Jangan Pergi, Aku Sudah Lelah

Oleh: Maridup Hutauruk

 

Pagi itu aku melangkahkan kakiku keluar dari ruang inap RS Dharmais setelah seharian menemani istriku yang sedang dirawat untuk penyakit kanker yang dideritanya. Aku menelusuri lorong-lorong menuju ke pintu lift. Aku pencet tanda penunjuk turun dan kemudian terdengar bunyi bell “Teng…..” dan akupun masuk ke kompartment lift. Tidak ada siapa-siapa di dalam kompartment lift itu, hanya aku sendiri karena memang masih pagi-pagi sekali. Aku dikejutkan lagi oleh suara bell lift bahwa aku sudah sampai di ground floor dan pintu lift secara otomatis terbuka mempersilahkanku keluar.

Aku melangkahkan kakiku keluar dari lift, entah aku melangkah lebih dulu dengan kaki kiri atau kaki kanan tak pernah aku pikirkan tetapi aku melangkahkan saja kakiku menyusuri lobby Rumah Sakit itu yang memang cukup luas dan tertata rapi bagaikan lobby sebuah hotel berbintang.

Terlihat olehku Cleaning Service-boy sedang mengayunkan sapu-pel maju mundur secara teratur membersihkan lantai yang sudah terlihat bersih. Di pojok lainnya terlihat dua tiga orang yang masih terkulai tertidur di sofa ruang tunggu itu. Mungkin mereka juga sudah kelelahan sampai tengah malam menunggui keluarganya atau mungkin istrinya, atau mungkin anaknya yang juga sedang dirawat dirumah sakit itu, walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan untuk tidur di ruang lobby tetapi mungkin pegawai yang piket merelakan saja kalau memang sudah tengah malam atau menjelang pagi dimana kegiatan di lobby sudah tidak ada malam tadinya.

Sesaat aku sudah tiba di pelataran parkir dan memutar kunci motor tuaku Binter Merzy tahun ’81 dengan maksud untuk memanaskan mesinnya. Kupakaikan jaketku yang sedikit sudah agak lusuh karena sudah seminggu belum dicuci, lalu kemudian terasa getaran dan sedikit bunyi akibat sleting yang kutarik sampai ke dekat krah, lalu kusorongkan tanganku kedalam kantong jaket untuk mencari kartu parkir agar siap-siap untuk aku serahkan di pintu gerbang. Aku atur posisi motor tua itu untuk memulai menjalankannya setelah terlebih dahulu memposisikan standar samping ke posisi menutup.

Aku menelusuri jalan yang sudah sangat sibuk dengan segala jenis kendaraan. Ku arahkan menyusuri jalan Daan Mogot untuk menuju ke rumah tinggalku dimana dua orang anakku yang masih kecil sedang menunggu kedatanganku. Sepanjang perjalanan itu aku masih sempat berpikir bahwa istri tercinta yang sedang terbaring dalam perawatan tentu akan segera sembuh karena sudah sempat melewati masa kritis di RS. MMC Kuningan dua minggu yang lalu.

Memang sudah berbulan-bulan bahkan hampir satu tahun kami melakukan perawatan rutin di RS MMC Kuningan, bahkan dokter yang merawatnya katanya adalah salah satu anggota team dokter pribadi Gusdur.

RS MC inipun sudah cukup dikenal sebagai rumah sakit yang pamor, baik dari segi pelayanan administrasi maupun pelayanan perawatan orang-orang sakit. Tidak jarang para petinggi negara selalu dijumpai di rumah sakit itu. Pernah juga terlihat sesekali rumah sakit disibukkan dengan banyaknya para pengawal yang berbaju seragam hitam rapi lengkap dengan handy-talky yang sibuk mengeluarkan suara-suara komunikasi dan ternyata Ibu Megawati sedang berkunjung untuk pemeriksaan rutin kesehatannya. Pernah pula terlihat artis kondang Lidya Kandow mondar mandir disitu, yang mungkin pula sedang melakukan pengecekan kesehatan rutin. Rasa keyakinan ada dalam hati bahwa bentuk pelayanan, keteraturan, dan keramahan seolah sudah menyembuhkan setengah dari kekhawatiran akan adanya kesembuhan.

Sebagian harta sudah terjual, tabungan sudah ludes, bantuan keluarga sudah banyak pula yang mengalir dan bahkan tabungan anak sudah pula ditarik sampai penutupan rekening. Rumah di Bandung yang diperjuangkan bersama dengan istri tercinta masih berdiri kosong yang hanya diisi oleh ikan hias kesayangan yang setiap periodik sekali seminggu memang harus diberi makan agar tetap hidup.

Memang sudah hampir dua tahun rumah idaman itu tidak ditempati dan juga tidak ada niat untuk dikontrakkan kepada orang lain karena ada kekhawatiran akan menjadi kotor dan tidak terawat. Konsekwensinya harus dikunjungi minimal sekali seminggu untuk bersih-bersih sambil memberi makan ikan hias peliharaan dan merawat kembang yang sudah agak tidak terpelihara lagi.

Kata orang-orang adalah suatu hal yang pantang bila rumah ditinggalkan kosong, makanya aku memelihara sepasang ikan langka yang aku beli katanya asal sungai Musi di Palembang. Walaupun istri tercinta yang sedang sakit tidak lagi ikut pulang ke Bandung untuk merawat rumah idaman itu, tetapi aku memang harus mengunjunginya setelah meluangkan waktu menemani istri dalam perawatan penyakit kankernya yang sudah stadium-4.

Istri tercinta yang aku selalu panggil namanya “Sun” singkatan dari Sunny tetapi bermakna matahari karena perjalanan hidup kami dan anak-anak memposisikan dia sebagai matahari dalam keluarga. Dia masih menyempatkan mengajari anak sulung laki yang sudah duduk di kelas-1 SMP untuk membersihkan dan menyapu rumah termasuk mencuci piring, katanya supaya bisa mandiri, sementara anak laki nomor dua masih lugu-lugunya di kelas-2 SD. Memang jarak umur mereka terpaut jauh mengikuti program KB, agar kehidupan anak memang benar-benar terencana.

Pagi itu Sun menyampaikan katanya kepadaku, “Pa ! rumah kita yang di Bandung jangan sampai terjual ya !”. Aku terdiam sejenak dan tidak menjawab karena pikirku hanya tinggal rumah itu yang dapat diharapkan untuk melanjutkan pengobatan, semuanya sudah ludes. Biaya pengobatan yang harus dikeluarkan puluhan juta setiap dua minggu memang menggerogoti keuangan keluarga, sama ganasnya penyakit kangker yang dideritanya menggerogoti tubuhnya dengan begitu ganasnya. Bantuan keluarga yang tulus sangat menolong tetapi ada rasa malu sering juga muncul walaupun sebenarnya sudah pasrah dengan keadaan.

Situasi kritis terjadi 2 minggu lalu tepat pada hari minggu, Sun mengerang kesakitan di kepalanya dan dia harus segera dibawa ke rumah sakit. Akhirnya sampai di rumah sakit dan langsung masuk ke unit gawat darurat. Pada saat itu Sun masih sadar dan mengatakan “Pa ! anak-anak jangan dibawa ke rumah sakit ini ya !, disini banyak penyakit” katanya sambil mengerang dan kemudian dia tidak sadarkan diri.

Keluarga pada berdatangan mengkhawatirkan keadaan. Dokter piket segera menghubungi dokter yang rutin menanganinya mengkonsultasikan tindakan apa yang harus dilakukan. Sampai menjelang malam Sun masih belum siuman, dia masih tak sadarkan diri.

Pada malam itu dokter yang biasa merawatnya memanggilku ke ruangannya, lalu menceritakan sesuatu berdasarkan ilmu yang dia pelajari, dan berkata: “Pak !, saya bukan Tuhan, tetapi berdasarkan apa yang saya ketahui bahwa istri bapak sudah tidak ada harapan” katanya meyakinkan. “Jadi bagaimana solusinya dokter?” kataku bertanya, lalu dia menjelaskan; “Lebih baik konsultasi saja dengan keluarga karena ibu sudah tidak ada harapan lagi. Kalaupun diupayakan semaksimalnya hanya kan membawa derita pada ibu termasuk keluarga” demikian kata dokter itu menyarankan.

Dengan gontai aku keluar dari ruangan dokter, lalu menjumpai ibu mertua, adik ipar dan saudara sepupu yang sudah menunggu sejak siang tadi. Aku mengutarakan apa yang diberitahukan dokter, dan semuanya terdiam membisu. Berdasarkan pengamatan dokter Sun sebaiknya direlakan saja menghadap pada tuhannya.

Mungkin ada kode etik bagi dokter bahwa pasiennya sebaiknya disuntik mati saja karena memang sudah selama hampir satu tahun perawatan dan dia sudah mempunyai catatan yang kita tidak tau menterjemahkannya. Suasana keluarga kalut, membisu dan raut muka yang tidak terlihat cahaya aura, lalu saya memasuki ruangan dokter dan memberanikan diri untuk mengambil keputusan. “Dokter, apapun upaya yang dapat dilakukan tolong dilaksanakan untuk istriku” demikian kataku dengan pasti.

Sun masih terkulai tak sadarkan diri, sesaat beberapa dokter dan perawat berdatangan ke kamar perawatan sambil mendorong beberapa peralatan elektronik mirip komputer. Semua kabel-kabel terpasang di simpul-simpul saraf Sun dan pernafasanpun terikat di mulut dan hidungnya.

Malam semakin larut, suster silih berganti berdatangan sambil mencatat kondisi yang ada. Sun masih belum siuman. Dua jarum jam yang terpaku didinding rumah sakit sudah menunjukkan sujut seolah dua tangan yang bersatu untuk menyembah, tandanya malam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Ipar dan saudara sepupu sudah dari tadi pulang sementara ibu mertua sedang bersiap untuk pamit pulang.

Aku sendirian bersama Sun yang terbaring tak sadarkan diri. Kuseret sebuah kursi dan kuposisikan duduk disamping kirinya yang sedang terbaring. Lalu aku meremas tangannya yang lemah terkulai dan kukepit diantara dua telapak tanganku untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa dimana selama ini aku hampir tidak meyakini sepenuh hati apa benar Tuhan itu ada, namun di dalam ketidak berdayaan aku ternyata terpaksa menyembah Tuhan yang kugambarkan sebagai Maha Kuasa. Aku berdoa mengucapkan segalanya dalam hatiku dengan segala kepasrahan sambil menyentuhkan tangan Sun yang kukapit diantara telapak tanganku menyentuh kulit hidungku.

Entah sudah berapa lama aku berdoa dan aku tidak merasakan tertidur, tetapi aku merasakan gerakan tangan Sun sehingga aku terjaga. Aku melihat Sun terbangun seketika sambil tersenyum lalu bangkit duduk dari pembaringannya dan menyapa suster yang biasa merawatnya sambil berkata; “Sus, aku sudah lapar, tolong ambilkan makanan donk” katanya seolah dia tidak mengalami sakit apa-apa.

Suster itu membalas sapaannya, “Waduh…. ibu tadi sudah mengkhawatirkan semua keluarga lho…” katanya menerangkan. “Memangnya aku kenapa?” katanya, karena ternyata dia tidak menyadari bahwa dia dalam keadaan tak sadarkan diri sejak pukul 11 pagi kemarin dan sampai pukul 5 pagi ketika itu. Jadi sebenarnya istriku Sun sudah dalam keadaan koma selama 18 jam, pantas saja dia meminta makanan. Lalu suster menyambutnya, “Ntar ya bu… aku ambilkan makanan ya” lalu dia menghilang dibalik pintu.

Aku merasakan doa yang kupanjatkan selama 5 jam itu aku anggap sudah dijawab oleh Tuhan. Saat itu aku meyakini adanya Tuhan yang nyata bekerja dalam kehidupan manusia. Sebentar suster tadi datang mendorong meja makanan dan terhidang menu makanan yang cukup enak kelihatannya. Sun melahap makannya, banyak juga yang dia makan. Tak ada yang lebih bahagia dari diriku pada saat itu karena istriku tercinta sudah ‘bangkit dari kematian’, dan secara fisik Sun hanya menunjukkan dianya dalam keadaan sehat.

Pagi itu juga dokter datang dan menyerahkan sebuah map yang berisi berkas-berkas kronologis perawatan yang dilakukan kepada Sun. “Pak, ibu ini akan dipindahkan ke RS Kanker Dharmais karena disana lebih lengkap peralatannya” demikian kata dokter itu, lalu lanjutnya, “Semuanya sudah dipersiapkan dan dokter disana sudah akan menyambut nanti”, demikian kata dokter lalu beberapa perawat mempersiapkan keberangkatan ke RS Kanker Dharmais. Aku merasa bahwa perawatan di RS Dharmais akan lebih baik karena peralatan yang lebih lengkap dan jaraknyapun lebih dekat dari rumahku yang berada di kawasan Daan Mogot Cengkareng.

Pada hari pertama di RS Dharmais aku sambut dengan bahagia karena merasa doa sudah terkabulkan dan hanya tinggal perawatan saja sebelum pulang untuk kesembuhan. Hari itu aku cukup lama berkonsultasi dengan dokter yang menanganinya.  Mereka sudah menyusun program perawatan yang dilengkapi jadwal pengobatan.

Menurut penjelasan dokter bahwa metode yang dijalankan juga dengan Radio Therapy, dan selama ini Sun sudah juga menjalani beberapakali Chemotherapy yang sangat menyiksa.  Pengetahuanku semakin bertambah dari penjelasan dokter-dokter yang merawat Sun. Ternya metode pengobatan kangker itu adalah dengan metode mematikan jaringan. Jaringan yang hidup dan jaringan yang mati sama-sama dimatikan, lalu jaringan hidup dipicu pertumbuhannya lebih cepat dibanding dengan jaringan penyakit.

Fasilitas yang disediakan di ruang perawatan RS Dharmais cukup memadai dimana disediakan telepon pribadi. Pada saat itu memang masih belum begitu berkembang yang namanya handphone seperti sekarang ini. Sun terlihat banyak tertawa sewaktu bertelepon kepada murit-muritnya. Hampir seluruh muritnya di telepon sambil tak lupa berpesan bahwa dia sebentar lagi akan sembuh dan mereka dapat bertemu kembali.

Yang paling menyedihkan aku rasakan bahwa Sun sangat berkeras hati bahwa dua anak-anak kami tidak diperbolehkannya untuk besuk kepada ibunya karena alasan bahwa rumah sakit adalah gudang penyakit yang dia tak relakan nantinya diderita pula oleh anak-anaknya. Komunikasi hanya dilakukan melalui telepon saja.

Seminggu perawatan berjalan tetapi tidak ada terlihat kemajuan. Sun tetap saja tersiksa menahan penyakitnya. Program biopsi menurut keterangannya akan dilaksanakan. Aku sempat bertanya kepada dokter sebelum menandatanganinya. Menurut keterangan dokter bahwa kangker yang diderita Sun sudah menjalar ke paru-paru dan jantung, padahal selama ini yang diobati adalah kanker payudara. Kekhawatiran kian bertambah tetapi banyak juga teman-teman yang memberi penghiburan sambil menyarankan pengobatan alternatif yang katanya ada yang manjur dan sudah banyak yang disembuhkan.

Setelah seminggu perawatan, rumah sakit mengijinkan untuk pulang sementara dan diberi ijin 2 hari sambil memberikan resep obat yang dipersiapkan. Kesempatan itu aku pergunakan untuk mengunjungi pengobatan alternatif karena desakan yang agak dipaksakan oleh teman karibku itu.

Yang lebih penting lagi bahwa Sun dapat bertemu dengan anak-anak karena dia memang berkeras untuk tidak mengijinkan anak-anak dibawa ke rumah sakit untuk membesuknya. Aku dan Sun tiba di rumah sang shinshe setelah beberapa kali berputar-putar mencari alamat di kawasan Tebet. Setelah tiba giliran, maka aku menceritakan kronologis pengobatan termasuk rencana untuk biopsi yang sudah dijadwalkan. Lalu sang shinshe dengan mimik yang kesal mengatakan “Maaf… kalau biopsi dijalani maka saya tidak bersedia menanganinya” lalu lanjutnya, “Kalau sekali dibiopsi maka saya menjamin tak akan ada harapan.” aku merasa tersinggung juga karena selama ini aku lebih menerima logical science dibanding yang berbau supranatural walaupun metode pengobatan yang dilakukan oleh sang Shinshe adalah dengan herbal.

Program biopsi tetap dijalankan, dan aku sangat berharap dan penuh keyakinan bahwa dokter akan menemukan indikasi bahwa jaringan penyakit sudah menuju kepada kesembuhannya. Kenyataan tidaklah demikian. Kondisi Sun semakin terlihat melemah. Pelupuk mata sudah terlihat semakin menghitam dan bola mata lebih menonjol keluar. Rasa sakit masih menjadi siksaan baginya. Padahal aku sudah menganggap Tuhan telah menjawab doaku. Aku menganggap pemindahan ke RS Dharmais adalah pengobatan pemulihan. Keyakinanku goyah dan aku menyimpulkan pembenaran apa yang dikatakan oleh Shinshe.

Perjalanan dari RS Dharmais menuju rumahku serasa sudah berbulan-bulan flashback ke awal Sun mulai menjalani perawatannya hampir setahun yang lalu. Aku menghentikan motorku dan memarkirnya di depan pintu rumah. Aku sapa anak-anak sambil mengatakan kepada anakku yang sulung, “Ben… ntar bawa adik Ekel Sekolah Minggu ya!, ntar kau minggu remaja sore aja!” demikian kataku, karena biasanya Ekel dihantar oleh mamanya ke gereja untuk bersekolah minggu karena pagi itu tepat hari minggu. “Ya pa… tadi juga mama ada telepoh nyuruh aku membawa Ekel sekolah minggu” katanya mengiyakan. Kok demikian kuatnya kontak bathin kami untuk mengajak anak-anak agar pergi menyembah tuhannya pagi itu.

Siang hari Minggu itu aku hanya dirumah saja bersama anak-anak dan bertelepon kepada Sun bahwa sore aku akan datang agar bisa jaga sampai pagi besoknya. Terdengat suara Sun dari telepon diujung sana, “Ya… nggak apa-apa, ibu (ibu mertua) aja yang jaga sampai sore nanti, jaga anak-anak ya!” demikian katanya terdengar gagang telephon tertutup diujung sana. Demikianlah aku pagi itu menunggu anak-anak pulang dari gereja sementara aku tidak berniat untuk ke gereja pada hari itu dan aku merebahkan tubuhku yang sudah lelah.

Sore itu aku tiba di rumah sakit dan terlihatku beberapa orang saudara yang berkunjung. Terlihat Sun mengerang kesakitan sambil bercerita dengan saudara-saudara itu. Jam 8 malam itu, ibu mertua pulang kerumahnya yang tidak jauh dari Rumah Sakit, sementara saudara-saudara yang berkunjung tadi sudah lebih dulu pulang sebelumnya. Aku menanyakan kepada istriku tercinta agar aku menyuapinya makan karena kondisi fisiknya sebenarnya sudah sangat lemah begitu drop hanya dalam dua minggu itu, bahkan untuk kekamar kecil memang harus dibopong.

Makanan yang disuguhkan sudah sering dimuntahkan. Malam itu berjalan dalam kesunyian yang sangat mencekam karena hanya kami berdua di kamar yang cukup besar itu. Sekitar jam-11 malah Sun terlihat gelisah dan mengerang-erang kesakitan, dia menanyakan jam kepadaku, “Pa…! jam berapa sekarang?”. “Baru jam-11” kataku singkat, lalu dia meminta untuk mengelus-elus punggungnya yang dirasakannya terasa sakit. Lalu kataku, “Sakitnya karena lamah merebah” kataku memberi alasan.

Kemudian dia bertanya lagi, “Sudah jam berapa?” tanyanya lagi. “Baru jam 12” kataku dan kulanjut mengatakan, “Sudah tidur aja ya Sun” kataku membujuknya, dan dijawabnya, “Nanti sekitar jam satu bangunkan ya!” katanya, tetapi kenyataannya dia tidak dapat memicingkan matanya untuk istirahat. Matanya memandang kosong kesudut-sudut ruangan.

Sekitar jam 1 malam dia bertanya lagi, “Pa..! jam berapa sekarang?”. “Sudah jam satu malam, kok dari tadi tanya jam saja sih?” kataku menyelidik. “Tadi bapak datang besuk aku kesini” katanya. Maksudnya adalah bapak mertuaku yang belum sempat aku kenal karena sudah lama meninggal dunia sewaktu kami memulai mahligai rumah tangga.

Pernyataannya semakain mengkhawatirkanku. Sun mengerang-erang kesakitan sambil sesekali minta minum yang kenyataannya langsung saja dikeluarkannya melalui muntahnya. Aku masih terus mengelus-elus tubuhnya yang menurut dia semuanya terasa sangat sakit dan sangat panas.

Pada sekitar jam 3 subuh itu Sun menggelunjak dengan erangan kesakitan. Aku memeluknya sambil mengeluarkan airmata ikut merasakan penderitaannya. Erangannya semakin menjadi-jadi lalu dia memuntahkan darah yang tertumpah disekujur pangkuanku.

Erangannya ada menyebutkan kata-kata yang kurang jelas aku mengerti karena diucapkannya dalam bahasa daerahnya, lalu diapun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tangisku meledak. aku tak kuasa meredam airmata yang bercucuran, Mungkin teriakanku yang keras mengundang para perawat datang menghampiri. “Sun sayangku….. Jangan Pergi, Aku sudah lelah!”

 

Pernah Published on //maridup.multiply.com/journal, Sep 17, ’09 12:03 AM, for everyone.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s