Tahun Ini Aku Khawatir

Oleh: Maridup Hutauruk

 

Walaupun aku berada di kejadian 13 Mei 1998 yang menenggelamkan kekuasaan Presiden Soeharto dalam sekejap mata, tetapi aku tidak pernah khawatir akan kelangsungan Indonesia berdiri sebagai sebuah negara.

Tahun 1999 terutama pada september tanggal 9 diramalkan oleh banyak kalangan akan terjadi banyak kejadian musibah tetapi aku tidak pernah terpaku kepada kekhawatiran yang mendalam.

Pada menjelang masuknya awal millenia ke-2 banyak orang mengkhawatirkan terjadinya kekacauan dunia dengan peristiwa yang disebut Y2K atau millenium bug pada detik-detik akhir di 31 Desember 1999, tetapi aku tidak pernah memberikan perhatian yang mengarah kepada kekhawatiran.

Banyak orang yang mengaitkan ramalan yang dilakukan oleh Notradamus terutama setelah kejadian 911 oleh aksi teroris yang meruntuhkan Twin Tower pada 11 September 2001, tetapi aku hanya sekejap terkesima pada kejadian itu.

Aku juga tidak begitu terkesan kepada sebab akibat pada kejadian Tsunami 26 Desember 2004 yang menewaskan ratusan ribu umat manusia diberbagai negara terutama di Aceh Indonesia.

Belakangan banyak juga yang memberikan ramalannya akan kejadian-kejadian yang akan berlangsung berdasarkan ramalan Kitab Wahyu, Numerologis, Anti Christ, semuanya bagiku berlalu begitu saja dan biasabiasa saja.

 

 

TETAPI KALI INI !!! AKU MELIHAT:

Pada tanggal 20 Oktober 2010 akan lahir seorang panutan (Sorang Magodang) dari kawasan yang unik, terpinggirkan dalam kenyataan, yang hanya mampu berdiri dibelakang layar. dicibir dalam pergaulan, diakui dalam hati, ditabik dari belakang.

Kelahirannya akan membawa bencana besar bukan saja bagi Indonesia, tetapi dunia akan ikut merana karena dia menyedot segala energi dan kekuatan di dunia.

Kelahirannya akan dirayakan dengan guncangan bumi, keruntuhan, tangisan airmata terutama di dekat tempat kelahirannya.

Tetangga jauhnya akan merayakannya dengan bola api dan percikannya akan mengenai kepala-kepala manusia dan merekapun akan menangis juga.

Rajanya harus turun tahta ditengah jalan karena dia tidak mampu mencucurkan airmata untuk ikut merayankan kepedihan rakyatnya.

Dua tahun lebih sehari kemudian dia hanya mampu merangkak diantara puing-puing, mengais tegar diantara tubuh-tubuh lemah lunglai bagaikan zombi.

Bahasa sudah tak mampu untuk berkomunikasi. Mata tidak mampu memancarkan sinar. Otot tidak lagi mampu berbuat anarkis.

Langkah-langkah gontai, perayaanpun selesai

 

 

Pernah Published on //maridup.multiply.com/journal, May 19, ’10 5:59 AM, for everyone.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s