengan harapan dapat aku makan setelah selesai mandi sore itu. Aku belum sempat memakan durian yang baru aku beli itu, ada telepoh yang berdering dan diberitahukan bahwa ayah sudah meninggal dunia.

Aku lunglai terhenyak duduk di kursi. Ternyata kedatanganku hanya untuk menyaksikan ayah meninggalkan dunia ini. Aku bergegas pergi ke RS Elizabet untuk menyelesaikan segala administrasi pengobatan selama ayah dirawat di rumah sakit itu. Ambulans tiba dirumah duka dirumah ayahku dan ayah disemayamkan disitu sambil orang-orang yang berkepentingan mengadakan acara masing-masing untuk menyampaikan turut-belangsungkawa. Semua saudara dan handaitaulan yang menyaksikan saat itu meratap kepergian ayah.

Aku menyempatkan diri untuk memberitahukan kejadiannya kepada sanak saudar di Jakarta, termasuk kepada mertua dan saudara ipar adik mendiang istri dimana kedua anakku aku titipkan. Aku memohon kepada adik iparku agar kedua anakku diberangkatkan ke Medan untuk terakhirkalinya dapat berjumpa kepada kakeknya walaupun bertemu dalam suasana kematian karena mereka menjadi cucu yang membawakan nama kematiannya dari aku anak paling tertua di keluarga ayahku. Anakku berdua tiba di Medan esok harinya. Walaupun yang tertua masih berusia 11 tahun tetapi mereka cukup pintar untuk tiba di Medan menjumpai kakeknya yang sudah menjadi mayat.

Sebagai orang Batak tentu banyak tatacara adat-istiadat Batak yang harus dijalani. Ayah, semasa hidupnya pernah menyampaikan pesan bahwa dianya berkeinginan dikuburkan di pemakaman keluarga di kampung, karena dia menganggap sebagai suatu kebanggaan dan kehormatan dapat dikuburkan di pemakaman keluarga karena dia sebagai salah satu keturunan raja (Raja Naopat di Silindung) semasa Indonesia masih belum merdeka dan sewaktu Tanah Batak mengalami perang saudara dengan Bonjol yang disebut Perang Paderi.

Di kampung kelahiran ayah sudah dipersiapkan penyambutan mayat ayah dengan segala persiapannya termasuk jenis penganan-penganan seperti penyediaan kerbau sebagaimana kalau orang tua yang sudah dianggap tua meninggal dunia. Sementara di Medan dilakukan juga acara adat sebagai acara permisi kepada tetua setempat karena mayat temannya harus dikebumikan di kampung halamannya atas permintaannya semasa masih hidup, dan tetua setempat dengan sedih mengijinkan acara itu berlangsung.

Segala prosesi adat dijalankan dan penguburanpun sudah terlaksana sebagaimana tatanan adat istiadat. Semua terpenuhi oleh keluarga dan diyakini menjadi kehormatan bagi arwah ayah yang meninggal, dan semoga arwahnya mendapat ketenangan di alam bakanya. Keluarga terdekat keturunan ayah berkumpul setelah penguburan itu.

Semua hutang piutang yang dilaksanakan selama prosesi acara adat penguburan, dari mulai tiba di kampung kelahiran sampai ayah dikebumikan harus diselesaikan oleh keluarga keturunan ayah. Aku sebagai anak tertua tentu memegang peranan penting bertanggungjawab penuh dalam peristiwa itu. Disaksikan oleh tetua kampung yang berkumpul saat itu maka terpapar semua pembiayaan yang harus di tanggung oleh keluarga. Puluhan juta biaya saat itu haruslah diselesaikan sebelum anak-anak keturunan ayah pulang kembali kerumahnya masing-masing. Sebagaimana biasanya dimulai dari anak perempuan yang sudah membawakan marga lain di dahulukan memberikan pendapat untuk penyelesaian pembiayaan kemudian berurutan sampai kepada aku yang menjadi penanggung jawab penuh atas pembiayaan yang ada.

Semua anak baik perempuan dan laki-laki keturunan ayah berdalih dan menyatakan tidak mampu memberikan sumbangan pembiayaan atas meninggalnya ayah. Aku terdiam sejenak karena aku sendiri yang harus menanggungnya. Sungguh memang kejam dunia ini karena baru enam bulan lalu aku kehilangan istri dan menghabiskan harta selama pengobatan sampai dengan meninggalnya, dan sekarang harus ditimpa dengan pembiayaan ayah yang meninggal dunia ini. Dari delapan anak keturunan ayah kok harus aku sendiri yang menanggung segalanya? Apa hanya seorang yang memiliki ayah dan mereka teganya melepas tanggung jawab yang dijunjung atas nama adat leluhur.

Walaupun ekonomiku sedang terpuruk, tetapi orang-orang masih menganggap bahwa aku berkemampuan secara finansial menanggulangi seluruh pembiayaan sehingga mereka secara tidak sadar sudah memposisikan diri mereka masing-masing diatas penderitaanku.

Dengan pasrah tanpa ada komentar dan tanpa merasa diperlakukan tidak adil, maka aku menyelesaikan pembiayaan itu sampai tuntas. Uang penjualan rumah di Bandung yang sebagiannya telah aku gunakan untuk membayar hutang di bank ternyata harus aku serahkan sepenuhnya untuk harga diri ayahku didalam kehormatan leluhur di hari kematiannya.

Hatiku melasa plong, terpuaskan, tak terbebani hutang adat, masih tetap sebagai pemimpin keluarga walau didalam keterpurukan. Kenyataannya kemudian hari, ekonomiku bangkit dan merasakan berkah kepatuhan kepada orangtua terbalaskan. Dia sudah berpulang kepada Tuhannya walaupun aku membisikkan ditelinganya, “Jangan Pergi, Aku Sudah Letih”.

 

Pernah published on //maridup.multiply.com/journal, Sep 22, ’09 1:30 AM for everyone,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s